Banyuwangi Punya Museum Baru, Sajikan Ribuan Koleksi Bersejarah Terkait Blambangan

Reporter : Andriansyah  |   Minggu, 19 Mei 2024 21:43 WIB
OMAHSEUM: Bupati Ipuk Fiestiandani mengapresiasi inisiatif pendirian museum Omahseum. | Foto: HPB

BANYUWANGI | Barometer Jatim – Momen Hari Museum Sedunia yang diperingati setiap 18 Mei berlangsung istimewa di Banyuwangi. Hal itu karena bersamaan dengan dibukanya museum baru, yang menyajikan sejumlah koleksi bersejarah terkait dengan Blambangan sejak abad ke-13.

Museum tersebut bernama Omahseum yang beralamat di Jalan Widuri 21, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, diinisiasi kolektor bernama Thomas Racharto.

Baca juga: 4.888 Honorer Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu, Total ASN Banyuwangi Capai 15.411!

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang meresmikan Omahseum mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi sarana edukatif dan destinasi wisata baru.

“Saya sangat senang atas inisiatif Pak Thomas Racharto dan keluarga. Ini dedikasi yang penting untuk wahana edukasi dan wisata sejarah, bagi siapa saja yang ingin mengenal Banyuwangi,” ucapnya, Minggu (19/5/2024).

Ipuk menyebutkan, pemerintah daerah siap untuk mengintegrasikan Omahseum dalam program-program promosi pariwisata di ujung timur Jawa ini. Apalagi, letak Omahseum yang berada di jalur wisata menuju ke Ijen dan Desa Adat Osing Kemiren.

“Masyarakat bisa menikmati sejumlah museum. Selain Museum Blambangan dan Museum PIGGI (Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen) juga bisa ke Omahseum,” jelas Ipuk.

Thomas sendiri adalah seorang kolektor yang banyak mengoleksi benda-benda kuno sejak 1971. Setelah bergelut puluhan tahun, dia memiliki tak kurang dari 1.200 koleksi.

Baca juga: Penuh Haru! 4.888 Tenaga Honorer Banyuwangi Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu

Ribuan artefak Balambangan kuno seperti lingga, kendi, manik-manik, kitab kuno, keris, pedang, sampai fosil-fosil tersaji di Omahseum. Salah satunya yang menarik adalah naskah kuno Lontar Sritanjung.

“Ini akan diajukan oleh Perpustakaan Daeran sebagai IKON (Ingatan Kolektif Nasional) ke Perpustakaan Nasional,” ungkapnya.

Lontar Sritanjung merupakan naskah yang diyakini sebagai legenda asal usul nama Banyuwangi. Naskah ini merupakan koleksi langka dan memiliki arti penting bagi sejarah dan kepercayaan masyarakat Blambangan.{*}

Baca juga: Malam Tahun Baru, Pemkab Banyuwangi Larang Warganya Pesta Kembang Api!

| Baca berita Banyuwangi. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer