Siswi SDN di Sidoarjo Dikembalikan ke Ortu karena Speech Delay, Kades Turun Tangan!

Reporter : Syaikhul Hadi  |   Selasa, 18 Agu 2026 21:58 WIB
BERI PERHATIAN: Kades Pranti, Eko Purnomo datangi kantor UPTD Layanan Disabilitas Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/HADI

SIDOARJO | Barometerjatim.com – Seorang siswi kelas I SDN Pranti, Kabupaten Sidoarjo, sudah sekitar dua minggu ini tidak sekolah. Dia untuk sementara dikembalikan ke orang tuanya agar menjalani asesmen, lantaran mengalami speech delay atau keterlambatan bicara.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Kepala Desa Pranti, Eko Purnomo. Dia mendatangi kantor UPTD Layanan Disabilitas Sidoarjo, Selasa (18/8/2026), meminta agar proses asesmen tak berujung pada terhentinya hak anak untuk mendapatkan pendidikan.

Baca juga: Kondisi 2 SDN Terpencil di Sidoarjo Bikin Elus Dada, Mimik: Tidak Bisa Dibiarkan!

Eko mengatakan, dirinya sengaja datang mendampingi keluarga untuk memastikan anak tersebut segera mendapatkan asesmen, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pola pendidikan yang sesuai.

“Saya sangat konsen terhadap masalah pendidikan anak, sehingga kami berkoordinasi agar secepatnya mendapatkan asesmen dan anak ini secepatnya juga mendapatkan belajar kembali,” ujarnya.

Menurut Eko, siswi tersebut sebenarnya telah diterima di SDN Pranti sejak awal tahun ajaran baru 2026. Namun setelah mengikuti pembelajaran, guru menilai mengalami keterlambatan dalam menerima pelajaran dan beberapa kali dianggap mengganggu temannya.

Atas kondisi tersebut, pihak sekolah meminta anak dikembalikan sementara kepada orang tua sambil menunggu hasil asesmen.

Harus Hati-hati

Eko menuturkan, persoalan tersebut seharusnya ditangani secara hati-hati. Apalagi menurut informasi yang diterimanya, keterbatasan guru yang memiliki kompetensi menangani anak berkebutuhan khusus menjadi salah satu kendala di SDN Pranti.

“Kemarin sempat saya klarifikasi, katanya gurunya terbatas. Anak ini juga perlu pendamping sehingga akhirnya (guru) kewalahan. Penyampaiannya kepada kami, anak harus diasesmen,” katanya.

Dia berpandangan, sekolah negeri pada prinsipnya memiliki kewajiban menerima anak, termasuk anak yang membutuhkan perhatian atau pendampingan khusus.

HAK DAPAT PENDIDIKAN: Eko Purnomo, jangan sampai anak kehilangan hak dapat pendidikan.| Foto: Barometerjatim.com/HADI

“Kalau aturan yang saya ketahui, SD atau sekolah itu wajib menerima. Terkait bagaimana gurunya, mungkin yang lebih memahami dari dinas. Tapi sebagai pemangku wilayah, yang saya ketahui wajib diterima, tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus,” ucapnya.

Karena itu, dia berharap hasil asesmen nantinya menjadi dasar untuk menentukan bentuk pendampingan dan kebijakan pendidikan, bukan justru menjadi alasan untuk menghentikan anak untuk sekolah. 

Dia juga mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga. Ayah siswi pekerja serabutan atau kuli bangunan dan ibu sebagai ibu rumah tangga.

Baca juga: Beri Bantuan Pendidikan, Pemkot Surabaya Sasar 7.380 Siswa SMA Sederajat

“Kalau ditaruh di luar, biaya juga keluar banyak. Pengeluaran terlalu banyak sehingga juga mengganggu perekonomian.  Harapan saya tetap sekolah di Pranti sambil menunggu bagaimana kebijakan dari Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Bantah Ganggu Teman

Sementara itu ibu siswi, Sri Wahyuni menjelaskan anaknya memang mengalami speech delay. Kondisi tersebut telah diperiksa dokter spesialis anak di sebuah rumah sakit di kawasan Waru, Sidoarjo. 

“Bicaranya memang lambat, tapi dia masih bisa bicara. Kalau disuruh, dia langsung paham,” ungkapnya.

Sri juga membantah anggapan bahwa anaknya sengaja mengganggu temannya di sekolah. Menurutnya, perilaku anak yang dianggap jahil sebenarnya upaya untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. 

Dia menyebut anaknya kerap menyentuh atau mengajak teman berbicara. Namun perilaku tersebut, diduga dipahami berbeda oleh pihak sekolah sehingga dianggap mengganggu proses belajar.

“Padahal itu nyuwun (minta) apa, ngajak ngomong, jawil-jawil terus dianggap mengganggu,” katanya.

Baca juga: MPLS Surabaya Dimulai Besok 13 Juli, Dindik Jamin Tak Ada Perpeloncoan!

Menurut Sri, saat masih di TK, tidak pernah ada laporan mengenai persoalan serupa dari guru. Anaknya juga tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga di rumah.

Sri menambahkan, sejak diminta tidak masuk sekolah, anaknya lebih banyak di rumah. Dia berusaha tetap memberikan aktivitas belajar agar tidak kehilangan kesempatan berkembang.

“Di rumah saja. Saya ajari sendiri, saya ajari nulis-nulis. Saya ajari jahit, alhamdulillah sedikit-sedikit,” tuturnya.

Dia berharap anaknya tetap bisa bersekolah di SDN Pranti. Apa pun hasil asesmen, pihak sekolah diharapkan dapat membantu keluarga menemukan metode pembelajaran yang tepat bagi anak.{*} 

| Baca berita Pendidikan. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer