DKS Berubah Jadi Dewan Kebudayaan Surabaya, Seniman Sambut Hangat!

Reporter : Andriansyah  |   Sabtu, 18 Apr 2026 22:22 WIB
POSTIF: Heroe Budiarto (kiri) dan Muit Arsa, sambut hangat DKS bertransformasi jadi Dewan Kesenian Surabaya. | Foto: IST

SURABAYA | Barometerjatim.com – Kalangan seniman menyambut hangat rencana Pemkot Surabaya mentransformasi Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya. Perubahan ini, dipandang sebagai langkah untuk memperluas cakupan dari sekadar seni menuju ekosistem kebudayaan yang lebih menyeluruh.

Pegiat seni teater sekaligus Ketua Umum Bengkel Muda Surabaya (BMS), Heroe Budiarto melihat kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya menyesuaikan arah pembangunan kebudayaan nasional.

Baca juga: Inovasi Surabaya Nonaktifkan NIK Penunggak Nafkah Dilirik MA, Kaji Dipakai Nasional!

"Menurut saya bagus. Karena pemerintah melaksanakan daripada amanat Undang-Undang (UU) Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017. Bahwa pemerintah kota, provinsi, itu mengamanatkan agar pemerintah membentuk lembaga kebudayaan yang bernama Dewan Kebudayaan," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Heroe menilai, kebijakan ini juga membuka ruang yang lebih luas. Sebab, selama ini Dewan Kesenian dinilai hanya mencakup satu bagian dari objek pemajuan kebudayaan, yakni seni. Padahal, aspek kebudayaan meliputi banyak hal lain, seperti adat istiadat, ritus, hingga pengetahuan tradisional. 

"Dari semuanya itu akan dirumuskan menjadi strategi kebudayaan nasional. Oleh karena itu dengan adanya Surabaya mengambil langkah untuk bertransformasi adalah sebuah langkah yang tepat," katanya.

Dia memandang langkah ini bukan hal baru, mengingat sejumlah daerah lain telah lebih dulu melakukan transformasi serupa. Karena itu, Heroe menyambut perubahan tersebut sebagai bagian dari perkembangan yang wajar. 

"Langkah dari pemerintah ini menurut saya sangat bagus dan kita sambut dengan baik apa yang menjadi keinginan pemerintah terhadap transformasi (DKS) menjadi Dewan Kebudayaan," tuturnya.

Perhatian Pemkot Surabaya

Di sisi lain, Heroe melihat perhatian Pemkot Surabaya terhadap aktivitas seni dan budaya terus berkembang. Dia mencontohkan Balai Pemuda Surabaya yang sejak tahun 70-an menjadi ruang berkumpul dan berekspresi bagi generasi muda.

"Sekarang di sana saya lihat pemerintah kota membuat seni-seni untuk masyarakat. Ada rumah kreatif, ada teater, ada perkusi, ada sastra. Ada melukis, ada dance, ada tari, untuk mempertahankan seluruh aktivitas kesenian yang ada di Surabaya masih terpusat di Balai Pemuda," ujarnya.

Menurutnya, akses penggunaan fasilitas di Balai Pemuda Surabaya juga berjalan cukup baik selama mengikuti prosedur yang berlaku. Heroe pun mengakui selama ini pihaknya tidak pernah mengalami kendala untuk berkegiatan seni di sana.

"Jadi misalnya kami ingin melakukan pementasan di sana, ya kami bersurat. Kami bersurat melalui tahapan prosedur yang ada, kami mengajukan permohonan. Kami tahu bahwa segala sesuatu itu ada prosedur yang harus kita jalani, karena fasilitas itu adalah fasilitas pemerintah," imbuhnya.

Baca juga: Eri Cahyadi Perkuat Kampung Pancasila, ASN Jadi Pendamping di Setiap RW!

Seniman lukis Muit Arsa juga menyampaikan pandangan serupa. Dia menilai transformasi kelembagaan ini sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pengelolaan kegiatan seni di Surabaya.

"Kalau saya melihatnya positif. Karena ini kan bukan cuma di Surabaya, memang akan menyeluruh. Jadi kalau harapan saya dengan adanya Dewan Kebudayaan ini kegiatan kesenian di Surabaya akan lebih baik lagi," ujarnya.

Dukungan Lebih Merata

Meski demikian, Muit berharap perubahan ini juga diikuti dengan peningkatan dukungan yang lebih merata bagi para pelaku seni. Salah satunya adalah kebutuhan ruang alternatif untuk berkesenian. 

"Nah, sebaiknya Gedung Barat itu bisa dimanfaatkan sebagai galeri seni, sebagai ruang alternatif selain yang ada saat ini," katanya.

Muit menilai, keberadaan ruang-ruang baru akan membantu memperluas akses bagi seniman sekaligus mendekatkan kegiatan seni kepada masyarakat. Meski demikian, dia bersyukur selama ini tidak pernah mengalami kesulitan dalam menggunakan ruang untuk berkegiatan seni.

Baca juga: Hemat BBM, Seluruh Kendaraan Operasional Pemkot Surabaya Beralih ke Listrik!

Di sisi lain, Muit juga melihat geliat seni di Kota Pahlawan tetap tumbuh dinamis. Terutama di bidang seni rupa yang rutin menghadirkan kegiatan. 

"Kalau saya melihatnya bagus ya, hampir semua kesenian di Surabaya itu bergerak dinamis, khususnya seni rupa," ujarnya.

Ke depan, Muit berharap komunikasi antara Pemkot Surabaya dan komunitas seni di Kota Pahlawan dapat semakin diperkuat agar tercipta kolaborasi yang lebih solid. {*}

| Baca berita Dewan Kebudayaan Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer