Grahadi Kembali Dirusak Pendemo, Gus Hans Lihat Ada Sentimen Negatif ke Khofifah!

Reporter : -
Grahadi Kembali Dirusak Pendemo, Gus Hans Lihat Ada Sentimen Negatif ke Khofifah!
ANARKIS: Demo anarkis di depan Gedung Negara Grahadi, mengapa massa gampang tersulut? | Foto: IST

SIDOARJO | Barometerjatim.com – Renovasi beberapa bangunan pasca dibakar massa demonstrasi pada 30 Agustus 2025 belum tuntas, kini area Gedung Negara Grahadi kembali dirusak pendemo, Jumat (26/6/2026) malam.

Memang kerusakan tak separah 10 bulan lalu. Namun menurut Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono, Grahadi adalah simbol Pemprov Jatim. “Ini simbol dari Pemprov Jatim dirusak kembali," katanya. 

Mengapa massa demonstrasi gampang tersulut emosi dan mudah tersusupi pihak lain saat demo di Grahadi, padahal isu yang diusung terkait kebijakan pemerintah pusat?

Demo pada 30 Agustus 2025 merupakan respons atas kematian salah seorang ojek online, Affan Kurniawan. Sedangkan dalam aksi #IndonesiaSekarat kali ini dari 11 tuntutan semuanya terkait kebijakan pusat,  di antaranya hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, serta cabut UU Polri dan UU TNI.

Dalam perspektif Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) KH Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans, sentimen negatif netizen terhadap Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa tampaknya dimanfaatkan secara taktis oleh kelompok provokator atau penyusup.

“Provokator tahu bahwa massa sudah memiliki persepsi buruk terhadap kepemimpinan Khofifah,” kata Gus Hans yang juga Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang tersebut, Minggu (28/6/2026).

Karena itu, tandasnya, mereka menggunakan momentum psikologis massa yang sedang panas untuk memulai tindakan anarkis seperti merusak pagar.

“Mereka tahu massa yang sudah terlanjur emosional akan mudah ikut-ikutan (bandwagon effect). Ibaratnya kulit yang sedang iritasi, digaruk sedikit saja sudah terasa terbakar,” katanya.

Persepsi rendah terhadap kepemimpinan Khofifah dari netizen, dipandang Gus Hans berkontribusi besar dalam mempersiapkan 'kondisi psikologis' massa agar mudah tersulut.

“Sementara provokator di lapangan bertindak sebagai pemicu fisik yang meledakkan kerusuhan tersebut,” nilainya.

Maka, kata Gus Hans, pihak keamanan atau kepolisian di Jatim harus bekerja ekstra dibanding daerah atau provinsi lain. 

“Jadi tugas kepolisian di Jatim jauh lebih berat daripada teman-teman polisi di provinsi yang lain, karena seperti di media sosial dan sebagainya bagaimana respons netizen terhadap pemimpin di Jatim,” ujarnya.{*}

| Baca berita Pemprov Jatim. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.