LaNyalla Beri Kuliah Umum di PAMU, Singgung Ancaman Hedonisme!
MALANG | Barometerjatim.com – Anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Jatim , AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memberikan kuliah umum bertema Budaya Spiritual yang digelar Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) dalam rangka Pendadaran Juru Pitutur se-Jatim di Kecamatan Dau, Malang, Kamis (7/5/2026) malam.
Dalam materinya, LaNyalla memaparkan disrupsi teknologi informasi membawa dampak perubahan pola hidup dan interaksi manusia, termasuk memudarnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Manusia dipaksa menjadi individualis, memuja materialisme, dan hidup dengan gaya hedonisme.
Baca juga: Dapur MBG Terima Rp 500 Juta per 12 Hari, Nawardi Sambut Positif Terobosan BGN!
Doktrin falsafah Indonesia melalui Pancasila justru sebaliknya. Pancasila mengajarkan manusia Indonesia adalah makhluk sosial, interaksi dilakukan dengan tepo sliro dan gotong royong.
“Budaya kita adalah budaya kekeluargaan, dan nilai dasar kita adalah ketuhanan atau spiritualisme,” katanya.
Karena itu, LaNyalla memberikan apresiasi kepada PAMU yang tetap eksis menjaga akar budaya tradisi dan budaya spiritual, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah Nusantara.
Makna, tandas LaNyalla, kata "pirukunan" yang menjadi identitas PAMU bukanlah sekadar nama organisasi tapi sebuah mandat untuk hidup dalam harmoni. Pirukunan berarti kita terikat dalam satu rasa, satu tujuan, dan satu nafas kebajikan. Inilah yang membuat PAMU tetap eksis hingga saat ini.
“Apalagi di dalam keluarga besar PAMU, terdapat struktur yang saling menguatkan. Ada sesepuh sebagai akar penguat, ada pinisepuh sebagai penimbang kebijaksanaan. ada juru pitutur sebagai penyambung pesan luhur, dan para kadang sebagai pelaku di lapangan. Sinergi inilah yang membuat PAMU tetap kokoh,” urainya.
Baca juga: BGN Alirkan Rp 240 T ke Daerah Tanpa Perantara, Nawardi: Langkah Revolusioner!
LaNyalla berharap, budaya spiritual dalam ajaran PAMU seharusnya dimaknai dengan merawat tradisi dan memperkokoh jati diri bangsa Indonesia.
Karena pada hakikatnya, jati diri bangsa Indonesia adalah bagian dari semangat spiritual itu sendiri. Sehingga sikap purwa menjadi sangat penting dijaga, agar bangsa ini berpijak kepada asal-usulnya. Tidak kehilangan jati diri.
Di tempat yang sama Direktur BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi berharap DPD RI ikut mendorong lahirnya regulasi yang memenuhi hak konstitusional para penghayat kepercayaan dan masyarakat adat.
Baca juga: Warga Malang Ngadu ke LaNyalla, Ngaku Jadi Korban Penipuan Koperasi!
Menurutnya, penguatan budaya harus mencakup perlindungan hukum, pengakuan identitas, dan ruang ekspresi bagi masyarakat hukum adat, termasuk komunitas lokal seperti suku Tengger di Lumajang.{*}
| Baca berita DPD RI. Baca tulisan terukur Roy Hasibuan | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur