PKB Incar Kursi Gubernur Jatim Pasca Khofifah, Siapkan Halim Iskandar?

Reporter : -
PKB Incar Kursi Gubernur Jatim Pasca Khofifah, Siapkan Halim Iskandar?
INCAR KURSI GUBERNUR: Halim Iskandar, disiapkan PKB maju di Pilgub Jatim pasca Khofifah? | Foto: Barometerjatim.com/BKT

SURABAYA | Barometer Jatim – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim mengincar kursi gubernur pasca Khofifah Indar Parawansa, terlebih jika Pilgub Jatim dipilih DPRD alias tidak dipilih rakyat secara langsung.

“Seluruh partai punya target yang sama. Bukan hanya PKB, saya pikir semua menarget untuk bisa mengambil posisi Jatim 1,” kata Ketua DPW PKB Jatim, Abdul Halim Iskandar usai Pengukuhan Pengurus DPW PKB Jatim Masa Bakti 2026–2031 yang dirangkai dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) dan Orientasi Politik di Surabaya, Sabtu (14/2/2026).

“Apalagi nanti ketika kebijakan sudah diambil terkait dengan pemilih oleh DPRD, pasti banyak yang berminat karena itu akan lebih akuntabel dibanding dipilih oleh rakyat langsung,” tandasnya.

PKB sendiri mendukung Pilgub Jatim dipilih DPRD, lanjut politikus yang akrab disapa Gus Halim tersebut, lantaran selama ini legislator di tingkat provinsi disebutnya tidak mempunyai wilayah.

“Teman-teman DPRD sejak dulu saya bilang sampeyan ndak punya wilyah. Keluar dari Indrapura itu miliknya Surabaya, ke utara sedikit miliknya Gresik. Makanya sangat layak kalau kemudian gubernur dipilih oleh DPRD,” ujarnya.

Akankah holopis kuntul baris akan kembali muncul di Pilgub Jatim? “Ha.. ha.. wis.. wis..” katanya sambil berlalu.

Holopis kuntul baris adalah jargon yang digaungkan Halim yang sempat mencalonkan diri sebagai kandidat Cagub Jatim di 2018. Namun pencalonannya batal karena PKB memutuskan mengusung Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.

Sejak 2008 Selalu Kalah

Sedikit me-review, di arena Pilgub Jatim sejak dipilih secara langsung pasca reformasi, rapor PKB terbilang buruk karena calon yang diusung tak pernah menang.

Pada Pilgub Jatim 2008, PKB yang mengusung Achmady-Suhartono (Achsan) kalah telak hanya memperoleh 8,21% suara, langsung kandas di putaran pertama. 

Bahkan, paslon PKB masih kalah dengan paslon yang diusung PDIP, Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) yang meraih 21,19%. Juga masih kalah dengan pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam) yang diusung Golkar (19,34%).

Setelah digelar sebanyak tiga kali putaran, Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) yang diusung Demokrat-PAN akhirnya tampil sebagai pemenang, meraih 50,20% suara mengalahkan Khofifah-Mudjiono (Kaji/49,80%). 

Kalah di Pilgub Jatim 2008, PKB yang berkoalisi dengan PMB, PK, PPNUI dan PKPI berbalik mengusung Khofifah yang berpasangan dengan Herman Sumawiredja (Berkah). 

Hasilnya? Alih-alih menang, perolehan suara Khofifah malah ter-downgrade satu juta lebih, berkurang menjadi 37,62%. Sebaliknya, incumbent Karsa yang diusung Demokrat, Golkar, PAN dan partai nonkursi menang dengan 47,25%.

Berikutnya di Pilgub Jatim 2018, PKB semula mengusung Saifullah Yusuf dengan Abdullah Azwar Anas. Tapi Anas kemudian mundur setelah terjerat kasus foto syur dan posisinya diganti Puti Guntur Soekarno.

Hasilnya sama dengan dua Pilgub Jatim sebelumnya. Jagoan PKB kalah dengan Khofifah yang kali ini berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak, perolehan suaranya 53,55 persen berbanding 46,45%.{*}

| Baca berita Pilgub Jatim. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.