Ketua GNAN Jatim Lebih Pas Jika Teddy Minahasa Dihukum Seumur Hidup, Lho Kenapa?

| -
Ketua GNAN Jatim Lebih Pas Jika Teddy Minahasa Dihukum Seumur Hidup, Lho Kenapa?
TUNTASKAN: Gus Hans, jangan sampai kehilangan satu nyawa tapi tak tuntaskan masalah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY

SURABAYA, Barometer Jatim – Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (GNAN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans menilai tuntutan hukuman mati terhadap mantan Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol Teddy Minahasa dalam kasus peredaran gelap narkoba sudah sesuai.

“Saya rasa tuntutan ini sudah sesuai dengan apa yang saya sampaikan beberapa bulan yang lalu, di awal-awal kasus ini muncul. Bahwa yang paling tepat adalah hukuman mati karena ini berkaitan dengan nasib masa depan bangsa, anak muda dipertaruhkan dan banyak sekali kejahatan yang ditimbulkan karena narkoba,” katanya, Kamis (30/3/2023).

Tetapi yang paling penting lagi menurut Gus Hans, jika Teddy bisa menjadi justice collaborator tentang banyaknya kasus seperti ini atau mungkin sesuatu yang sebenarnya sudah biasa dilakukan elite polisi.

“Maka mestinya dia bisa mengambil posisi menjadi semacam justice collaborator yang berkaitan dengan kasus-kasus yang lain dan ini orang hukum yang mungkin paham seperti itu. Hakim bisa meringankan hukumannya ke seumur hidup, jadi kita bisa berikan opsi kepada Teddy Minahasa hukuman mati,” katanya.

Artinya, tandas Gus Hans, kasus akan berhenti sampai di sini, karena berbagai hukuman mati terbukti tidak bisa memberikan rasa takut lagi kepada para pelaku peredaran narkoba, yang strength hitung-hitungan keekonomian sudah terlalu banyak menikmati dari hasil penjualan narkoba dibanding dengan hanya sekadar mati.

“Karena kan bisa saja uang itu masih bisa diwariskan pada anak-anaknya. Apalagi UU perampasan kekayaan juga belum diterapkan, dan apakah itu juga diterapkan pada para pelaku seperti ini berkaitan dengan narkoba,” katanya.

Membandingkan dengan Sambo

Gus Hans yang juga Ketua Gerakan Peduli Anti Narkoba (GPAN) Jatim lantas membandingkan antara Teddy dengan mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo. Hal itu bisa dilihat dari penampilann, gaya bicaranya dan juga rasa tidak bersalahnnya sangat berbeda.

“Kalau Sambo lebih tertunduk, terkesan lebih sopan dalam pengadilan, karena bisa jadi ini adalah kasus yang jarang terjadi dan memang tidak banyak terjadi atau dilakuakn jenderal yang lain,” kata Gus Hans.

“Nah sementara, coba kita lihat gaya dan model Teddy yang lebih merasa tidak bersalah. Bisa jadi disebabkan oleh pikiran dia, di bawah alam sadar dia, bahwa apa yang dilakukan sebenarnya sudah sering dilakukann para jenderal yang lain. Mungkin bisa jadi seperti itu,” sambungnya.

Teddy, lanjut Gus Hans, seolah ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu biasa dalam dunia polisi. Inilah yang harus diungkap, jangan sampai kehilangan satu nyawa (Teddy) tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang lebih luas.

“Nah bagaimana kalau misalnnya Teddy ditawari hukuman seumur hidup, tapi dia bisa memberikan informasi pada publik tentang kebiasaan-kebisaan buruk yang dilakukan oknnum-oknum kepolisian,” tuntasnya{*}

» Baca Berita Narkoba, Baca tulisan terukur Roy Hasibuan

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.