Komedi Desil: Saat Dargombes Dilarang Miskin, Investor Asing Pilih Angkat Kaki!
Oleh: KH Zahrul Azhar As'ad*
SELAMAT datang di Negeri Desilia. Sebuah wilayah ajaib di mana status sosial Anda ditentukan oleh algoritma Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), bukan dari isi dompet.
Belakangan ini, Menteri Sosial (Mensos) sukses mempertontonkan sirkus birokrasi lewat "politik desil". Demi mengejar target kilat agar kementeriannya terkesan berhasil memangkas angka kemiskinan, formula di atas kertas pun disulap.
Contohnya Dargombes, buruh serabutan yang nyata-nyata mengantongi dompet kosong melompong. Sialnya, akibat pembaruan data sepihak oleh sistem Proxy Means Test, status kesejahteraannya mendadak meloncat indah dari Desil 2 ke Desil 8.
Bimsalabim! Dargombes resmi menyandang status kelas menengah atas, membuat rapor kerja Mensos tampak hijau royo-royo. Penderitaannya justru dimulai: bantuan sosialnya dicabut dan UKT anaknya meloncat tinggi. Ia dipaksa hidup dengan standar orang kaya hanya bermodalkan dompet kosong.
Di dalam negeri, manipulasi data ini menjadi salah satu pemicu utama ambrolnya public trust (kepercayaan publik) terhadap pemerintah. Masyarakat sadar sedang disuguhi ilusi statistik: angka kemiskinan dilaporkan menyusut, namun realitas di lapangan menunjukkan daya beli masyarakat bawah sedang sekarat.
Rakyat kian mafhum bahwa regulasi sering kali dirancang bukan untuk menolong mereka, melainkan untuk memoles angka pencitraan birokrasi. Ironisnya, hilangnya kepercayaan publik ini menemui gaungnya di panggung internasional, menjadi salah satu dari sekian banyak penyebab mengapa investor luar negeri kehilangan kepercayaan pada pasar domestik.
Asing tidak bodoh. Ketika lembaga pemeringkat global seperti MSCI mengancam mendepak Indonesia menjadi Standalone Market (terisolasi seperti halnya Argentina, Ukraina, Lebanon, Nigeria, dan Palestina), mereka sedang melihat sebuah pola besar: hobi memoles realitas.
Hubungan antara nasib Dargombes dan runtuhnya lantai bursa sebenarnya sangat linier: ketidakjujuran data. Bagi investor global, data integrity (integritas data) adalah harga mati.
Jika untuk urusan fundamental perut rakyatnya saja pemerintah tega memanipulasi angka desil demi panggung politik menteri, bagaimana investor bisa percaya pada validitas data laporan keuangan, data inflasi, atau kepatuhan hukum di lantai bursa?
Karut-marut politik desil di sektor sosial dirasa setali tiga uang dengan karut-marut pengawasan OJK yang lambat menindak skandal manipulasi saham-saham raksasa konglomerat. Di mata dunia, Indonesia dicap sebagai pasar yang statistiknya bisa "digoreng" sesuka hati tergantung kepentingan penguasa.
Ketidakpercayaan sistemik akibat kebiasaan memoles angka inilah yang akhirnya memicu larinya dana asing secara masif (capital outflow), merontokkan rupiah ke level terendah, dan berujung pada hancurnya IHSG terkini hingga terpaksa memberlakukan trading halt (pembekuan sementara perdagangan).
Investor asing memilih pamit massal bukan karena mereka takut pada kemiskinan Indonesia, melainkan takut pada ketidakjujuran tata kelolanya.
Inilah puncak komedi satir ekonomi kita: politik desil mungkin berhasil menghibur para birokrat dengan laporan kemiskinan yang tampak indah di atas kertas. Namun, pasar modal tidak bisa dikelabui oleh sulap angka.
Layar monitor di Bursa Efek Indonesia yang menyala merah membara menjadi bukti nyata bahwa ketika kepercayaan publik dan kepercayaan global sudah terbakar habis akibat manipulasi, dompet kosong Dargombes tidak akan pernah bisa diselamatkan oleh selembar kertas laporan menteri.
Tapi setidaknya, kita patut bersyukur atas satu hal. Berkat mukjizat politik desil ini, para santri di pondok pesantren pelosok negeri kini bisa tidur nyenyak penuh kebanggaan. Tanpa perlu mencicipi suksesnya hilirisasi atau merintis bisnis startup, keluarga mereka di kampung halaman mendadak naik kasta.
Mereka bukan lagi golongan keluarga miskin penerima zakat; berkat ketukan sakti algoritma kementerian, mereka kini sah menjadi warga elite Desil 8. Biarlah IHSG hancur berdarah-darah dan investor asing angkat kaki dari Jakarta, yang penting statistik mencatat: para santri kita sudah hidup sejahtera di atas kertas negara!{*}
* KH Zahrul Azhar As'ad alias Gus Hans adalah Sekjen Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok dan Wakil Rektor Unipdu Jombang.
| Baca Opini Terkait:
- Opini Gus Hans: Dikira Bisa Disetir, Karakter Asli Gus Kikin Bakal Bikin Elite Politik Kecewa!
- Opini Gus Hans: Supremasi AHWA Jaga Marwah Organisasi Melalui Keteladanan Ulama
- Catatan Gus Hans dari Beijing: Kasihan Nusron Wahid
- Catatan Gus Hans dari Frankfurt Jerman: Berjihad Dalam Senyap
- Catatan Gus Hans dari Madinah: MBS dan Mahsa Amini di Balik Keterbukaan Saudi dan Revolusi Iran