Dikira Bisa Disetir, Karakter Asli Gus Kikin Ini Bakal Bikin Elite Politik Kecewa!
Oleh: KH Zahrul Azhar As’ad*
PEMILIHAN Ketua PWNU Jawa Timur pada tahun 2018 meninggalkan catatan tersendiri dalam sejarah dinamika organisasi Nahdlatul Ulama. Di tengah kuatnya arus dukungan terhadap figur tertentu yang kala itu disokong penuh oleh kelompok pendukung calon Gubernur Jatim yang kalah, ada sebuah langkah berani melawan arus yang kami ambil.
Baca juga: Kenang G30S PKI, Khofifah ke Warga Jatim: Kibarkan Bendera Setengah Tiang!
Di saat gelombang besar para pemuka agama dan kiai condong ke satu arah demi kepentingan politik pasca Pilgub, kami memilih berdiri di seberang arus untuk mendeklarasikan dukungan agar KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin bersedia memegang nakhoda PWNU Jatim.
Mendorong Gus Kikin sebagai calon kala itu bukanlah perkara mudah. Selain pembawaannya yang tenang dan tidak agresif dalam "menjajahkan diri", figur beliau pada masa itu belum sepenuhnya dikenali secara luas oleh warga Nahdliyin di akar rumput.
Namun, ada alasan prinsipil di balik keputusan melawan arus tersebut. Gus Kikin adalah pribadi yang relatif apolitik, seseorang yang telah "selesai dengan hidupnya" — artinya tidak lagi mengejar ambisi duniawi atau jabatan pribadi.
Lebih dari itu, kehadirannya diharapkan mampu membangun jembatan kolaborasi yang produktif dengan Pemprov Jawa Timur, termasuk dalam urun rembuk strategis mengelola potensi daerah seperti sektor minyak di Jawa Timur demi kemaslahatan umat.
Namun, sebagai catatan reflektif yang jujur, ketenangan dan sikap apolitik Gus Kikin selama memimpin PWNU Jawa Timur bukannya tanpa catatan. Harus diakui secara objektif bahwa kepemimpinan beliau di tingkat wilayah cenderung landai, minim gebrakan yang menonjol, dan terkadang terkesan terlalu bermain aman di zona nyaman.
Gaya kepemimpinan yang landai ini tentu tidak boleh terulang kembali ketika beliau kini memegang amanah tertinggi di tingkat pimpinan pusat. Skala PBNU menuntut respons yang jauh lebih taktis, dinamis, dan progresif dalam menjawab tantangan zaman yang kian rumit.
Kini, dinamika baru telah bergulir. Keputusan dan hasil muktamar yang baru saja usai tentu harus diakui dan dihormati bersama.
Kita mahfum bahwa tidak ada sistem yang sempurna; selalu ada kekurangan dan ketidaksempurnaan di sana-sini dalam sebuah proses organisasi besar. Namun, legitimasi hasil tersebut tetap menjadi pijakan bersama untuk melangkah ke depan.
Tulisan ini sengaja baru dirilis sekarang — setelah pembentukan tim formatur selesai dilakukan. Langkah ini diambil semata-mata demi menghindari fitnah dan prasangka miring.
Opini ini sama sekali bukan upaya oportunis untuk mengambil hati Gus Kikin atau mencari panggung di struktur yang baru, melainkan murni sebuah catatan dari seorang kader yang peduli pada masa depan organisasi.
Ketika menulis catatan ini, saya kebetulan sedang berada di China. Di negeri ini, saya menyaksikan sebuah realitas yang sangat memprihatinkan sekaligus menjadi tamparan keras.
Saya bertemu dengan warga muslim lokal yang secara kultural masih merawat identitas keislamannya, tetapi secara literasi agama telah mengalami kemunduran yang luar biasa. Banyak dari mereka yang sudah tidak bisa lagi membaca tulisan Arab, apalagi memahami pidato berbahasa Arab.
Baca juga: Jatim Tuan Rumah FESyar Jawa, Gubernur BI: Kita Tak Bisa Pindah ke Lain Hati!
Saat saya menyodorkan gawai saya dan meminta salah satu dari mereka membaca Al Qur'an digital, dia benar-benar terdiam — tidak mampu mengeja satu huruf pun. Ironisnya, dia masih hafal luar kepala doa-doa shalat.
Fenomena di China ini menjadi lonceng peringatan yang sangat nyaring bagi kita di tanah air. Di titik inilah esensi dari perjuangan Nahdlatul Ulama yang sesungguhnya diuji.
Jika para elite NU hari ini hanya sibuk memikirkan intrik politik, berebut panggung kekuasaan, atau terjebak dalam urusan bagi-bagi konsesi tambang, lalu siapa yang bisa menjamin masa depan generasi kita?
Siapa yang bisa menggaransi bahwa dalam waktu dekat, umat Islam di Indonesia tidak akan mengalami nasib yang sama seperti saudara-saudara kita di China — kehilangan akar literasi dan spiritualitas Islamnya akibat kelalaian para pemimpinnya?
Oleh karena itu, rekam jejak dan integritas Gus Kikin kini kembali diuji ketika beliau memegang amanah yang lebih besar di PBNU.
Ada kekhawatiran yang wajar bilamana orang-orang di sekitar kekuasaan mengira bahwa sosok yang tenang dan santun seperti Gus Kikin akan mudah "disetir" demi memenuhi hasrat politik praktis sesaat.
Namun, keyakinan saya tetap pada karakter dasarnya: Mereka yang mencoba mendikte beliau demi kepentingan di luar garis khidmah organisasi dipastikan akan mendapati kekecewaan.
Baca juga: Emil Dardak Nakhodai Lagi MES Jatim, Khofifah Puji Dedikasinya untuk Ekonomi Syariah!
Harapan kita semua adalah agar Gus Kikin tetap teguh menjadi pribadi yang autentik—menempatkan Nahdlatul Ulama pada posisi yang luhur: Netral, independen, dan tidak pernah menjadi alat bagi kekuasaan mana pun.
NU harus senantiasa berada di atas semua golongan, kembali fokus pada basis dakwah, pendidikan, dan menjaga moral umat. Menjadi rumah besar yang mendinginkan, bukan justru terseret dalam arus kepentingan pragmatis yang mencederai marwah para pendirinya.
Sebab pada akhirnya, mereka yang mengira Gus Kikin bisa disetir hanya akan mendapati diri mereka gigit jari dan kecewa oleh integritas aslinya yang tak goyah oleh iming-iming kekuasaan.{*}
*KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans adalah Wakil Rektor Unipdu Jombang, Sekjen Gernas Ayo Mondok.
| Baca berita terkait Gus Hans. Baca OPINI terukur | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur