Nilai Tukar Petani Bengkulu Tertinggi se-RI, Jatim Jauh di Urutan 19!
SURABAYA | Barometer Jatim – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional mengalami peningkatan pada Desember 2025 menjadi sebesar 125,35. Lebih tinggi 1,05 persen dari catatan bulan sebelumnya 124,05.
"Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 2,08%, lebih tinggi dari peningkatan indeks yang dibayar petani sebesar 1,02%," terang Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini dalam keterangannya yang dikutip, Sabtu (10/1/2026).
NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.
NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Berdasarkan provinsi, Bengkulu mencatatkan rasio NTP tertinggi se-Indonesia sebesar 205,92. Sejumlah komoditas utama menjadi penyumbang, termasuk kelapa sawit. Sedangkan terendah yakni Maluku 94,30.
Namun urusan kenaikan, Gorontalo tertinggi (5,60%) dibandingkan kenaikan di provinsi lain. Sebaliknya, NTP Sulawesi Utara mengalami penurunan terbesar (6,16%) dibandingkan penurunan di provinsi lainnya. Bengkulu sendiri justru mengalami penurunan -0,96 persen dan Maluku -0,08%. -- lihat tabel di bawah.
Jatim Naik 3,95 Persen
Bagaimana dengan Jawa Timur? Provinsi yang dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa itu berada di urutan 19 dari 38 provinsi dengan NTP 118,96 (di bawah nasional 125,35) atau naik 3,95%. Namun kenaikan ini bukan yang tertinggi, masih di bawah Gorontalo (5,60%) dan Nusa Tenggara Barat (4,50%).
Jika dikerucutkan se-Pulau Jawa, Jatim teratas dari 6 provinsi yang ada. Disusul Jawa Barat 117,61 (naik 1,26%), Jawa Tengah 117,57 (1,25%), Banten 111,81 (0,28%), DI Yogyakarta 110,03 (2,77%) dan DKI Jakarta 108,22 (0,56%)
Mereaksi data BPS, Khofifah menyampaikan apresiasi. Baginya, NTP 118,96 dengan kenaikan 3,95% menunjukkan posisi yang sangat kuat dan mencerminkan meningkatnya daya beli serta kesejahteraan petani di Jatim.
“Capaian NTP Jatim bulan Desember merupakan yang tertinggi sepanjang 2025 dan juga tertinggi di Pulau Jawa. Ini menjadi indikator positif, bahwa pendapatan petani kita terus meningkat dan kesejahteraan mereka semakin membaik,” ujarnya.
Khofifah menjelaskan, peningkatan NTP tersebut tidak terlepas dari upaya Pemprov Jatim melalui Program Jatim Agro untuk meningkatkan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan melalui berbagai langkah dalam menjaga stabilitas harga hasil pertanian, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat perlindungan petani dari fluktuasi harga input produksi.
Intervensi dilakukan secara terintegrasi mulai dari penguatan produksi di sisi hulu, perbaikan tata niaga, hingga pengendalian inflasi pangan di daerah.
“Kami terus mendorong peningkatan produksi dan produktivitas pertanian melalui fasilitasi alat dan mesin pertanian, penguatan kelembagaan petani, asuransi petani, serta pengembangan hilirisasi agro agar nilai tambah dapat dinikmati langsung oleh petani,” ucapnya.{*}
| Baca berita Pemprov Jatim. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur