Bantuan Rutilahu di Surabaya, Eri Cahyadi Tak Berpatokan Data Desil!

Reporter : -
Bantuan Rutilahu di Surabaya, Eri Cahyadi Tak Berpatokan Data Desil!
BANTUAN RUTILAHU: Eri Cahyadi berkunjung ke rumah Sumaiyah, tak berpatokan data desil. | Foto: Pemkot Surabaya

SURABAYA | Barometerjatim.com – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan pemberian bantuan sosial seperti renovasi rumah tidak layak huni (Rutilahu) tidak semata-mata berpatokan pada data desil. 

Kondisi riil warga di lapangan juga menjadi pertimbangan, seperti yang terjadi pada Sumaiyah, lansia di Wonorejo III, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari.

Sumaiyah tetap mendapatkan bantuan perbaikan rumah meski tercatat dalam desil 4. Keputusan tersebut diambil Eri setelah melihat langsung kondisi rumah dan kehidupan Sumaiyah.

Kondisi Sumaiyah diketahui setelah seorang warga melaporkan melalui Hotline Lapor Cak Eri, bahwa tetangganya tersebut membutuhkan bantuan perbaikan rumah. 

Eri kemudian turun langsung untuk memastikan. Menurutnya, kondisi lansia yang tinggal sendiri tersebut menjadi pertimbangan penting dalam menentukan bantuan, meski program Rutilahu selama ini diprioritaskan bagi warga yang masuk desil 1 dan 2.

"Akhirnya saya putuskan karena dia lansia dan tinggal sendiri, saya turun langsung. Karena rumah ini tidak mungkin ada yang memperbaiki, karena dia tinggal sendiri," tuturnya.

Lihat Menyeluruh

Menurut Eri, kasus Sumaiyah menunjukkan pentingnya melihat kondisi warga secara menyeluruh. Sebab, posisi seseorang dalam kelompok desil dapat dipengaruhi sejumlah indikator, termasuk daya listrik dan kepemilikan aset.

"Ternyata dalam perhitungan desil itu kalau listriknya 900 VA dia pasti akan naik (dari) desil 1-2. Dia pasti masuk ke desil yang lebih tinggi, karena yang dianggap tidak mampu adalah ketika listriknya 450 VA," paparnya.

Selain daya listrik, Eri mengungkap, kepemilikan aset rumah juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi posisi desil seseorang.

"Kalau rumahnya itu miliknya sendiri, maka desilnya juga akan ikut naik. Kalau yang seperti ini (Sumaiyah) bagaimana rek? Tidak mungkin rumahnya dibangun atau diperbaiki karena tidak ada yang bekerja di sana," katanya.

Karena itu, Eri menegaskan data desil perlu dilihat bersama kondisi faktual warga. Menurutnya, warga yang berada dalam desil 4 atau 5 tidak otomatis berarti tidak membutuhkan bantuan.

Eri menjelaskan, data desil dihitung Badan Pusat Statistik (BPS), bukan Pemkot Surabaya. Data tersebut disusun berdasarkan sejumlah indikator kondisi sosial ekonomi masyarakat. 

"Misalnya orang yang tidak memiliki rumah dan tidak memiliki kendaraan masuk desil paling rendah, yaitu desil 1. Kemudian yang memiliki kendaraan naik ke desil 2, dan yang memiliki aset berupa rumah naik ke desil 3," bebernya.

Untuk memastikan warga yang membutuhkan tidak terlewat dalam pemberian bantuan, Eri meminta perangkat wilayah melakukan pengecekan secara lebih detail terhadap kondisi warganya. 

Sementara itu Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, Iman Krestian mengatakan, perbaikan rumah Sumaiyah akan menyasar sejumlah bagian bangunan. 

Pekerjaan tersebut meliputi peninggian lantai, perbaikan toilet, peninggian atap, penyesuaian kusen, serta perbaikan area mezzanine.

Kondisi konstruksi atap rumah Sumaiyah juga menjadi perhatian, karena sebagian bangunan sudah cukup rapuh dan perlu segera dibenahi. 

"Bisa kelihatan ini area konstruksi atapnya juga lumayan sudah rapuh, itu yang akan kita benahi," ujarnya.{*}

| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.