Kaukus Intelektual NU: Kiai Afifuddin Layak dan Pantas Jadi Rais Aam PBNU!
JOMBANG | Barometerjatim.com – Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (NU) menyebut Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, bukan sekadar agenda lima tahunan untuk memilih kepengurusan baru. Muktamar kali ini memiliki arti historis, karena menjadi Muktamar NU pertama di abad kedua.
"Karena itu, pilihan terhadap figur Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat berikutnya semestinya diletakkan dalam kerangka yang lebih besar, untuk menjaga kesinambungan tradisi keulamaan sekaligus memastikan NU mampu menjawab tantangan zaman," kata Ketua Umum Kaukus Intelektual NU, Abd Aziz, Sabtu (29/8/2026).
Di tengah dinamika tersebut, Aziz memandang KH Afifuddin Muhajir patut mendapatkan perhatian serius. Menurutnya, Wakil Rais Aam PBNU itu memiliki kombinasi modal keulamaan, kedalaman fikih, tradisi pesantren, kemampuan intelektual, serta pengalaman dalam struktur jamiyah yang membuatnya memenuhi unsur kelayakan sekaligus kepantasan untuk dipertimbangkan sebagai Rais Aam PBNU.
“NU membutuhkan figur rais aam yang bukan hanya memiliki otoritas keilmuan, tetapi juga mampu menjadi penjaga moral, tradisi, dan arah keumatan organisasi,” ujarnya.
Kedalaman Ilmu
Dalam tradisi NU, lanjut Aziz, rais aam bukanlah jabatan yang semata-mata ditentukan oleh popularitas. Ia merupakan posisi puncak dalam struktur syuriyah yang membutuhkan otoritas keagamaan dan keulamaan.
Karena itu, ukuran utama semestinya bukan siapa yang paling banyak pendukungnya, melainkan siapa yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan pandangan, integritas, keteladanan, sanad keilmuan, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.
Dalam konteks tersebut, Kiai Afifuddin disebut memiliki modal yang sangat kuat. Kapasitasnya sebagai ulama ahli fikih dan ushul fikih, membuat pandangan-pandangannya tidak berhenti pada persoalan tekstual. Dia dikenal memiliki perhatian terhadap bagaimana khazanah keislaman klasik dapat dibaca untuk menjawab persoalan kontemporer.
“Kapasitas seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan NU yang memasuki abad kedua. NU membutuhkan rais aam yang mampu menjaga akar tradisi sekaligus memberikan panduan ketika warga NU menghadapi persoalan baru yang terus berkembang,” ucapnya.
Menariknya, kata Aziz, pada awal Muktamar ke-35, Kiai Afifuddin tampil dalam agenda yang sangat mencerminkan karakter keilmuannya, yakni pembukaan Pameran Turots yang menampilkan berbagai karya ulama Nusantara dan menjadi bagian dari rangkaian Muktamar ke-35.
Kiai Afifuddin menegaskan pentingnya kebangkitan turots sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebangkitan ulama. Pesan tersebut sebenarnya memiliki makna strategis.
“NU tidak boleh tercerabut dari akar tradisi intelektual pesantren. Tetapi pada saat yang sama, turots tidak boleh diperlakukan sebagai artefak masa lalu semata. Turots harus menjadi sumber daya intelektual untuk membaca masa kini dan masa depan. Di sinilah figur seperti Kiai Afifuddin menjadi penting,” ujarnya.{*}
| Baca berita Muktamar NU. Baca tulisan terukur Retna Mahya | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur