3 ASN Sidoarjo Dilaporkan Alami Gangguan Jiwa, Terancam Pensiun Dini!
SIDOARJO | Barometerjatim.com – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Sidoarjo mencatat sebanyak 3 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) Sidoarjo dilaporkan mengalami gangguan kejiwaan dalam 2 tahun terakhir. Ketiganya disebut-sebut mengalami depresi akibat lingkungan rumah tangga dan pekerjaan.
Kepala BKD Sidoarjo, Misbahul Munir membenarkan adanya laporan dari OPD untuk pemeriksaan kesehatan kejiwaan ASN. Namun pihaknya belum bisa menjelaskan secara detail, siapa dan apa yang menjadi faktor dan penyebab gangguan kejiwaan ASN tersebut.
"Ada laporan dari OPD untuk permintaan pemeriksaan kesehatan kejiwaan ASN, tidak banyak tapi angkanya saya tidak hafal. Datanya Ada di bidang motivasi dan disiplin," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (9/6/2026).
Sementara itu Kepala Bidang Motivasi dan Disiplin BKD Sidoarjo, Faiz Fanany mengatakan sejak 2025 hingga 2026 ada tiga orang yang tercatat mengalami gangguan kejiwaan. "Hanya 3 orang. 2 orang di 2025, dan 1 orang di 2026," rincinya.
Ketiga ASN tersebut, lanjut Faiz, berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan catatannya, mereka mengalami depresi karena lingkungan keluarga dan masalah pekerjaan. Meski demikian, hingga saat ini terkait status ASN ketiganya masih menunggu hasil pengobatan dan evaluasi.
"Perempuan semua, depresi karena lingkungan keluarga dan pekerjaan. Saat ini masih menunggu hasil pengobatan dan evaluasi, kalau hasilnya E maka pensiun dini," jelasnya.
Berbeda dengan ASN yang terjerat kasus judol atau pinjol, menurut Faiz ranahnya dikenakan indisipliner.
Bisa Siapa Saja
Di sisi lain, Direktur Rumah Sakit (RS) Jiwa Menur Surabaya, drg Vitria Dewi mengungkapkan gangguan kesehatan mental dapat menimpa siapa pun dan dari semua kalangan mana pun. Baik anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.
"Saya tidak bisa menyebutkan dari mana saja. Mohon maaf orang yang terdidik dengan baik, putus sekolah, atau pendidikannya ada kendala itu pun ya ada banyak,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/6/2026).
“Jadi saya sampaikan masalah orang kecanduan, judol, pinjol, dan gangguan kesehatan mental lainnya, bisa menimpa siapa pun dan dari kalangan mana pun," tegasnya.
Tak hanya dari kalangan orang yang memiliki pendidikan, menurut Vitria dari kalangan pebisnis maupun orang yang memiliki harta berkecukupan juga tak jarang.
"Tapi orang yang gak punya duit pun kalau dipakai judol ya banyak. Jadi artinya kasus ini bisa menimpa siapa pun dari kalangan mana pun," tambahnya.
Kenapa hal itu bisa terjadi? "Karena mereka tidak punya kekuatan mental, resiliency yang tinggi untuk mengatakan tidak (aku tidak melakukan judol dan lain-lain)," terangnya.
Bagaimana dengan kalangan ASN, calon pejabat desa, maupun legislatif?
"Itu siapa pun bisa. Tidak hanya kalah dalam pilihan, ada juga yang gak bisa sekolah aja bisa stres. Jadi anak-anak yang kemudian inginnya dapat tempat kuliah yang diinginkan tapi gak masuk sana, itu bisa jadi pemicu stres sampai jatuh depresi," jelasnya.
Setiap orang, lanjut Vitria, memiliki permasalahan yang dihadapi sejak pagi sampai malam, hingga pagi harinya lagi. Sehingga hal ini akan bergantung pada ketahanan diri masing-masing.
"Tergantung dia bisa tahan gak. Stres itu bagus lho kalau dia bisa kuat menghadapi, dia akan lebih tangguh mentalnya. Makanya sekarang yang terpenting adalah kita meningkatkan ketangguhan mental," tandasnya.{*}
| Baca berita Pemkab Sidoarjo. Baca tulisan terukur Syaikhul Hadi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur