Budidaya Perikanan Silvofishery, BRIDA Surabaya Akui Perlu Edukasi Masif!

Reporter : Andriansyah  |   Senin, 25 Mei 2026 20:49 WIB
HASIL BUDIDAYA: DKPP Surabaya panen ikan hasil budidaya, bakal kembangkan silvofishery. | Foto: Barometerjatim.com/HPS

SURABAYA | Barometerjatim.com – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya, mendorong penerapan sistem budidaya perikanan berbasis silvofishery di kawasan pesisir.

Langkah tersebut dilakukan dengan mengintegrasikan penanaman mangrove dan budidaya perikanan di area tambak, guna memperkuat ekosistem lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir.

Baca juga: Lestarikan Bahasa Jawa, Surabaya Diganjar Penghargaan dari Kemendikdasmen

Kepala BRIDA Surabaya, Agus Imam Sonhaji menyampaikan pihaknya bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) membagi peran dalam pengembangan kawasan pesisir. DKPP berfokus pada pembinaan masyarakat, sementara BRIDA bertanggung jawab dalam pengembangan riset.

"Nah, kita itu melihat sebenarnya ada konsep namanya silvofishery. Jadi penggabungan antara mangrove di atas tambak dengan ikannya," ujarnya, Senin (25/5/2026).

Agus menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi mangrove di kawasan pertambakan tidak menurunkan produktivitas lahan. Sebaliknya, dinilai mampu menciptakan ekosistem alami yang mendukung pertumbuhan biota perairan.

"Kalau tambak itu dicampur dengan mangrove, justru tidak mengurangi hasil (ikan) tambak, tambah banyak hasilnya," paparnya.

Meski demikian, Agus mengakui penerapan sistem silvofishery masih memerlukan edukasi yang masif kepada masyarakat pesisir yang selama ini terbiasa menggunakan metode konvensional.

Karena itu, BRIDA menyiapkan sejumlah kawasan tambak percontohan atau pilot project. Program ini bertujuan agar para petambak dapat melihat secara langsung efektivitas dan peningkatan hasil panen sebelum menerapkannya secara mandiri.

"Kita punya beberapa area yang bisa dicobakan, kadang orang akan percaya kalau sudah lihat hasilnya, oh iya (hasil) bisa banyak," katanya.

Baca juga: VIDEO: Diakui Negara, Arsip Kiprah Cak Kartolo Jadi Memori Kolektif Bangsa

Agus berharap konsep silvofishery dapat diterapkan lebih luas, sehingga mampu meningkatkan hasil perikanan sekaligus memperluas tutupan mangrove di Surabaya.

Selain pengembangan ekosistem pesisir, BRIDA juga menyiapkan inovasi menu khas pesisir berbahan hasil perikanan Surabaya dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi.

Di sisi lain, Agus kembali menegaskan Kebun Raya Mangrove memiliki peran strategis dalam melindungi kawasan pesisir Surabaya dari abrasi air laut. 

"Ekosistemnya tidak hanya tumbuhan, ada hewannya juga, misal kepiting dan sebagainya. Itu juga kita ingin kalau bisa berproduksi makin banyak," tuturnya.

Baca juga: Tiga Rumah Pompa Baru Perkuat Ikhtiar Surabaya Menuju Kota Bebas Banjir

Dia menambahkan, kawasan mangrove Surabaya yang wilayah Gunung Anyar dan Wonorejo tidak hanya difungsikan untuk konservasi, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan riset.

"Makanya itu (Kebun Raya Mangrove) di bawah pengelolaan BRIDA, karena tempatnya riset," ucapnya.{*}

| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer