Kukuhkan Kepala BKKBN Jatim, Khofifah Pamer Penurunan AKI dan Stunting!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa memamerkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan stunting di Jatim saat mengukuhkan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim, Shodiqin di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (29/5/2026).
Mengutip data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), Khofifah menyebut AKI di Jatim terus menunjukkan tren penurunan signifikan. Pada 2024, tercatat 82,56 per 100 ribu kelahiran hidup dan turun menjadi 68,7 per 100 ribu kelahiran hidup pada 2025.
Baca juga: Tak Mempan Dikritik DPRD Jatim, Khofifah Ubah WFH Jadi Jumat Ikuti Arahan Mendagri!
"Capaian tersebut bahkan telah melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni di bawah 70 per 100 ribu kelahiran hidup," katanya.
Meski demikian, Khofifah meminta agar perhatian terhadap angka kematian ibu dan bayi tetap diperkuat, termasuk melalui edukasi terkait usia perkawinan dan kesehatan reproduksi secara lebih komprehensif.
Selain itu, Khofifah menyampaikan capaian positif Jatim dalam percepatan penurunan stunting. Menurutnya, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 prevalensi stunting di Jatim turun dari 17,7% pada 2023 menjadi 14,7% pada 2024.
Capaian itu, tandasnya, menjadikan Jatim sebagai provinsi terbaik di Pulau Jawa dan peringkat kedua terbaik secara nasional dalam penurunan prevalensi stunting.
"Kita tetap membangun sinergi dengan semua elemen, terutama Posyandu yang akan menjadi media untuk memastikan intervensi di seluruh kabupaten kota berjalan efektif," ucapnya.
Penurunan AKI dan stunting ini, lanjutnya, untuk memperkuat Indeks Modal Manusia (IMM) sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan proyeksi kualitas generasi masa depan.
Baca juga: Shodiqin Nakhodai BKKBN Jatim, Gebrakan Apa yang Bakal Dilakukan?
"Peningkatan IMM, ditentukan penurunan angka kematian ibu, bayi, serta prevalensi stunting sebagai cerminan kualitas layanan kesehatan, pengasuhan, dan efektivitas pembangunan manusia," ujarnya.
Khofifah juga menegaskan, pembangunan keluarga, pengendalian kependudukan, dan percepatan penurunan stunting merupakan fondasi utama dalam menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi bonus demografi yang harus disiapkan secara serius melalui pembangunan manusia yang berkualitas sejak dari keluarga.
“Karena itu penguatan kualitas keluarga, percepatan penurunan stunting, pengendalian angka kematian ibu dan bayi, serta pembangunan kependudukan harus menjadi agenda bersama lintas sektor,” katanya.
Baca juga: VIDEO: LKPJ 'Dikuliti Habis' Fraksi-Fraksi DPRD Jatim, Khofifah Memanas!
Bagi Khofifah, pembangunan kependudukan tidak hanya berbicara mengenai jumlah penduduk, melainkan juga kualitas SDM, mobilitas penduduk, kualitas pengasuhan keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa.{*}
| Baca berita Stunting. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur