Hari Batik Nasional, Bupati Tuban Ajak Rawat Warisan dan Hidupkan Batik Gedog!
TUBAN | Barometerjatim.com – Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky mengajak masyarakat untuk kembali meneguhkan kecintaan terhadap batik sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia di momen Hari Batik Nasional.
Kecintaan tersebut, salah satunya diwujudkan melalui pelestarian batik tulis tenun gedog yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Tuban.
Baca juga: Kriyanusa 2026, Dekranasda Tuban Juara 1 Kriya Potensial Kategori Serat Alam
Dia juga menegaskan, batik tidak semestinya hanya hadir dalam agenda seremonial. Lebih dari itu, batik perlu terus dikenakan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Batik bukan sekadar kain atau busana. Di dalamnya ada cerita, proses, ketekunan, dan identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, memakai batik juga menjadi bagian dari cara kita menjaga warisan budaya,” ujarnya, Kamis (9/10/2026).
Menurut bupati yang akrab disapa Lindra tersebut, batik tulis tenun gedog memiliki keunikan tersendiri karena proses pembuatannya memiliki keterkaitan erat dengan tradisi menenun masyarakat Tuban.
Kekhasan tersebut menjadi nilai penting yang perlu terus dirawat, sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Batik gedog memiliki cerita yang panjang. Mulai dari proses menenun, membuat motif, hingga menjadi sebuah karya yang bisa dikenakan. Inilah kekayaan yang harus kita rawat, tetapi juga harus kita hidupkan agar terus berkembang,” ucapnya.
Pelestarian batik, tandas Lindra, tidak berarti harus mempertahankan penggunaannya dalam bentuk yang sama. Kreativitas dan inovasi justru diperlukan agar batik gedog dapat hadir dalam berbagai bentuk produk yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda.
Baca juga: Geger Polusi Debu Tambang Semen Tuban, DPRD: Pemkab Harus Terjun ke Warga!
“Warisan budaya akan tetap hidup ketika generasi penerus merasa dekat dan bangga dengannya,” ujarnya.
Karena itu, dia memberi ruang bagi kreativitas anak-anak muda untuk mengembangkan batik gedog menjadi berbagai karya dan fashion yang sesuai dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan karakter dan identitasnya.
Lindra menambahkan, upaya memperkenalkan batik tulis tenun gedog juga terus dilakukan Pemkab Tuban melalui berbagai ruang promosi dan pengembangan ekonomi kreatif.
Terbaru, Dekranasda Tuban membawa batik tulis tenun gedog, kain tenun gedog, serta sejumlah produk turunannya dalam ajang Kriyanusa 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), 26-30 September 2026.
Baca juga: Peresmian Gedung Baznas, Pemkab Tuban Santuni 2.000 Yatim Piatu dan Dhuafa
“Ketika batik terus berkembang, yang kita jaga bukan hanya motif dan kainnya. Kita juga menjaga keberlangsungan para perajin, membuka peluang ekonomi, dan memastikan bahwa identitas Tuban tetap dikenal lebih luas,” jelasnya.
“Kalau kita ingin batik gedog terus hidup, mari kita mulai dari diri kita sendiri. Bangga memakai, bangga membeli, dan bangga memperkenalkan karya perajin Tuban. Dengan begitu, warisan ini tidak hanya kita jaga, tetapi juga kita hidupkan untuk generasi mendatang,” imbuhnya.{*}
| Baca berita Pemkab Tuban. Baca tulisan terukur Hamim Anwar | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur