La Nyalla Imbau Setop Ujaran Idiot, Kampret dan Cebong

-
La Nyalla Imbau Setop Ujaran Idiot, Kampret dan Cebong
STOP UCAPAN NEGATIF: La Nyalla Mattalitti, jangan lagi ada kata idiot, kampret dan cebong jelang Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN SURABAYA, Barometerjatim.com Ungkapan bertendensi negatif jelang Pilpres 2019 membuat selisih paham memuncak di antara dua kubu bakal Capres-Cawapres, Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Paling nyinyir yang bertebaran di media sosial yakni "Cebong" dan "Kampret". Bahkan suhu Pilpres di Surabaya ikut memanas lantaran muncul ujaran "Banser Idiot". Miris melihat situasi ini, Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan tidak saling menjelekkan. Baca: Bakal Dipolisikan, Pelaku Ujaran Banser Idiot Minta Maaf Harganya terlalu mahal kalau Pilpres ini jadi ajang bullying massal. Saling mengatai satu sama lain. Cukup sudah! Jangan lagi ada kata idiot, kampret, atau cebong terlontar di antara sesama anak bangsa, ujarnya saat dihubungi media, Selasa (28/8). Kampret adalah julukan warganet (netizen) yang berada di kubu non-Jokowi, sedangkan cebong sebutan  untuk pendukung Prabowo. Adapun kata idiot viral di tengah suasana bentrok antara pendukung dan penolak deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya yang akhirnya batal digelar. Saya ngeri bagaimana dampaknya ke anak-anak kita melihat orang-orang dewasa saling teriak kampret, cebong, dan kata-kata kasar lain," sambut La Nyalla. Baca: Dhani: Saya Enggak Bilang Banser Idiot, Lihat Aja Videonya "Kemarin anak saya yang masih sekolah juga tanya: Pa, ini kenapa sih semua saling ejek? Wah, bahaya juga dampak serang-serangan di media sosial ini ke anak-anak kita semua. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim itu menambahkan, Coba bayangkan kalau anak-anak kita berubah jadi generasi muda yang hobi bullying, suka melontarkan kata-kata kasar. Apa kita sebagai orang tua rela? Menurut La Nyalla, saling melontarkan ejekan juga tidak sesuai ajaran agama, dan tak sesuai adat ketimuran yang dipegang erat bangsa Indonesia. Kita ini manusia kan tidak tahu apa-apa. Belum tentu orang yang kita caci, itu lebih jelek dari kita. Bisa saja lebih baik di mata Allah Swt, katanya. Baca: Pilpres 2019, Khofifah: Mari Jaga Jatim Tetap Guyub Rukun La Nyalla mengajak agar mengelola perbedaan pendapat di Pilpres dengan dewasa. Jadikan perbedaan pendapat menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, bukan melemahkan bangsa, ujarnya. Silakan berdebat dan berbeda pendapat sampai jungkir balik, tapi jangan melontarkan ungkapan yang kasar. Toh kita ini sebenarnya saudara. Saran saya ini berlaku sama untuk pendukung Jokowi, Prabowo, dan siapa pun, pungkas calon anggota DPD RI itu.
Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.