Gus Ali Lempar Canda Menohok: NU Itu Bisa Kuat, Rukun, Kalau Dicarikan Musuh!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali mengingatkan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) mestinya tidak lahir karena adanya musuh bersama.
Menurutnya, persatuan harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena terpaksa menghadapi ancaman dari luar. Dia juga menyampaikan ada pesan penting yang kerap luput bahwa tradisi ulama terdahulu dibangun dengan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Baca juga: PWNU Jatim: Gus Kikin Sudah Purna Ekonomi, Tak Ada Rumus Ingin Hidup di NU!
“Ulama-ulama dahulu itu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” katanya dalam dialog publik Transformasi Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II yang digelar Jurnalis Pokja Grahadi bersama Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Aula JKSN, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Gus Ali lantas melempar canda menohok, bahwa NU kerap baru benar-benar kompak ketika memiliki musuh bersama.
“NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh (NU itu bisa kuat, rukun, kalau dicarikan musuh),” kelakarnya yang membuat peserta dialog gergeran. “Dadi nek mungsuhe ora ono, rukun nek njero (Jadi kalau tidak ada musuh, rukun di dalam),” lanjutnya.
Gus Ali mencontohkan ketika NU menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa lalu. Menurutnya, tekanan dan ancaman pada masa itu justru membuat warga NU bergerak bersama.
Dia menggambarkan bagaimana pembangunan masjid bisa berlangsung cepat ketika ancaman dirasakan bersama. Sebaliknya, ketika musuh tidak terlihat, energi internal justru berpotensi habis untuk persoalan sendiri.
Baca juga: PWNU Jatim Usung Gus Kikin Calon Ketum PBNU, Tegaskan 45 PCNU Satu Barisan!
“Dulu zaman PKI, nggawe masjid iku seminggu mari NU iku. Opo'o? Orah mungsuhe. Saiki? Ya Allah, nggawe masjid ditar-tarino,” katanya.
Karena itu, menurut Gus Ali, NU membutuhkan kader yang tidak mudah terseret konflik internal. Dia mencontohkan HOS Tjokroaminoto sebagai figur yang mampu berdiskusi, berdebat, tetap istiqomah, dan menghargai perbedaan pendapat.
Dia berharap NU melahirkan generasi kepemimpinan yang memiliki karakter serupa yang dingin dalam menghadapi konflik, aktif, sekaligus mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan.
Baca juga: Gus Hans: Muktamar Jangan Calonkan Rais Aam-Ketum PBNU yang Terlibat Konflik!
“Mampu membingkai perbedaan menjadi kuat,” tegas Gus Ali yang juga Wakil Rais PWNU Jatim.{*}
| Baca berita Nahdlatul Ulama. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur