Jatim Tuan Rumah Soekarno Cup 2026, PDIP Libatkan Wasit Perempuan!

Reporter : Andriansyah  |   Selasa, 04 Agu 2026 19:37 WIB
KESETARAAN: Soekarno Cup, PDIP libatkan wasit dan pengawas pertandingan perempuan. | Foto: Barometerjatim.com/BKT

SURABAYA | Barometerjatim.com – Sukses menjuarai kompetisi Soekarno Cup di 2025, Jawa Timur kini dipercaya menjadi tuan rumah. Turnamen sepak bola U-17 yang digagas PDI Perjuangan ini digelar pada 10-24 Agustus 2026 dan diikuti 16 tim (provinsi) dengan 400 talenta muda se-Indonesia.

"Ini adalah yang ketiga. Artinya PDI Perjuangan telah melaksanakan Soekarno Cup U-17 2026 ini yang ketiga (di Jatim) yang artinya tiga tahun berturut-turut," terang Panitia Penyelenggara, Ono Surono saat menggelar konferensi pers di Surabaya, Selasa (4/8/2026).

Baca juga: Atasi Banjir Rob, DPRD Surabaya Dorong Percepatan Proyek Pintu Air Kali Jagir

Sebelumnya, ajang kompetisi dengan total hadiah Rp 325 juta dengan rincian Rp 150 juta (juara 1), Rp 100 juta (juara 2), dan Rp 75 juta (juara 3) plus uang pembinaan tersebut, sukses digelar di Jakarta pada 2024 dan Bali pada 2025.

"Tentunya ini komitmen yang akan terus dilaksanakan oleh PDI Perjuangan untuk tahun-tahun berikutnya," tandas Ono.

Tahun ini, katanya, turnamen pembinaan sepak bola usia muda merebutkan Soekarno Cup digelar di tiga kota di Jatim, yakni Surabaya, Gresik, dan Bangkalan.

"Di 2026 ini Jawa Timur sebagai tuan rumahnya, dengan catatan tahun 2025 lalu Jawa Timur menjadi juara," ucapnya. 

Komitmen Kesetaraan

Sementara Deni Wicaksono selaku pengarah panitia menuturkan, Soekarno Cup U-17 akan melibatkan wasit perempuan dan perangkat pertandingan perempuan sebagai komitmen nyata terhadap kesetaraan kesempatan di semua bidang, termasuk olahraga.

Keputusan tersebut, kata Deni, menjadi bagian dari semangat Soekarno Cup untuk membangun ekosistem sepak bola yang inklusif, profesional, dan memberikan ruang yang sama bagi setiap individu yang memiliki kompetensi tanpa memandang jenis kelamin.

TIGA KOTA: Soekarno Cup 2026 digelar di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan. | Foto: Barometerjatim.com/BKT

Dia menegaskan, kehadiran perempuan sebagai bagian dari perangkat pertandingan bukan sekadar memenuhi aspek representasi, melainkan merupakan bentuk kepercayaan terhadap kemampuan profesional mereka.

"Sepak bola adalah ruang prestasi. Siapa pun yang memiliki kapasitas, integritas, dan kompetensi berhak mendapatkan kesempatan yang sama," kata Deni.

Pelibatan wasit perempuan dan perangkat pertandingan seperti match commissioner atau pengawas pertandingan, lanjutnya, merupakan wujud kepercayaan bahwa perempuan mampu berkiprah dan memberikan kontribusi penting dalam dunia olahraga. 

Baca juga: VIDEO: Puti Guntur Warning Keras PDIP Sidoarjo: Jangan Mencla-mencle!

"Termasuk pada aspek kepemimpinan di lapangan," sambung Deni yang juga Wakil Ketua DPRD Jatim.

Soekarno Cup sendiri merupakan turnamen rutin yang digelar untuk mewadahi talenta muda daerah, sekaligus saling dukung dengan turnamen resmi lainnya, seperti Piala Soeratin dan Elite Pro Academy (EPA) untuk memperkuat ekosistem pembinaan sepak bola usia muda.

Miliki Lisensi Nasional

Secara filosofis, menurut Deni, Soekarno Cup membawa semangat bahwa sepak bola tidak boleh menjadi ruang eksklusif bagi kelompok tertentu. Tapi harus menjadi wadah yang membuka kesempatan seluas-luasnya berdasarkan kualitas dan dedikasi.

"Ketika perempuan dipercaya memimpin jalannya pertandingan, kita sedang memberikan teladan kepada generasi muda bahwa kepemimpinan lahir dari kompetensi, bukan dari jenis kelamin," tandasnya.

Deni menjelaskan, wasit perempuan yang ditugaskan telah memiliki lisensi nasional, dan telah dipercaya memimpin laga intensitas tinggi seperti final Piala Pertiwi Allstar, Piala Soeratin, dan berbagai ajang resmi PSSI tingkat provinsi maupun nasional. 

Demikian pula match commissioner perempuan yang bakal terlibat dalam Soekarno Cup telah memiliki sertifikasi pengawas pertandingan resmi dari PSSI.

Baca juga: Puti Guntur: Surabaya-Sidoarjo Bukan Dapil Neraka tapi Dapil Besi!

Wakil Ketua Panitia Pelaksana Jatim, Eri Irawan menambahkan, nilai yang dibawa Soekarno Cup sejalan dengan upaya membangun budaya sepak bola Indonesia yang modern dan berorientasi pada meritokrasi. Dari sisi teknis, pelibatan wasit perempuan, dilakukan berdasarkan standar kompetensi yang berlaku. 

"Seluruh perangkat pertandingan yang bertugas telah melalui proses penugasan sesuai kualifikasi, pengalaman memimpin pertandingan, pemahaman terhadap laws of the game, serta kesiapan fisik dan mental dalam mengawal jalannya pertandingan," ujarnya.

Selain untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan turnamen, pelibatan wasit maupun perangkat pertandingan lainnya dari kalangan perempuan diharapkan dapat memperluas kesempatan bagi kaum Hawa untuk meniti karier. 

"Baik di bidang perwasitan maupun profesi lain dalam industri sepak bola nasional," pungkas Eri yang juga anggota DPRD Surabaya.{*}

| Baca berita PDIP. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer