Emil Dardak, Sosok Milenial Penggerus Popularitas Anas

-
Emil Dardak, Sosok Milenial Penggerus Popularitas Anas
OLD AND NOW: Azwar Anas (kiri), popularitasnya sempat menopang Gus Ipul mulai tergerus Emil Dardak (kanan) yang memutuskan menjadi Cawagub pendamping Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN SURABAYA, Barometerjatim.com Tren pemberitaan Abdullah Azwar Anas cukup menopang di saat popularitas maupun elektabilitas Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mulai 'tergerus'. Tapi itu beberapa bulan lalu, ketika Emil Dardak belum ada kepastian digandeng Khofifah Indar Parawansa. Begitu beredar foto Khofifah-Emil membawa map berisi SK rekomendasi pencalonan Cagub-Cawagub Jatim dari Partai Demokrat, 21 November lalu, tren pemberitaan Emil setali tiga uang dengan Khofifah: Meroket! Hasil riset IT Research and Politic Consultant (Ipol) Indonesia mencatat, pada tanggal itu volume pemberitaan Emil di atas 150. Sementara Anas di bawah 50, bahkan disalip Ipong Muchlisson (lihat grafis) yang sebelumnya diberitakan 'tarik ulur' dengan Emil untuk meraih tiket Cawagub pendamping Khofifah. Baca: Tren Pemberitaan Khofifah Meroket, Gus Ipul Terjun Bebas Menurut Senior Advisor Ipol Indonesia, Maman Suherman, keputusan Khofifah menggandeng Emil sudah diprediksi lembaganya dan memang tepat untuk menggaet pemilih pemula. Generasi Y mungkin tidak mengenal sosok Khofifah atau bahkan Gus Ipul, mereka lebih mengenal Emil sebagai sosok bupati milenial. Sosok calon pemimpin muda ini akan mempengaruhi 33 persen pemilih di Indonesia di 171 Pilkada se-Indonesia," paparnya. Terlebih generasi milenial di Jatim, menurut riset Ipol Indonesia, jumlahnya mencapai 14 juta. Sekadar referensi, para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan medio 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Pengaruhi Cara Pandang EMIL SALIP ANAS: Volume pemberitaan Emil Dardak mulai menyalip Azwar Anas. Emil disebut tokoh muda yang bisa menggaet suara dari generasi milenial. | Grafis: Capture Ipol IndonesiaEMIL SALIP ANAS: Volume pemberitaan Emil Dardak mulai menyalip Azwar Anas. Emil disebut tokoh muda yang bisa menggaet suara dari generasi milenial. | Grafis: Capture Ipol Indonesia EMIL SALIP ANAS: Volume pemberitaan Emil Dardak mulai menyalip Azwar Anas. Emil disebut tokoh muda yang bisa menggaet suara dari generasi milenial. | Grafis: Capture Ipol Indonesia Lantas, seberapa efektifkah tren pemberitaan maupun viral linimasa untuk mendulang suara bagi pasangan calon? "Pemberitaan, sosial media akan memberi pengaruh tentang cara pandang calon pemilih, meski belum pada pengaruh apakah dia memilih atau tidak," papar CEO Ipol Indonesia, Petrus Hariyanto. Karena itu, tambah Petrus, ketika Khofifah leading maka harus diimbangi dengan penguasaan teritorial alias turun ke bawah bersama timnya untuk membangun dan memperkuat popularitas dan elektabilitasnya di grass-root. Baca: Menangkan Khofifah-Emil, Mesin Partai Demokrat Tancap Gas "Misalnya berapa pemilih milenial di Bojonegoro. Pemakai media sosial di sana berapa, kita lacak terus, sampai ketemu rumah, DPT. Ketika digarap maksimal, maka itu tadi yang saya maksud: Cerdas, karena mengenal konstituen," katanya. Lebih bahaya lagi kalau mesin Parpol lemah, sementara pasangan calon tidak rajin turun ke bawah. "Karena Pemilu pada dasarnya suoroku piro? Matematika politik saya berapa? Kalau matematikanya sudah salah, maka dia tidak akan mengerti cara membaca tren dan isu yang harus dikembangkan," jelasnya.
Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.
Tag