Zulhas Sebut PAN Partai Anak Nahdliyin, Ansor Jatim Beri 'Tamparan' Keras!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Wakil Sekretaris Bidang Politik dan Pemerintahan PW GP Ansor Jawa Timur, Zainuddin memberi 'tamparan' keras soal narasi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan yang menyebut PAN adalah 'Partai Anak Nahdliyin'.
Zainuddin meminta PAN perlu berkaca pada sejarah, serta tidak mudah menghapus jejak perjuangan para pendahulunya yang memiliki akar kuat dari keluarga besar Muhammadiyah.
Baca juga: Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU, 9 Kiai AHWA Beri Catatan Penting!
“PAN jangan sampai ahistoris. Jangan mudah melupakan sejarah dan perjuangan para pendahulu, yang notabene merupakan bagian dari keluarga besar Muhammadiyah,” tegasnya, Minggu (8/9/2026).
Bagi Zainuddin, identitas Nahdliyin bukanlah komoditas politik yang dapat digunakan untuk kepentingan elektoral.
“Jangan begitu mudah mengklaim diri sebagai Partai Anak Nahdliyin, kalau pada akhirnya Nahdliyin hanya ditempatkan sebagai instrumen politik,” kata Zainuddin.
“Nahdliyin bukan ceruk suara. Ada kader, ada pengabdian, ada sejarah, dan ada kepentingan masyarakat yang harus diperjuangkan,” sambungnya.
Pendamping Desa
Dia kemudian menyinggung nasib sejumlah kader muda NU, khususnya kader Ansor, yang selama ini mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai pendamping desa.
Dia mempertanyakan pola kebijakan terkait penempatan dan pemindahan pendamping desa, yang disebutnya berdampak pada sejumlah kader di lapangan.
Menurut Zainuddin, apabila benar terdapat pemindahan yang dilakukan tanpa komunikasi dan pertimbangan yang memadai, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bahkan rasa ketidakadilan bagi para pendamping.
“Ini yang harus dijelaskan. Mereka adalah anak-anak muda NU yang bekerja di desa, mendampingi masyarakat, dan ikut menjalankan program pemerintah,” katanya.
“Kalau kemudian ada kebijakan pemindahan yang dilakukan secara sepihak dan membuat mereka tidak nyaman, tentu kami harus bersuara,” imbuh Zainuddin.
Sorotan tersebut semakin kuat karena Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) saat ini dipimpin Yandri Susanto, kader PAN.
Zainuddin meminta PAN membuktikan, bahwa kedekatan politik dengan Nahdliyin bukan hanya retorika menjelang kepentingan politik tertentu.
Baca juga: Terpilih Lagi Jadi Rais Aam PBNU, AHWA Beri Catatan untuk KH Miftachul Akhyar!
“Kalau PAN mengaku sebagai Partai Anak Nahdliyin, justru sekarang saatnya membuktikan,” ujarnya.
“Jangan hanya mendekati Nahdliyin ketika membutuhkan dukungan politik, tetapi ketika kader-kader mudanya menghadapi persoalan kebijakan, mereka justru merasa tidak mendapatkan keberpihakan,” tegasnya.
Dia menilai ukuran kedekatan PAN dengan NU bukan terletak pada seberapa sering elite PAN hadir dalam forum-forum NU, melainkan seberapa jauh kebijakan yang lahir dari kader PAN memberikan rasa keadilan bagi masyarakat dan kader muda NU.
“Karena politik yang sesungguhnya bukan soal siapa yang paling dekat di panggung, tetapi siapa yang hadir ketika rakyat dan kader membutuhkan keberpihakan,” katanya,
Lahirkan Kekecewaan
Zainuddin juga mengingatkan PAN agar tidak terjebak dalam politik simbolik. Menurutnya, menggunakan identitas 'Anak Nahdliyin' tanpa diikuti kebijakan yang konkret justru dapat melahirkan kekecewaan di tengah warga NU.
“Kalau Nahdliyin hanya dipakai sebagai tagline, itu bukan kedekatan. Itu namanya branding politik. Kader-kader NU hari ini sudah cukup dewasa untuk membedakan mana persahabatan yang tulus dan mana pendekatan yang hanya muncul ketika ada kepentingan politik,” ucapnya.
Baca juga: Kaukus Intelektual NU: Kiai Afifuddin Layak dan Pantas Jadi Rais Aam PBNU!
“Jangan klaim menjadi anak Nahdliyin kalau pada saat yang sama anak-anak muda NU yang sedang mengabdi kepada masyarakat justru merasa tidak mendapatkan rasa keadilan. Kalau ingin menjadi bagian dari keluarga besar Nahdliyin, buktikan melalui kebijakan,” imbuhnya.
Sebelumnya, narasi 'Partai Anak Nahdliyin' dilontarkan Zulkifli Hasan pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 PAN yang dikemas lewat Panggung Religi di halaman Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (29/8/2026).
"PAN itu banyak ditanya, apa sih kepanjangannya? Ada yang tahu enggak? Yang tahu dapat hadiah? Kepanjangannya.. ah, itu siapa tadi? Sini kamu sini," kata Zulhas sambil menunjuk salah seorang pengunjung.
"Partai Anak Nahdliyin," kata pengunjung tersebut. Zulhas pun memberikan hadiah umroh. "Jadi, Partai Amanat Nasional adalah Partai Anak Nahdliyin," tandas Zulhas.
"Mohon doanya agar Partai Amanat Nasional, Partai Anak Nahdliyin ini bisa berbuat yang terbaik untuk Indonesia. Mohon doanya," imbuhnya.{*}
| Baca berita Ansor Jatim. Baca tulisan terukur Roy Hasibuan | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur