Pakar Geologi: Patahan Surabaya Hasilkan Gempa Skala Mikro, Bukti Status Aktif!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Pakar Geologi, Dr Amien Widodo menjelaskan hasil riset terbaru Pemkot Surabaya bersama tim ahli geologi, terkait keberadaan dua patahan atau sesar aktif dari sistem Sesar Kendeng yang melintasi Surabaya, yaitu Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
Menurutnya, kedua patahan memiliki karakteristik patahan naik (thrust fault). Aktivitas geologis ini ditandai dengan adanya dorongan dari bawah permukaan bumi, yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah dan membentuk bukit-bukit memanjang di wilayah kota.
Baca juga: Kasus Korupsi KBS Rp 10,2 Miliar, Penyimpangan Berawal dari Temuan Dewas!
"Patahan Surabaya menyebabkan munculnya perbukitan yang memanjang dari kawasan Wonokitri, Mayjen Sungkono, hingga ke Cerme,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
“Sedangkan Patahan Waru mendorong ke atas dan membentuk gundukan bukit dari wilayah Karangpilang, Nganjuk, hingga terus memanjang jauh ke barat," jelas Amien.
Lebih lanjut, riset ini juga mencatat tingkat pergerakan dari masing-masing patahan. Patahan Surabaya teridentifikasi bergerak dan terdorong sekitar 4 sentimeter per tahun, sedangkan Patahan Waru bergerak sekitar 3 sentimeter per tahun.
Pergerakan aktif dari kedua sesar ini terus menghasilkan gempa-gempa berskala mikro, dengan rentang magnitudo 1 hingga 3.
Meski getarannya sangat kecil dan kerap tidak dirasakan langsung oleh masyarakat, aktivitas mikro ini menjadi bukti valid bahwa sistem sesar tersebut berstatus aktif dan terus bergerak.
Pasang Seismograf
Sebagai langkah mitigasi bencana, pihak berwenang menegaskan pentingnya pemantauan (monitoring) secara terus-menerus. Rencana saat ini, sejumlah instrumen seismograf akan dipasang di berbagai titik di sekitar patahan dan wilayah Surabaya.
Baca juga: Lomba Kampung Pancasila, 1.360 RW di Surabaya Siap Suguhkan Wilayah Terbaik!
"Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real time,” ujar Amin.
“Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan," imbuhnya.
Selain menggandeng pakar geologi, Pemkot Surabaya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan edukasi dan pelatihan mitigasi bencana sejak dini, untuk mengantisipasi potensi risiko gempa bumi dari keberadaan kedua patahan tersebut.
"Upaya mitigasi ini kita lakukan mulai dari usia dini, dari tingkat PAUD hampir setiap hari kita latih, lalu ke sekolah-sekolah dari SD, SMP, hingga SMA," terang Kepala BPBD Surabaya, Irvan Widyanto.
Dia menjelaskan, materi edukasi berfokus pada langkah penyelamatan diri, penentuan titik kumpul, hingga bantuan untuk keluarga saat gempa terjadi. Masyarakat diimbau tidak panik dan berlari sembarangan saat gempa, melainkan menerapkan prinsip hold and cover.
Baca juga: Ada Peran Penting Call Taker di Balik Layanan CC 112 Surabaya, Apa Itu?
"Yang utama adalah hold and cover, mencari benda untuk menutupi kepala dan leher, berlindung di bawah meja, atau di area triangle of life (segitiga kehidupan),” kata Irvan.
“Selain ke sekolah, penyisiran edukasi mitigasi juga terus kami jalankan setiap hari ke pesantren, rumah sakit, gedung bertingkat, hingga ke masyarakat melalui Kampung Pancasila," tambahnya.{*}
| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur