57 Bhikkhu ASEAN Singgah di Surabaya, Tiap Hari Jalan Kaki 50 Km Menuju Borobudur

Reporter : Andriansyah  |   Jumat, 15 Mei 2026 18:27 WIB
MENUNJU BOROBUDUR: 57 Bhikkhu ASEAN singgah di Balai Kota Surabaya, bawa misi toleransi. | Foto: Pemkot Surabaya

SURABAYA | Barometerjatim.com – Pemkot Surabaya menyambut hangat kehadiran rombongan bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) di lobi Balai Kota Surabaya, Jumat (15/5/2026). 

Kehadiran para bhikkhu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia itu menjadi simbol kuat persaudaraan lintas agama, budaya, dan negara di tengah keberagaman Indonesia.

Baca juga: Surabaya Vaganza 2026 Digelar Besok, Dishub: Pilih Parkir yang Resmi!

Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dedik Irianto mengatakan bahwa perjalanan damai tersebut membawa pesan kemanusiaan yang sangat penting bagi masyarakat.

“Atas nama Pemkot Surabaya dan seluruh warga Kota Surabaya, saya mengucapkan selamat datang kepada para bhikkhu dan seluruh peserta perjalanan damai yang telah menempuh perjalanan panjang melintasi berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

Menurut Dedik, kehadiran para bhikkhu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual yang mengajarkan nilai kesederhanaan, disiplin, ketekunan, dan cinta kasih kepada sesama.

“Kehadiran saudara-saudara sekalian menjadi sebuah kehormatan sekaligus membawa pesan yang sangat mulia bagi masyarakat, yakni pesan tentang perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Dia menegaskan, Surabaya sebagai kota yang dibangun dengan semangat gotong royong dan kebhinekaan percaya bahwa perdamaian harus diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya menjaga persaudaraan antarumat beragama maupun antarbangsa.

Dedik berharap kegiatan IWFP 2026 dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi muda, untuk terus merawat toleransi dan harmoni sosial di tengah perbedaan.

Sambutan Hangat

Sementara itu Ketua Panitia IWFP Jawa Timur, Irwan Pontoh mengungkapkan bahwa rombongan tahun ini terdiri atas 57 bhikkhu, yakni 43 dari Thailand, 4 dari Malaysia, 3 dari Laos, dan 7 dari Indonesia.

Perjalanan damai tersebut dipimpin Bhante Phanarin Sumetho dari Thailand. Irwan menyebut, para bhikkhu berjalan kaki dari kawasan Panjang Jiwo menuju Balai Kota Surabaya dengan waktu tempuh sekitar satu jam 15 menit.

“Kami sendiri cukup terkejut sekaligus kagum. Rute yang biasanya ditempuh menggunakan kendaraan itu, pagi ini berhasil dilalui para bhikkhu dengan berjalan kaki secara lancar dan penuh semangat,” katanya.

Baca juga: Surabaya Tambah 3 PAUD Negeri, Ada yang Unik Lokasinya Dekat Pasar!

Dia menjelaskan, rombongan bhikkhu telah tiba di Denpasar sejak 7 Mei 2026 dan akan melintasi 10 kabupaten/kota di Jawa Timur selama 11 hari sebelum menuju Yogyakarta dan Candi Borobudur untuk mengikuti rangkaian Hari Raya Waisak Nasional.

Rencananya, rombongan akan tiba di Borobudur pada 28 Mei untuk mengikuti persiapan Waisak yang digelar pada 30 Mei dan diperkirakan turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Irwan juga mengapresiasi dukungan masyarakat di sepanjang perjalanan. Menurutnya, sambutan hangat datang dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, pedagang kecil, tokoh agama, hingga masyarakat lintas iman.

Tidak Cari Duniawi

Ketua Rombongan Bhikkhu, Bhante Phanarin Sumetho dari Thailand, mengatakan Walk for Peace bertujuan membangun perdamaian antarumat beragama dan antarnegara di kawasan ASEAN, khususnya Thailand, Indonesia, Laos, dan Malaysia.

“Harapannya, melalui kegiatan ini dapat terjalin persatuan, kasih sayang, dan persaudaraan sehingga dunia menjadi tempat yang lebih damai dan nyaman untuk ditinggali,” katanya.

Baca juga: Warga Keluhkan Operasional Pasar, Eri Cahyadi Tegas ke Pengelola dan Pedagang!

Dia menegaskan, para bhikkhu tidak berjalan untuk mencari keuntungan duniawi, melainkan untuk menebarkan nilai persaudaraan, kebajikan, dan kepedulian antarsesama manusia.

Bhante Phanarin mengaku terharu dengan sambutan masyarakat Indonesia selama perjalanan berlangsung. Bahkan, menurutnya, masyarakat lintas agama turut memberikan dukungan dan bantuan kepada para bhikkhu.

“Kebahagiaan itu terlihat jelas sepanjang perjalanan. Bahkan sejak awal perjalanan, masyarakat lintas agama turut hadir memberikan sambutan hangat, dukungan, dan bantuan kebutuhan para bhikkhu,” ujarnya.

Dalam perjalanan sejauh 40 hingga 50 kilometer per hari, para bhikkhu kerap menghadapi rasa lelah dan sakit. Namun dukungan masyarakat menjadi kekuatan besar untuk terus melangkah menuju Borobudur.{*}

| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur


Berita Terbaru

Berita Populer