15 Orang Awasi 2.600 Warga Binaan, Petugas Rutan Medaeng Digembleng soal Intelijen!
SIDOARJO | Barometerjatim.com – Di balik upaya menjaga keamanan, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, menghadapi tantangan berupa ketimpangan jumlah petugas pengamanan dengan penghuni rutan.
Menurut Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Kristiantoro Adi Wibowo, dalam satu regu pengamanan hanya terdapat 15 petugas, sedangkan jumlah warga binaan yang berada di dalam rutan mencapai 2.600.
“Petugas keamanan kami untuk setiap regu hanya 15 orang, sedangkan penghuni kami sekitar 2.600. Jadi, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi petugas rutan,” katanya menyambut Pelatihan Dasar Intelijen yang digelar Polsek Waru melalui Unit Intelijen, Senin (19/10/2026).
Kondisi tersebut, tandas Kristiantoro, membuat penguatan kemampuan personel, koordinasi, serta penerapan strategi pencegahan menjadi semakin penting.
Karena itu, deteksi dini diharapkan mampu membantu petugas menentukan prioritas pengawasan dan mengantisipasi potensi gangguan secara lebih terukur.
Tingkatkan Pengawasan
Selain pembekalan intelijen, pihak Rutan Surabaya juga terus meningkatkan intensitas pengawasan terhadap warga binaan. Langkah tersebut dilakukan melalui kontrol keliling yang lebih intensif, guna memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga di lingkungan rutan.
“Yang pasti, peningkatan pengawasan kita kepada warga binaan lebih intensif, termasuk peningkatan intensitas kontrol keliling petugas kami dalam menjaga keamanan dan tata tertib di dalam rutan,” ucapnya.
Dia juga memastikan, hingga saat ini kondisi Rutan Surabaya masih dalam keadaan aman dan kondusif. Meski berbagai persoalan tetap berpotensi muncul dalam pelaksanaan tugas, pihaknya menyatakan terus berupaya menyelesaikannya melalui mekanisme penanganan yang ada.
Sementara itu Kapolsek Waru, melalui Kanit Intel Polsek Waru, Iptu Ari Tri Atmaja mengatakan pembekalan tersebut bertujuan memberikan pemahaman dasar intelijen kepada petugas pengamanan, terutama dalam mengenali potensi ancaman dan mengambil langkah pencegahan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Jadi kita memberikan bekal kepada seluruh anggota pengamanan rutan, yang pertama yaitu bagaimana cara melakukan pengamanan dan bagaimana melakukan mitigasi agar rutan ini berjalan tertib dan lancar sesuai SOP,” ujarnya.
Menurut Ari, salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian dalam pengamanan rutan adalah potensi ancaman yang dapat muncul dari berbagai faktor, misal kondisi psikologis dan keinginan warga binaan untuk kembali bebas.
Karena itu, kemampuan membaca situasi, mengenali indikasi awal gangguan, serta menyampaikan informasi secara tepat menjadi bagian penting bagi petugas keamanan dalam upaya pencegahan.
“Langkah deteksi dini dari intelijen ini bisa menjadi upaya menangkal dan pencegahan. Jadi, kita berikan dasar-dasar konsep intelijen, semoga rekan-rekan petugas yang melakukan pengamanan itu bisa bekerja dengan baik dan melakukan deteksi maupun mitigasi,” jelasnya.
Dia menambahkan, situasi keamanan di wilayah Sidoarjo, termasuk lingkungan Rutan Surabaya, selama ini terjaga dengan baik. Kondisi tersebut tidak terlepas dari sinergi dan komunikasi yang dibangun antara jajaran pemasyarakatan dan Polri.
“Alhamdulillah, sampai saat ini Sidoarjo dalam keadaan aman dan kondusif. Ini berkat kerja sama dan sinergitas antara Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) dengan Polri,” ungkapnya.{*}
| Baca berita Rutan Medaeng. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur