Opini Gus Hans: Pegasus Senjata Penyadap Buatan Israel, Andalan Para Tiran
JIKA benar-benar para jenderal ini menggunakan alat penyadap Pegasus, maka runtuhlah sudah ilusi privasi di republik ini, menyisakan kenyataan pahit bahwa instrumen pertahanan negara telah bergeser menjadi senjata pengawas yang menakutkan.
Di panggung global, Pegasus — sebuah spyware ciptaan NSO Group asal Israel — telah lama menyandang reputasi kelam. Ia bukan sekadar alat pelacak kriminal biasa, melainkan senjata siber tingkat militer berkemampuan zero-click yang mampu menembus pertahanan ponsel pintar secara senyap tanpa jejak.
Di tangan rezim yang haus kontrol, teknologi ini dengan cepat menjelma menjadi tangan kanan paling andal bagi para tiran di seluruh penjuru dunia untuk membungkam kritik.
Di sinilah letak puncak kemunafikan yang luar biasa mencolok. Di panggung publik, retorika boikot terhadap seluruh produk yang terafiliasi dengan Israel diteriakkan dengan lantang demi komitmen kemanusiaan.
Bahkan kita menolak kurma, menyingkirkan merek makanan, hingga mengharamkan kosmetik dari Israel demi menunjukkan solidaritas moral. Namun di ruang gelap kekuasaan, ketika para tiran membutuhkan alat untuk mencengkeram takhta, prinsip moral tersebut mendadak menguap tanpa bekas.
Yang paling menyakitkan, anggaran APBN yang diperoleh dari keringat pajak rakyat justru dialirkan untuk menguntungkan industri siber Israel, yang kemudian senjatanya berbalik arah digunakan untuk memata-matai rakyatnya sendiri.
Sungguh sebuah standar ganda yang menggelikan: rakyat diminta memboikot di pasar swalayan, sementara elite penguasa justru memborong teknologi siber premium dari negara yang secara resmi tidak diakui keberadaannya.
Dunia internasional telah lama menyaksikan bagaimana para tiran memanfaatkan komoditas spionase legal ini tanpa memedulikan batas moral. Di Arab Saudi, di bawah kendali de facto Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman, Pegasus dilaporkan digunakan secara intensif untuk memata-matai para pembangkang politik kerajaan, termasuk lingkaran terdekat jurnalis Jamal Khashoggi sebelum ia dibunuh secara tragis.
Sementara itu, di Hungaria, Perdana Menteri Viktor Orban kedapatan menggunakan Pegasus untuk meretas ponsel para jurnalis investigasi yang kerap mengkritik kebijakannya.
Bagi para tiran ini, termasuk oknum petinggi di dalam negeri, transaksi dagang dengan musuh ideologis bukanlah masalah besar, selama barang yang dibeli mampu memberikan garansi kontrol informasi secara absolut untuk melacak para pimpinan Parpol, aktivis, jurnalis, hingga pemimpin tertinggi negara demi kepentingan faksi internal.
Pada akhirnya, Pegasus hanyalah sebuah cermin dari kerakusan kekuasaan yang penuh kepura-puraan. Perangkat siber buatan Israel ini akan tetap menjadi andalan para tiran selama hukum internasional dan konstitusi domestik gagal membatasi ruang gerak penyalahgunaan teknologi.
Skandal penyadapan ini harus menjadi lonceng peringatan keras yang menelanjangi kepalsuan di balik meja birokrasi: bahwa di hadapan hasrat untuk berkuasa, boikot hanyalah komoditas jualan politik, sementara uang pajak rakyat diubah menjadi modal untuk membiayai sendiri rantai pasok pengawasan digital yang opresif.{*}
* HM Zahrul Azhar As'ad alias Gus Hans - Pengamat Hubungan Internasional, Alumni Hubungan Internasional UPN V Yogyakarta, Wakil Rektor Unipdu Jombang.
| Baca Catatan dan Opini Gus Hans:
- Dikira Bisa Disetir, Karakter Asli Gus Kikin Bakal Bikin Elite Politik Kecewa!
- Catatan dari Beijing: Kasihan Nusron Wahid
- Muktamar yang Tak Berdaya di Depan Istana
- Supremasi AHWA Jaga Marwah Organisasi Melalui Keteladanan Ulama
- Catatan dari Frankfurt Jerman: Berjihad Dalam Senyap