Jepang Pinjam Komodo ke KBS, Meski Nanti Beranak Tetap Milik Indonesia!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Kebun Binatang Surabaya (KBS) menjalin kerja sama konservasi dengan iZoo Shizuoka, Jepang, melalui skema breeding loan atau peminjaman satwa untuk pembiakan. Kolaborasi difokuskan pada penguatan konservasi eks-situ, melalui pertukaran pengetahuan serta peminjaman satwa langka.
Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bertajuk United for Wildlife di Kebun Binatang Surabaya, Rabu (29/4/2026). Disaksikan Direktur Konservasi Spesies & Genetik Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ahmad Munawir dan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Baca juga: Surabaya Siap Gelar Porprov Jatim 2027, Eri Cahyadi: Saya Tak Ingin Ada Tawuran!
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut MoU antara Kemenhut dan Pemerintah Prefektur Shizuoka yang ditandatangani pada 28 Maret 2026. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari diplomasi hijau yang mencakup pengembangbiakan, penelitian, dan edukasi komodo (varanus komodoensis).
"Saya matur nuwun (terima kasih) ini ada (kerja sama) peminjaman satwa antara Surabaya dengan Jepang," ujar Eri usai penandatanganan MoU.
Dia mengungkapkan, ketertarikan pihak Jepang untuk meminjam komodo didasari keberhasilan KBS dalam mengembangbiakkan satwa tersebut.
"Karena kita berhasil dalam mengembangbiakkan komodo, maka di Jepang itu karena binatang terbesar reptil, mereka meminta kita untuk meminjamkan komodo," katanya.
Bukan Pertukaran
Eri Cahyadi menegaskan, skema yang digunakan bukan pertukaran melainkan peminjaman dengan pengawasan bersama selama lima tahun, termasuk kemungkinan penarikan kembali apabila terjadi kondisi tertentu pada satwa.
"Jadi nanti satwa kita, komodo yang ada di Jepang akan sama-sama kita pantau. Ketika dalam masa lima tahun ini ada yang mungkin sakit, bisa ditarik kembali," tuturnya.
Proses kerja sama tersebut, lanjutnya, telah melalui pembahasan panjang sejak sekitar satu dekade lalu hingga akhirnya dapat direalisasikan.
"Dan (pembahasan) ini sudah 10 tahun yang lalu, seperti disampaikan Pak Direktur (Ahmad Munawir), akhirnya bisa terjalin hari ini," katanya.
Eri berharap kerja sama ini dapat meningkatkan animo masyarakat terhadap KBS maupun iZoo Shizuoka, sekaligus mendorong inovasi dalam menghadirkan koleksi satwa baru.
"Semoga peminjaman satwa ini bisa menaikkan animo masyarakat yang ada di Surabaya maupun di Shizuoka Jepang," harapnya.
Dia juga mengisyaratkan akan adanya peminjaman satwa dari iZoo Shizouka yang akan menjadi daya tarik baru di KBS.
"Saya ingin merahasiakan dulu sampai binatangnya datang. Jadi itu menjadi surprise-nya untuk orang Surabaya karena warnanya merah, bukan reptil tapi mamalia," ucapnya.
Baca juga: 30 Tahun Otoda, Pemkot Surabaya Perkuat Efisiensi Anggaran dan Inovasi Digital
Sementara itu Direktur Operasional KBS, Nurika Widyasanti menjelaskan komodo yang dipinjamkan merupakan hasil pengembangbiakan di KBS. Satwa tersebut menjadi salah satu bentuk keberhasilan KBS dalam konservasi.
"Selama ini memang satwa komodo berkembangbiak di KBS dan menjadi salah satu satwa yang berhasil dikembangbiakkan di KBS," ujarnya.
Proses peminjaman, katanya, telah melalui evaluasi dan kajian dari pemerintah pusat. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan konservasi serta tidak mengganggu proses breeding di KBS.
"Dari pemerintah pusat ada kajian-kajian tersendiri, sehingga tetap bisa mempertahankan. Paling tidak secara proses breeding di KBS tidak terhenti dikarenakan kedua ekor atau sepasang komodo ini nanti diberangkatkan ke sana," bebernya.
Meski demikian, Nurika menegaskan dua pasang satwa komodo tersebut akan dikembalikan setelah masa peminjaman lima tahun sesuai perjanjian.
"Akan dikembalikan lagi, kita perjanjiannya 5 tahun. Setelah kita penandatanganan, untuk (tahap) berikutnya kita akan mulai secara administrasi prosedur pengirimannya," tuturnya.
Dia juga menjelaskan, usia komodo yang dipinjamkan berkisar 8 hingga 12 tahun. Baginya, kerja sama ini penting untuk menjaga populasi spesies sekaligus mendukung pengayaan genetik melalui kolaborasi antar lembaga konservasi.
Baca juga: Pemkot Surabaya Ajak Kurangi Pembalut Sekali Pakai, Butuh 500 Tahun untuk Terurai!
Sedangkan Director of iZoo Shizuoka, Tsuyoshi Shirawa menyatakan pihaknya telah mempersiapkan fasilitas selama 10 tahun untuk memastikan komodo dapat hidup sesuai kondisi habitat aslinya di Indonesia.
"Jadi di Jepang selama 10 tahun, kita menunggu 10 tahun untuk mempersiapkan semua. Dari kandangnya itu sudah dibuatkan, bagaimana sesuai dengan iklimnya yang ada di Indonesia," ujar Shirawa.
Dia menegaskan, seluruh hasil pengembangbiakan komodo nantinya tetap menjadi milik Indonesia sesuai kesepakatan dalam MoU.
"Intinya dari MoU itu kesepakatan cuma peminjaman saja, meskipun nanti di sana itu (komodo) beranak, tetap itu punya Indonesia, tidak akan ke mana-mana tanpa izin Indonesia," katanya.
Shirawa juga mengungkapkan tingginya antusiasme masyarakat Jepang terhadap kehadiran komodo. Karenanya, dia optimistis akan berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
"Orang di sana menantikan pengembangbiakan. Orang Jepang merasa senang karena ada kehadiran komodo di sana. Nanti kalau dipinjamkan di sana mungkin pengunjungnya akan lebih banyak lagi untuk di iZoo," pungkasnya.{*}
| Baca Kebun Binatang Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur