Pengamat Baca Peluang Demokrat Jatim Bangkit di 2029, Asal Tak Salah Pilih Pengurus!
SURABAYA | Barometerjatim.com – Pengamat Politik Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) Baihaki Siratj memandang, Partai Demokrat Jatim berpeluang bangkit pada Pemilu 2029 setelah kembali dinakhodai Emil Elestianto Dardak.
Syaratnya, Demokrat Jatim harus menjadi partai yang inklusif. Jangan sampai dicap sebagai partai keluarga dan tidak memberi kesempatan pada kader lain untuk berkontribusi.
Baca juga: Hasil Survei PPP Masih Terpuruk di Jatim, Mardiono Sentil Kerja Elite Partai!
"Demokrat Jatim harus jauh dari kata partai keluarga. Tren survei kami menunjukkan, 47,5 persen warga Jatim sangat anti terhadap partai keluarga,” katanya, Sabtu (31/10/2026).
“Demokrat harus jadi partai inklusif, terbuka peluang untuk semua kader mengabdi di berbagai posisi," tandasnya.
Karena itu, kepengurusan Demokrat Jatim periode 2026-2031 di bawah Emil Dardak yang masih digodok harus berisi figur-figur yang mau berkorban dan bekerja keras untuk partai.
"Kalau pengurus inti berisi keluarga dari pendiri partai tentu saja akan sulit partai berkembang, apalagi kontribusi untuk partai masih sangat minim,” katanya.
“Karena tipikal warga Jatim ini cukup berbeda dengan provinsi lain, yang sebenarnya tidak suka dengan dinasti," jelas Baihaki.
Lihat Realitas Jatim
DPP Partai Demokrat, lanjutnya, harus melek terhadap realitas bahwa Jatim ini bisa menjadi lumbung suara asal pendekatan sejak awal baik.
“Adanya sosok Emil Dardak sudah memberi angin segar dan elektoral, namun itu perlu diimbangi oleh kader atau pengurus yang militan dan mau berkorban untuk partai,” ujar Baihaki.
“Kalau keluarga Cikeas dijadikan pengurus di Jatim, saya lihat ada kecenderungan irama partai akan berbeda dan berpotensi turun lagi di Pemilu 2029," tegasnya.
Baca juga: PPP Incar Satu Fraksi DPRD Surabaya di 2029, Lecut Kader Cari 200 Ribu Suara!
Selain itu, Baihaki menyebut sosok Emil Dardak dikenal bersih, pintar harus bisa diimbangi pengurus Demokrat Jatim periode 2026-2031.
"Jangan sampai ada kader atau pengurus yang terjerat kasus hukum, karena itu sangat berdampak pada elektoral partai,” ujarnya.
“Partai harus mengambil kader yang terbaik, loyal, dan tentunya bebas dari kasus hukum untuk mengisi kepengurusan Demokrat Jatim ke depan."
Menurut Baihaki, Pemilu 2029 adalah momentum bagi Demokrat untuk bisa bangkit lagi setelah mengalami tren kemunduran sejak Pemilu 2014. Apalagi dalam survei Agustus 2026, elektoral Demokrat menunjukkan grafik kenaikan.
"Pasca Musda 2022 lalu, kami memiliki data survei Demokrat di Juli 2022 elektabilitas Demokrat di angka 6,17 persen,” katanya.
Angkanya tersebut disebutnya merosot akibat dampak Musda. Sedangkan per Agustus 2026 saat mendekati acara Musda, elektabilitas Demokrat di angka 12,5 persen.
Baca juga: Emil Dardak Nakhodai Lagi MES Jatim, Khofifah Puji Dedikasinya untuk Ekonomi Syariah!
"Berkaca saja dari pengurus 2022-2027, dimana banyak gejolak yang berdampak pada hilangnya banyak kursi Demokrat di Jatim pada Pemilu 2024,” katanya.
Maka, tegas Baihaki, pelajaran di Musda 2022 harus benar-benar dipertimbangkan Demokrat untuk menentukan pengurus yang benar-benar mau bekerja dan loyal untuk partai guna menghadapi Pemilu 2029.
“Kalau mengandalkan trah keluarga saja tidak cukup, dan tentunya pengurus harus bersih dari kasus hukum," pungkasnya.{*}
| Baca berita Demokrat Jatim. Baca tulisan terukur Roy Hasibuan | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur