Masih Ada Siswa SDN di Surabaya Belajar Lesehan, Ini Perintah Eri Cahyadi ke Dindik!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mendapati siswa SDN Semolowaru IV belajar dengan duduk lesehan di perpustakaan lantaran tidak tersedia bangku saat melakukan peninjauan, Rabu (7/10/2026).
Peninjauan dilakukan, setelah dia menerima laporan warga melalui hotline Lapor Cak Eri mengenai siswa yang terpaksa belajar di luar ruang kelas akibat keterbatasan fasilitas.
Baca juga: Berkat Bunda Jelita, Orang Tua di Surabaya Kian Mudah Urus Dokumen Bayi!
Dari total 12 rombongan belajar (rombel), SDN Semolowaru IV hanya memiliki 8 ruang kelas. Akibatnya, 4 rombel harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari. Sebagian siswa, bahkan terpaksa belajar di perpustakaan dengan duduk lesehan karena tidak tersedia bangku.
"Saya datang ke SDN Semolowaru IV untuk mengecek langsung terkait bangku dan fasilitas sekolah. Ternyata di sini terdapat 12 rombongan belajar, tetapi ruang kelas yang tersedia hanya 8. Akibatnya, ada 4 rombel yang harus masuk siang," tuturnya, Minggu (11/10/2026).
Selain keterbatasan ruang kelas, Eri mendapati perpustakaan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar tidak dilengkapi bangku. Kondisi bangku dan kursi siswa yang sebagian masih terbuat dari kayu dan berlubang juga menjadi perhatian.
"Karena tidak ada ruang kelas, kegiatan belajar mengajar dilakukan di perpustakaan. Di perpustakaan juga tidak tersedia bangku, sehingga para siswa harus belajar dengan duduk lesehan," katanya.
Kebutuhan Sarpras
Menindaklanjuti temuan tersebut, Eri meminta Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya mengevaluasi kebutuhan sarana dan prasarana (sarpras) di sekolah negeri. Dia juga menekankan pentingnya memprioritaskan anggaran untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, seperti ruang kelas dan kamar mandi.
"Daripada mengadakan berbagai kegiatan yang membebani wali murid, lebih baik anggaran diprioritaskan untuk membenahi sarana dan prasarana terlebih dahulu, seperti ruang kelas dan kamar mandi," tegasnya.
Menurut Eri, ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai penting untuk menunjang kenyamanan belajar sekaligus mendukung prestasi siswa. Karena itu, dia meminta agar kebutuhan sekolah menjadi perhatian dalam upaya pembenahan fasilitas pendidikan di Surabaya.
"Saya minta maaf karena masih ada gedung pendidikan negeri di Surabaya yang kondisinya seperti ini, padahal berada di bawah naungan Pemkot Surabaya. Fasilitas ini akan berpengaruh terhadap prestasi anak-anak. Ini anak-anak Surabaya, prestasinya harus bagus," ujarnya.
Baca juga: Sisihkan 14 Finalis, Aldo dan Rara Terpilih Jadi Cak dan Ning Surabaya 2026!
Eri menargetkan pembenahan seluruh SD dan SMP negeri di Surabaya pada 2027. Perbaikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarpras, sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih nyaman.
"Insyaallah pada 2027, semua sekolah negeri, baik SD maupun SMP, akan saya benahi. Jadi, anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan prestasinya juga bisa semakin baik," ujarnya.
Sudah Ajukan
Sementara itu Kepala SDN Semolowaru IV Surabaya, Novita Aprilianti mengatakan pihak sekolah telah berupaya mengoptimalkan fasilitas yang tersedia, termasuk melalui pengaturan jadwal pembelajaran. Namun keterbatasan sarpras membuat sekolah belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan siswa.
"Sebenarnya kami sudah semampu mungkin untuk memanfaatkan apa yang sudah ada, dengan mengatur jadwal dan lain sebagainya,” ucapnya.
“Tapi kalau sudah terkendala tentang sarpras, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi. Yang bisa kita upayakan adalah mengirim e-surat untuk kekurangan-kekurangan yang ada," imbuhnya.
Baca juga: DLH Surabaya Turun ke Kenjeran, Ajak Anak-anak Pesisir Jaga Kebersihan Pantai!
Novita menjelaskan, pihak sekolah telah mengajukan penggantian bangku dan kursi yang kondisinya sudah tidak layak sejak Maret. Namun pengajuan tersebut belum terealisasi.
"Contohnya seperti yang dikeluhkan oleh Bapak (Wali Kota Eri), yaitu bangku kursi yang masih kayu dan masih ada lubang-lubang. Itu sudah kami lakukan di bulan Maret untuk pengajuan, tapi sampai sekarang juga belum ada," ungkapnya.
Selain keterbatasan ruang kelas dan fasilitas belajar, Novita menyebut SDN Semolowaru IV juga masih kekurangan guru. Kondisi tersebut membuat sejumlah guru harus menangani tugas mengajar tambahan.
"Selain itu kami juga kekurangan tiga guru. Jadi, masih banyak guru yang dobel untuk mengajarnya," bebernya.{*}
| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur