Tumpeng Sewu Kemiren, Simbol Kekuatan Gotong Royong dan Budaya Banyuwangi

Reporter : Andriansyah  |   Jumat, 22 Mei 2026 00:25 WIB
TUMPENG SEWU: Bule ikut menikmati makan tumpeng bersama dalam gelaran tradisi Tumpeng Sewu. | Foto: Humas BWI

BANYUWANGI | Barometerjatim.com – Ribuan warga maupun wisatawan domestik dan mancanegara memadati jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (21/5/2026) malam.

Mereka berjubel menikmati makan tumpeng bersama lewat suasana guyub dan penuh kebersamaan, dalam gelaran tradisi Tumpeng Sewu.

Baca juga: 47 Ribu Wisatawan Serbu Banyuwangi, Hutan De Djawatan Terbanyak Dikunjungi!

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang turut hadir menikmati tumpeng bersama masyarakat menilai tradisi ini menjadi salah satu simbol kekuatan budaya lokal Banyuwangi. 

“Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan terus kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan,” ujarnya.

Ipuk mengapresiasi komitmen masyarakat Osing Kemiren yang terus menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, keterlibatan warga secara sukarela menyiapkan ribuan tumpeng untuk dinikmati bersama menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial masyarakat.

Tumpeng Sewu merupakan ritual turun-temurun masyarakat Osing sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini rutin digelar setiap tahun sepekan sebelum Hari Raya Idul Adha.

Lauk Khas Osing

Dalam pelaksanaannya, warga menyajikan ribuan tumpeng lengkap dengan lauk khas Osing berupa pecel pitik dan lalapan. Pecel pitik merupakan olahan ayam kampung panggang yang dipadu dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing, menu wajib dalam tradisi tersebut.

Tak hanya warga lokal, wisatawan juga ikut menikmati suasana kebersamaan yang tercipta selama acara berlangsung.

“Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” kata Adam, wisatawan asal Republik Ceko.

Baca juga: KAI Luncurkan KA Sangkuriang Rute Bandung-Banyuwangi, Jamin Kenyamanan 17,5 Jam!

“Warganya rukun dan guyub. Masakannya juga lezat. Tadi sampai nambah dua kali,” timpal Ati, pengunjung asal Semarang, Jawa Tengah.

Sebelum prosesi makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa. Barong diberangkatkan dari dua arah berbeda, timur dan barat, lalu bertemu di depan Balai Desa Kemiren.

BERSAMA WARGA: Bupati Ipuk turut hadir dalam gelaran tradisi Tumpeng Sewu di Desa Kemiren. | Foto: Humas BWI

Warga kemudian menggelar doa bersama, memohon keselamatan serta dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Rangkaian tradisi juga diisi ritual Mepe Kasur dan Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk. Tradisi pembacaan naskah kuno tentang kisah Nabi Yusuf tersebut, diyakini sebagai bentuk selamatan dan tolak bala.

Baca juga: Banyuwangi Gratiskan PBB 6.836 Warga Miskin, Data Merujuk DTSEN Kemensos!

“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” ujar Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin.

Pelestarian budaya yang konsisten membuat Desa Kemiren mendapat berbagai penghargaan nasional hingga internasional. Pada 2025, meraih The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang ASEAN Tourism Award di Malaysia.

Di tahun yang sama, Desa Kemiren masuk jaringan desa wisata terbaik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, meraih juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 kategori Kelembagaan dan SDM dari Kementerian Pariwisata.{*}

| Baca berita Banyuwangi. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer