PKB Soroti Pengangguran di Pusat Pertumbuhan Ekonomi: Khofifah Berputar pada Retorika!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Fraksi PKB belum menemukan jawaban konkret dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa terkait persistensi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, dan Kota Surabaya.
Hal itu dikatakan Juru Bicara Fraksi PKB, Yoyok Mulyadi saat menyampaikan pendapat akhir fraksinya terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jatim akhir 2025 dalam rapat paripurna, Rabu (13/5/2026).
Baca juga: Jadi Perseroda, PKB Ingatkan Khofifah soal Catatan Negatif Pansus Terkait PT PJU!
“Narasi yang disodorkan berputar pada retorika mengenai konsentrasi lulusan pendidikan tinggi dan fenomena 'mismatch' secara general, tanpa menyentuh sumbatan struktural mengapa di pusat pertumbuhan ekonomi justru terjadi marginalisasi bagi warga lokal,” katanya.
Fraksi PKB memandang, program-program yang dipaparkan seperti Millennial Job Center (MJC), revitalisasi BLK, hingga Tim Koordinasi Daerah Vokasi, merupakan program yang bersifat umum dan tidak menyasar problem spesifik di wilayah-wilayah urban yang memiliki kompleksitas masalah yang berbeda dengan perdesaan.
Atas dasar evaluasi tersebut, Fraksi PKB meminta Pemprov Jatim untuk segera melakukan tiga langkah nyata.
Pertama, memeriksa kepatuhan industri terhadap penyerapan tenaga kerja lokal di Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kabupaten Gresik, Kota Probolinggo, Kota Surabaya, Kota Mojokerto, dan Kota Pasuruan.
“Kedua, menerbitkan sanksi tegas bagi perusahaan yang mengabaikan prioritas warga lokal dalam proses rekrutmen,” kata Yoyok.
Ketiga, merumuskan strategi pengendalian urban unemployment yang lebih operasional dan spesifik wilayah, guna memitigasi kerentanan bagi pengangguran di perkotaan.
Baca juga: PT PJU Jadi Perseroda, PKB: Ubah Kinerja, Jangan Sekadar Ganti Papan Nama!
Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, secara keseluruhan jumlah pengangguran di Jatim mencapai 892,64 ribu orang dari total penduduk angkatan kerja 25,14 juta orang pada Februari 2026.
Berdasarkan TPT angkanya mencapai 3,55 persen. Hal itu berarti dari 100 orang angkatan kerja di Jatim terdapat sekitar 3 atau 4 orang penganggur.
Pada Februari 2026, TPT mengalami penurunan 0,06 persen dibandingkan dengan Februari 2025. Namun angka menganggur justru terkonsentrasi pada penduduk berpendidikan tinggi.
Lulusan universitas memiliki TPT tertinggi di Jatim sebesar 6,04 persen, disusul lulusan SMA yang menyumbang 5,75 persen.
Sedangkan persentase pekerja lulusan D4, S1, S2 dan S3 menunjukkan penurunan dari 2,22 juta orang menjadi 1,90 juta orang pada Februari 2026, dibanding periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: PKB Beri Waktu Khofifah 12 Bulan Benahi BUMD, Ancam Gunakan Hak Interpelasi!
Dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan (4,09 persen) lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah perdesaan (2,68 persen).
Dibandingkan Februari 2025, TPT perkotaan mengalami kenaikan 0,33 persen, dan TPT perdesaan mengalami penurunan 0,72 persen.{*}
| Baca berita LKPJ Gubernur Jatim. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur