Setoran PAD Memble! Pansus Bongkar Data: BUMD Jatim Kalah Jauh dari Jateng
SURABAYA | Barometerjatim.com – Kecuali Bank Jatim, kinerja BUMD Jatim lainnya -- baik yang bergerak di sektor energi, industri, logistik, maupun jasa -- sungguh memprihatinkan.
Hal itu terungkap dari Laporan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Jatim Atas Hasil Pembahasan Kinerja BUMD milik Pemprov Jatim yang disampaikan dalam rapat paripurna, Kamis (30/4/2026).
Baca juga: VIDEO: 2 Tahun Bebas Berkeliaran, 16 Tersangka Korupsi Hibah Jatim Tak Kunjung Diborgol!
Pansus memberi sorotan tajam, lantaran dari total setoran dividen Rp 488,1 miliar kontribusi terbesar hanya berasal dari satu entitas, yakni Bank Jatim yang menyumbang 86% atau lebih dari Rp 420 miliar.
Sedangkan BUMD lainnya hanya berbagi porsi sisa yang sangat kecil. Bahkan holding seperti PT PWU (Panca Wira Usaha) dan PT JGU (Jatim Grha Utama) hanya di kisaran 0,2%-0,3%, secara nominal bahkan tidak mencapai Rp 2 miliar.
Kondisi ini berbeda jauh dengan BUMD Jawa Tengah, misalnya, yang terlihat adanya pendekatan lebih seimbang. Dari total investasi daerah Rp 698,3 miliar, kontribusi terhadap kinerja tidak hanya bertumpu pada satu entitas, meskipun Bank Jateng tetap dominan dengan sekitar 81,3%.
“Namun BUMD lainnya seperti BPR, sektor energi, hingga perusahaan jasa, masih mampu memberikan kontribusi yang lebih proporsional dibandingkan Jatim,” kata Juru Bicara Pansus, Abdullah Abu Bakar.
Melihat data yang disuguhkan Pansus, dari 8 BUMD milik Pemprov Jateng tidak ada dividennya di bahwa Rp 4 miliar dari total Rp 696.647.345.508. Beda dengan Jatim ada 3 BUMD yang setorannya bahkan di bawah Rp 2 miliar .
Secara keseluruhan, komposisi setoran dividen BUMD Jateng yakni PT Bank Jateng Rp 567.903.370.127 (81,52%), PT BPR BKK Jateng Rp 58.679.974.552 (8,42%), dan PT BPR Jateng Rp 10.340.882.136 (1,48%)
Lalu PT Jamkrida Rp 8.206.599.101 (1,18%), PT JTAB Rp 4.712.725.153 (0,68%), PT JPEN Rp 28.691.237.843 (4,12%), PT SPJT Rp 5.788.118.477 (0,83%), dan PT TUJT Rp 12.334.438.119 (1,77%).
Baca juga: Pansus Buka-bukaan: Bank Jatim Tulang Punggung PAD, 6 BUMD Lainnya Memble!
Perbandingan ini menegaskan, lanjut Abu Bakar, Jateng telah mulai membangun ekosistem BUMD yang lebih merata dan produktif. Sedangkan Jatim masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengelolaan portofolio BUMD, khususnya sektor nonkeuangan.
“Yang lebih mengkhawatirkan, jika dikaitkan dengan besaran aset dan penyertaan modal daerah yang telah diberikan kepada BUMD nonkeuangan di Jatim, maka kontribusi dividen yang sangat kecil tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara input dan output,” katanya.
“Aset yang besar tidak berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Bahkan dalam beberapa kasus, aset yang dikelola justru tidak produktif, idle, atau tidak menghasilkan nilai ekonomi yang memadai,” sambungnya.
Dengan demikian, gambaran ini mengarah pada satu kesimpulan penting, bahwa persoalan utama BUMD Jatim bukan sekadar pada kinerja individu perusahaan, melainkan pada kegagalan sistemik dalam mengelola portofolio BUMD secara strategis.
“Holding tidak berfungsi optimal, arah bisnis tidak terintegrasi, dan tidak ada mekanisme yang kuat untuk memastikan bahwa setiap penyertaan modal daerah benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Baca juga: Khofifah Tak Masuk Gubernur Berkinerja Terbaik, Gus Hans Sebut Perlu Faktor Emil!
Apabila kondisi ini tidak segera diperbaiki, kata Abu Bakar, maka keberadaan sebagian BUMD tidak lagi dapat dipandang sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah.
“Melainkan berpotensi menjadi beban fiskal jangka panjang yang terus menggerus efektivitas keuangan daerah,” tegasnya.{*}
| Baca berita BUMD Jatim. Baca tulisan terukur Abdillah HR | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur