Eri Cahyadi Gencar Cek RSUD Soewandhie, Layanan IGD hingga Farmasi Mulai Jempolan!

Reporter : Andriansyah  |   Minggu, 09 Agu 2026 22:49 WIB
2 JEMPOL: Wali Kota Eri Cahyadi kembali mengecek layanan di RSUD Soewandhie, mulai berbenah. | Foto: Pemkot Surabaya

SURABAYA | Barometerjatim.com – Tak sebatas melakukan inspeksi mendadak (sidak) RSUD Dr Mohamad Soewandhie usai menerima keluhan warga melalui kanal pengaduan. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi juga kembali mengecek perubahan pelayanan pasca sidak.

Hasilnya, sejumlah evaluasi yang disampaikan kepada manajemen mulai menunjukkan perubahan, terutama pada layanan farmasi, antrean pasien, dan pengelolaan Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Baca juga: Tak Ada Ampun! Eri Cahyadi Pecat Oknum Dishub-Satpol PP Surabaya Tipu Rp 20 Juta

Dalam pengecekan terbaru tersebut, Eri meninjau langsung sejumlah titik pelayanan, mulai dari IGD, ruang tunggu hingga farmasi. Dia menyebut beberapa catatan yang ditemukan saat sidak sebelumnya, kini telah ditindaklanjuti manajemen rumah sakit.

“Saya sudah mengecek lagi pelayanan di RS Soewandhie. Alhamdulillah, beberapa evaluasi yang dulu saya temukan saat sidak, sekarang sudah dijalankan manajemen,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).

Salah satu perubahan yang mendapat perhatian Eri yakni layanan farmasi. Dia melihat antrean pengambilan obat sudah jauh lebih terkendali setelah jumlah petugas ditambah, dari sebelumnya 9 kini menjadi 18.

Menurut Eri, penambahan tenaga tersebut bentuk kehadiran pemerintah dalam memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat. Dia menegaskan, pelayanan publik tidak boleh semata-mata dihitung berdasarkan untung dan rugi.

“Untuk pelayanan publik, pemerintah harus hadir. Tidak bisa di hitung untung-rugi. Farmasi yang dulu petugasnya 9, sekarang menjadi 18 petugas, sehingga sekarang tidak ada pasien yang mengantre,” ujarnya.

Lalu pada bagian IGD, Eri meminta manajemen memastikan ketersediaan tempat tidur dapat dipantau dengan jelas. Ruang yang masih tersedia maupun yang sudah penuh harus diketahui secara cepat, sehingga pasien dapat segera diarahkan ke fasilitas kesehatan lain apabila kapasitas IGD penuh.

“Di ruang IGD harus ada monitor, kamar mana yang kosong, kamar yang penuh mana. Kalau kamar penuh, ya harus di rujuk. Tidak boleh pasien menumpuk di IGD, pelayanan harus maksimal,” ujarnya.

Baca juga: Marak Pencurian Fasum di Surabaya, DLH: 1 Kursi Besi Rp 3 Juta, Tidak Murah!

Selain IGD dan farmasi, Eri mengevaluasi pengaturan ruang tunggu. Pasien yang telah mendaftar melalui layanan e-health, diminta mengikuti jadwal yang telah ditentukan agar tidak terjadi penumpukan. 

Sedangkan pasien yang datang langsung tanpa mendaftar melalui e-health, diarahkan ke mekanisme pelayanan tersendiri dan dilayani setelah antrean pasien terjadwal selesai.

Pengaturan tersebut, tandas Eri, bukan untuk membatasi akses masyarakat, melainkan memastikan antrean berjalan tertib dan pasien yang telah memiliki jadwal tidak terserobot oleh pasien yang datang tanpa pendaftaran sebelumnya. 

Sebelumnya, Pemkot Surabaya memang telah melakukan penataan sistem antrean di RSUD Soewandhie untuk mengurangi kepadatan ruang tunggu. 

Eri menegaskan, pengecekan langsung ke lapangan bukan bertujuan mencari kesalahan. Dia ingin setiap keluhan warga yang masuk melalui kanal pengaduan, menjadi dasar untuk menemukan solusi dan memperbaiki pelayanan.

Baca juga: Raih 2 Penghargaan Nasional, Surabaya Buktikan 1 Data NIK Pacu Pertumbuhan Ekonomi

“Saya selalu percaya kalau nakes (tenaga kesehatan) Soewandhie terus berusaha maksimal memberi pelayanan yang terbaik. Saya juga berusaha mendengarkan keluhan pasien yang masuk lewat hotline,” ucapnya.

Dia juga mengapresiasi manajemen RSUD Soewandhie dan seluruh nakes yang telah menindaklanjuti evaluasi tersebut. Menurutnya, kritik yang disampaikan saat sidak merupakan bagian dari upaya bersama untuk memperbaiki pelayanan.{*}

| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer