ROSHI Curi Perhatian, Ini Alasan RSI Siti Hajar Sidoarjo Pilih Maskot Roket!
SIDOARJO | Barometerjatim.com – Sejak diluncurkan Agustus 2026, maskot baru Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, ROSHI, cukup mencuri perhatian khalayak. Terlebih kerap terlihat di berbagai event, termasuk Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) beberapa waktu lalu.
Tapi kenapa memilih maskot roket? Direktur Utama RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr Iqbal Faizin menjelaskan gagasan roket berawal dari keinginan menghadirkan simbol yang berbeda dari identitas rumah sakit pada umumnya.
Baca juga: Eri Cahyadi Minta Ruang IGD Puskesmas Dibenahi: Jangan seperti di Film Horor!
Jika selama ini simbol ular yang melilit tongkat atau tongkat Asclepius kerap diasosiasikan dengan dunia kedokteran, RSI Siti Hajar memilih roket sebagai representasi semangat untuk bergerak maju.
“Filosofinya, R = Rumah Sakit Unggul, O = Owner Bangga, K = SDM berKualitas, E = Excellent, T = Terbaik. Jadi, roket itu selalu terbang melesat. Kami ingin RSI Siti Hajar juga terus bergerak maju dan berkembang,” ujarnya saat Media Gathering di Sidoarjo, Jumat (16/10/2026).
Bagi Iqbal, filosofi tersebut bukan sekadar pemanis visual. Roket menggambarkan tekad rumah sakit untuk terus tumbuh, memperbaiki kualitas layanan, dan berani melangkah menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin dinamis.
Ada hal menarik dari sosok ROSHI. Maskot ini tidak hanya mengambil bentuk roket, tetapi juga dirancang sebagai karakter perempuan. Pilihan tersebut memiliki alasan tersendiri.
Karakter Perempuan
Iqbal menjelaskan, karakter perempuan dipilih sebagai representasi identitas lokal Sidoarjo. Nama ROSHI pun menegaskan keterikatan maskot tersebut dengan daerah tempat RSI Siti Hajar tumbuh dan melayani masyarakat.
Melalui karakter yang lebih bersahabat dan mudah dikenali, rumah sakit ingin menghadirkan identitas yang terasa lebih dekat dengan pasien, keluarga, dan masyarakat luas.
"ROSHI diharapkan dapat menjadi wajah yang ramah di tengah lingkungan rumah sakit yang sering kali identik dengan suasana serius, kecemasan, dan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan," harapnya.
Sebab, bagi seseorang yang datang ke rumah sakit, pelayanan tidak hanya berkaitan dengan obat, pemeriksaan, atau tindakan medis. Pengalaman, kenyamanan, dan rasa percaya juga menjadi bagian penting dari perjalanan pasien.
ROSHI pun diharapkan tidak berhenti sebagai ornamen atau simbol dalam materi promosi, melainkan menjadi representasi semangat pelayanan yang ingin dibangun RSI Siti Hajar.
Baca juga: Cegah Penularan Campak dan Potensi KLB, Ini yang Dilakukan Pemkot Surabaya!
Di balik bentuknya yang sederhana dan mudah dikenali, konsep roket juga merefleksikan nilai-nilai yang ingin diperkuat RSI Siti Hajar.
Iqbal menjelaskan bahwa identitas tersebut berkaitan dengan cita-cita rumah sakit untuk menjadi institusi kesehatan yang unggul, didukung sumber daya manusia berkualitas, memberikan pelayanan terbaik, dan memiliki pengelolaan keuangan yang baik.
Kualitas Layanan
Sejalan dengan Transformasi Pelayanan Rumah Sakit, kehadiran ROSHI juga berada dalam konteks upaya RSI Siti Hajar memperkuat kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.
Rumah sakit ini terus mengembangkan berbagai layanan, termasuk Klinik Haji dan Umrah yang dirancang untuk membantu calon jamaah mempersiapkan kondisi kesehatannya sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Selain itu, RSI Siti Hajar mengembangkan program Basecamp Juara, sebuah layanan yang mengintegrasikan dokter spesialis anak, dokter spesialis kesehatan jiwa, dan psikolog.
Baca juga: Khofifah Beber Keberhasilan Nawa Bhakti Satya di Hari Jadi ke-81 Jatim, Apa Saja?
Program ini ditujukan untuk membantu anak dan remaja, khususnya siswa SMA, mengenali potensi diri melalui pemeriksaan kesehatan, tes IQ, serta asesmen minat dan bakat.
Iqbal menilai pendekatan lintas disiplin tersebut penting karena perkembangan anak dan remaja perlu dipahami secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan fisik maupun psikologis.
“Anak SMA juga masih anak-anak. Karena itu, pemeriksaannya tidak hanya melihat satu aspek, tetapi kami integrasikan antara dokter spesialis anak, spesialis kesehatan jiwa, dan psikolog,” tuturnya.{*}
| Baca berita Kesehatan. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur