Pertahankan Predikat Lumbung Pangan Nasional, Lamongan Dukung Diversifikasi Pertanian

| -
Pertahankan Predikat Lumbung Pangan Nasional, Lamongan Dukung Diversifikasi Pertanian
PANEN MELON: Yuhronur panen melon jenis red aroma budidaya DKPP Lamongan. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM

LAMONGAN | Barometer Jatim – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mendukung program diversifikasi pertanian. Hal itu sebagai salah satu langkah untuk mempertahankan predikat lumbung pangan nasional.

"Tentu tujuan kami ingin mempertahankan predikat lumbung pangan nasional. Lumbung pangan tidak hanya tentang padi, jadi kita harus terus melakukan diversifikasi pertanian," kata Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi saat menghadiri kegiatan pembinaan staf DKPP Lamongan dan panen melon, Rabu (22/5/2024).

DKPP Lamongan, lanjut Yuhronur, harus menjadi pusat referensi bagi petani. Karena itu, diversifikasi pertanian dengan menerapkan metode pertanian modern membuka minat petani milenial di Lamongan.

"Mempertahankan lumbung pangan tidak hanya dari sisi kualitas tanam saja, regenerasi petani juga sangat penting," tandas bupati yang akrab disapa Pak Yes itu.

Menurut Yuhronur, hingga April 2024 luas panen musim tanam pertama mencapai 43% atau 67.256 hektare. Jumlah tersebut diyakini akan menembus 100% pada musim tanam selanjutnya, meskipun pada musim tanam kedua ini dihadapkan dengan musim kemarau.

Dalam kesempatan tersebut, Yuhronur juga melakukan panen melon jenis red aroma. Melon yang dibudidaya DKPP Lamongan itu merupakan kolaborasi metode tanam hidroponik dengan pupuk kimia. Di lahan green house seluas 10×10 meter ini terdapat 204 pohon melon.

"Proses tanam hingga panen membutuhkan waktu 70-75 hari. Melon jenis ini memiliki keunggulan di warnanya yang cantik dan aroma yang harum, begitu pun dengan kualitas dagingnya juga tebal,” kata Pengelola Green House Melon DKPP Lamongan, Slamet Mulyono.

“Saat ini penjualannya masih lingkup kantor saja, semoga ke depan bisa lebih luas lagi. Per 100 gramnya kita jual dengan harga Rp 2.500," jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lamongan, Mohammad Wahyudi menyampaikan, program percepatan tanam dengan pompanisasi diupayakan akan menjawab tantangan kekeringan bagi petani.

"Mayoritas yang mengalami kekeringan di musim tanam dua padi ialah wilayah tengah hingga selatan. Namun akan tetap kita upayakan memenuhi kebutuhan air, salah satunya melalui program percepatan tanam dengan pompanisasi,” katanya.

“Hingga saat ini di Kabupaten Lamongan sudah terpasang 67 unit pompa, dengan rincian 57 unit pompa air 4 ich dan 10 unit pompa air 6 ich. Selain itu kami juga terus berkoordinasi bersama Dinas Pengerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Lamongan," terang Wahyudi.

Dia kemudian memaparkan keberhasilan pertanian holtikultura di Lamongan. Hal itu diwujudkan dengan empat desa di wilayah Kecamatan Brondong yang aktif menanam holtikultura seperti melon, pisang cavendish, bawang, terong hitam Jepang, dan lainnya.

"Di empat desa tersebut saat ini aktif menanam holtikultura, hingga ada yang sudah bermitra dengan perusahaan," papar Wahyudi.

Hingga kini, tercatat ada 80 green house di Lamongan yang sangat produktif di wilayah Brondong hingga Ngimbang. Dalam sekali panen bisa menghasilkan 480 kuintal tanaman holtikultura.{*}

| Baca berita Pertanian. Baca tulisan terukur Hamim Anwar | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.