Sidoarjo Target Eliminasi TB 2028, DPRD: Masalahnya Penularan Sangat Cepat!

Reporter : Syaikhul Hadi  |   Jumat, 29 Mei 2026 01:13 WIB
GENCAR SOSIALISASI: Kejar target eliminasi pada 2028, Sidoarjo gencar sosialisasi tuberkulosis (TB). | Foto: IST

SIDOARJO | Barometerjatim.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo menargetkan eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2028, lebih cepat dua tahun dari target pemerintah pusat pada 2030.

Salah satu cara mencapai target, mengerahkan sebanyak-banyaknya fasilitas kesehatan baik milik Pemda maupun swasta secara gratis, untuk mempermudah pelayanan penderita TB.

Baca juga: PT ISS soal Banding Dishub Sidoarjo: Putusan NO, Jangan Seolah-olah Sudah Menang!

Bagi Wakil Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Bangun Winarso target Pemkab tersebut merupakan tantangan mengingat penularan TB sangat cepat.

“Lha masalahnya kemudian, penderita TB ini dapat menularkan dengan cepat. Itu 15 sampai 20 orang, terutama yang satu rumah itu sangat rentan tertular,” katanya, Kamis (28/5/2026).

“Kalau 15 sampai 20 orang tertular, maka mereka juga berpotensi menularkan ke orang lain lagi. Ini tantangan, makanya di samping pelayanan gratis juga edukasi kepada masyarakat,” tandasnya.

Edukasi kepada masyarakat, terang Bangun, tidak bisa hanya dilakukan Pemda misalkan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) saja, tapi harus melibatkan unsur lain seperti Pemerintah Desa (Pemdes) atau PKK.

“PKK itu juga garda terdepan untuk edukasi kepada masyarakat,” ucap legislator asal Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Tak Berhenti Berobat

Edukasi yang dimaksud Bangun, yakni penderita TB tidak boleh berhenti berobat, minimal selama enam bulan. Selain itu, menjaga kesehatan di internal rumahnya. Misalkan makan bersama tanpa masker, bersin tidak ditutup, atau barang keseharian dicampur.

“Ini juga tantangan, bahwa penderita TB itu mendapat stigma dari masyarakat sebagai penyakit yang tidak boleh didekati orang. Ini harus kita edukasi juga masyarakat, jangan mengucilkan penderita TB yang penting kita saling menjaga,” kata Bangun.

Baca juga: 2 Tahun Sidoarjo Tanpa Setoran PAD Parkir, Kok Bisa? Nih Penyebabnya!

“Ketika tidak dikucilkan, maka mereka punya semangat sembuh yang tinggi sehingga rajin berobat, menjaga diri di rumah agar yang serumah tidak tertular, itu insyaallah nanti bisa efektif,” jelasnya.

Terlebih, kata Bangun, TB termasuk penyakit menular yang menempati peringkat kedua penyebab kematian, karena ketika orang menderita TB imunnya juga menurun.

“Di Sidoarjo, Pemda melalui Dinas Kesehatan kemudian diteruskan ke Puskesmas, kader-kader, klinik-klinik itu sampai tahun kemarin tracing-nya sudah tercatat 5.800 sampai 6.200 penderita TB secara keseluruhan,” ucapnya.

Di sisi lain, Dinas kesehatan (Dinkes) Sidoarjo telah menyiapkan layanan pengobatan TB di 170 Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) untuk mendukung target eliminasi 2028.

“Sekaligus terus memperluas sarana pengobatan, dan meningkatkan penemuan kasus suspect TB melalui screening masif di masyarakat,” terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sidoarjo, Djoko Setijono.

Baca juga: 52 Titik Parkir di Sidoarjo Masih Liar, Dishub: Kalau Tak Bisa Persuasif, Terpaksa Represif!

Selain itu, lanjutnya, pembentukan Desa Siaga TB terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa dan kecamatan. 

“Pemerintah juga mendorong pelaksanaan imunisasi dasar lengkap, serta gerakan menjaga kebersihan lingkungan rumah sebagai langkah pencegahan TB di masyarakat,” ucapnya.{*)

| Baca berita Tuberkulosis. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer