Marak Pencabulan di Pesantren, Gernas Ayo Mondok Buka Hotline 24 Jam Aduan Santri!

Reporter : -
Marak Pencabulan di Pesantren, Gernas Ayo Mondok Buka Hotline 24 Jam Aduan Santri!
DI UGM: Gus Hans (kanan) saat berkunjung ke Fakultas Biologi UGM Yogyakarta. | Foto: Barometerjatim.com/RQ

SURABAYA | Barometerjatim.com – Pondok Pesantren (Ponpes) hari-hari ini menjadi sorotan tajam, lantaran marak kasus pencabulan yang dilakukan oknum kiai. Terbaru, polisi menetapkan pemimpin Ponpes Padang Ati Buaran Pekalongan, Abdul Khalim Fadlun sebagai tersangka dan ditahan atas dugaan mencabuli puluhan santriwati.

Sebelumnya, kiai pimpinan Ponpes Tahfidzul Qur'an Raden Wijaya di Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, KRA Jayadi Adiningrat bin Giman Momok menjadi tersangka dan ditahan terkait kasus pencabulan belasan santri laki-laki.

Kasus kekerasan seksual juga terjadi di lingkungan Ponpes Ndholo Kusumo Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Terungkap 50 santriwati menjadi korban pelecehan pengasuhnya, Kiai Ashari.

Belum lagi dugaan pencabulan yang dilakukan oknum pimpinan pesantren di Kabupaten Garut, Ngawi, Trenggalek, Sukabumi, Bangkalan, Jember, Tulungagung, dan beberapa tempat lainnya.

Maraknya kekerasan seksual di pesantren ini membuat keprihatinan bagi Sekjen Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok, KH Zahrul Azhar As'ad alias Gus Hans. Karena itu, pihaknya membuka saluran untuk aduan santri.

"Kita bikin saluran untuk membuat hotline 24 jam buat para santri di nomor 081249971166. Jika ada problem atau masalah yang mencurigakan bisa komunikasi melalui hotline ini," ujarnya, Sabtu (30/5/2026).

Selain hotline 24 jam, Gernas Ayo Mondok akan terus memberikan edukasi dan juga awareness kepada dzuriyah pesantren, terlebih saat ini santri sudah semakin berdekatan dengan dunia digital dan media sosial.

Maka, tandas alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, apa pun terkadang mereka tidak sempat menyampaikan ke kiai atau ibu nyai, tapi langsung memviralkan lewat media sosial. 

"Makanya harus kita antisipasi dengan cara apa? Dengan cara membangun komunikasi yang baik antara santri dan kiai dan ibu nyainya," tandasnya.

Kiai muda Pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang itu menambahkan, pihaknya tidak menutup mata terkait segala kejadian yang ada di pesantren namun tidak meresponsnya dengan reaktif.

"Langkah kita adalah langsung konstruktif dan produktif, yaitu dengan cara memberikan akses komunikasi langsung dari santri kepada Gernas Ayo Mondok," ucapnya.

Bagi Gus Hans, problem di pesantren yang ada sekarang ini karena faktor relasi kuasa antara oknum yang dianggap menjadi orang yang dimuliakan kepada orang atau santri yang selama ini menganggap subordinatnya. 

"Nah, ketika subordinat tidak berani bicara kepada yang dianggap terhormat, maka inilah menjadi problem," paparnya.

Gus Hans juga mengimbau agar memilih pesantren yang memiliki sanad keilmuan dari kiai yang jelas. Dia mencontohkan kasus di Pekalongan, setelah dicek ternyata bukan seorang kiai.

“Kita sudah cross check, ternyata memiliki basic dukun. Karena berhasil, akhirnya mendirikan sebuah pesantren dan sebagainya. Maka, sekali lagi, pilihlah pesantren yang sanad keilmuan dari kiai yang jelas dengan trah yang jelas pula," pesannya.{*}

| Baca berita Pesantren. Baca tulisan terukur Roy Hasibuan | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.