Belajar dari Syahri: Tinggalkan PDIP Malah Jadi Bupati

-
Belajar dari Syahri: Tinggalkan PDIP Malah Jadi Bupati
MELAWAN REKOMENDASI PDIP: Tak direkomendasi PDIP, Syahri Mulyo nekat maju lewat PKNU di Pilbup Tulungagung 2013. Hasilnya, Syahri malah jadi bupati. | Ilustrasi: RETNA MAHYA

Emil Dardak dipagari PDIP agar jangan sampai mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Tapi suami Arumi Bachsin itu bisa belajar dari cerita sukses Syahri Mulyo: Tinggalkan PDIP malah jadi Bupati Tulungagung.

BELAJARLAH dari Syahri Mulyo, Emil! Tentu jika dipilih dan bersedia mendampingi Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018. Empat tahun lalu, Syahri memilih meninggalkan PDIP, nekat melawan Megawati Soekarnoputri yang tak memberinya rekomendasi maju di Pemilihan Bupati (Pilbup) Tulungagung 2013. Ya, Pilbup Tulungagung 2013 tercatat sebagai Pilkada 'terpanas' di Kota Marmer. Konflik di internal Parpol yang berujung pemecatan pengurus hingga 'pengkhianatan' kader, menjadi bumbu konflik politik di Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Partai Kedaulatan, Partai Republiken, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) serta Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Satu hal paling menyita perhatian publik dan media massa kala itu, yakni pencalonan Syahri Mulyo-Maryoto Birowo. Keduanya diusung PKNU (5 kursi), Partai Patriot (2) dan PDP (1) serta didukung PPRN, Barnas, PSI, Partai Buruh, PPPI, PPD, PPDI serta PNI Marhaenisme. Baca: Elektabilitas Gus Ipul Kian Turun, Khofifah Naik 4 Persen Syahri memilih 'kendaraan' PKNU lantaran tak direkomendasi DPP PDIP, Parpol tempatnya bernaung. Sementara untuk memuluskan pencalonan Syahri, PKNU terlebih dahulu memecat Ketua DPC Fuad Saiful Anam karena dianggap menjadi 'penghalang' Syahri, meski dalam surat pemecatan Fuad disebut gagal menjalankan roda organisasi. PDIP seolah tak peduli dengan popularitas dan elektabilitas tinggi Syahri dalam beberapa survei internal PDIP. Megawati lebih memilih Ketua DPRD Tulungagung, Isman untuk dipasangkan dengan Kepala Dinas Pertanian, Tatang Suhartono. Kami (mulai unsur pengurus DPC, PAC serta Sargas) sudah dua kali berupaya menghadap ke DPP agar rekomendasi tak diturunkan ke Isman," terang Ketua DPC PDIP Tulungagung, Supriyono, kala itu. Baca: Direktur LSR: Gus Ipul Stagnan, Anas Dibalut Pencitraan "Tapi DPP menghendaki lain. Sebagai kader, secara formal, kami harus mengamankan rekomendasi ke suluruh jajaran. Namun sulit mencegah massa di tingkat bawah untuk patuh pada putusan DPP." Pembangkangan Syahri pun tak sia-sia. Rekapitulasi KPU Tulungagung, 31 Januari 2013, mencatat Syahri-Maryoto sebagai pemenang Pilbup dengan peroleh 223.738 suara (48 persen). Sedangkan jagoan PDIP yang berkoalisi dengan PKB, Isman-Tatang tercecer di posisi ketiga dengan 81.327 suara (15,65 persen) di bawah pasangan Bambang Adhyaksa-Anna Luthfie yang meraih 125.612 suara (24,17). Satu paslon lainnya, M Athiyah-Budi Setijahadi berada di posisi buncit dengan 78.989 suara (15 persen).

***

Situasi hampir sama kini dialami Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak yang berpeluang mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Namun PDIP berusaha 'mati-matian' tidak akan melepas Emil yang disebut-sebut telah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) PDIP. Bagi Peneliti Surabaya Survey Center (SSC), Surochim Abdussalam, pilihan Emil memang harus meninggalkan PDIP jika bersedia dan dipilih mendampingi Khofifah. Terlebih PDIP telah mengeluarkan rekomendasi untuk pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas. POTENSIAL: Emil Dardak berpeluang besar mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Beranikah dia meninggalkan PDIP? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUANPOTENSIAL: Emil Dardak berpeluang besar mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Beranikah dia meninggalkan PDIP? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN POTENSIAL: Emil Dardak berpeluang besar mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Beranikah dia meninggalkan PDIP? | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN Emil dinilai memiliki peluang untuk mendulang suara dari wilayah Mataraman, setelah PDIP memilih Anas yang dianggap merepresentasikan wilayah Blambangan dan sebagian Tapal Kuda. Semua masih memiliki peluang dan terbuka karena angka swing dan undecided voters masih tinggi, tergantung strategi meningkatkan elektabilitasnya, papar Surochim. Akankah Emil mengikuti jelak Syahri Mulyo? Setiap pilihan politik, tandas Surochim, pasti mengandung resiko. "Jika Emil berani menerima pencalonan dari partai poros lain atau digandeng Khofifah, itu sungguh kejutan dan bisa menjadi kuda hitam di Pilkada Jatim, terang dosen komunikasi politik di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut. Merujuk tren pemberitaan media massa berdasarkan index, sentimen, passion dan tone pemberitaan, nama Emil memang leading. Baca: Kiai Mutawakkil Bikin Jawa Timur Tak Adem Lagi "Riset kami memantau pemberitaan di 352 media massa dan hasilnya menguat dua nama pendamping Khofifah, yakni Emil Dardak dan Ipong. Kata kunci yang kami gunakan adalah Pilgub Jatim 2018," papar CEO IPOL Indonesia, Petrus Hariyanto. Posisi Emil menguat dengan probabilitas 38,9 persen, disusul Ipong Muchlisoni di peringkat kedua dengan 37,6 poin. Tone pemberitaan positif tentang Emil terus menguat karena ditopang para influencer melalui statemen di media massa, tambahnya. "Sentimen positif ini menjadi indikator bahwa Emil layak menjadi wakil Khofifah. Kendati demikian, ada tone negatif terkait Emil yang dilontarkan petinggi PDIP bahwa suami Arumi Bachsin itu hendaknya memegang janji mengabdi di Trenggalek hingga habis masa jabatannya. NAMA EMIL MENGUAT: Analisa IPOL Indonesia, nama Emil Dardak paling menguat untuk mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. | Grafis: Capture IPOL IndonesiaNAMA EMIL MENGUAT: Analisa IPOL Indonesia, nama Emil Dardak paling menguat untuk mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. | Grafis: Capture IPOL Indonesia NAMA EMIL MENGUAT: Analisa IPOL Indonesia, nama Emil Dardak paling menguat untuk mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. | Grafis: Capture IPOL Indonesia Khusus untuk Ipong, lanjut Petrus, probabilitasnya makin meningkat setelah bergabung dengan Partai Nasdem yang menjadi salah satu Parpol pengusung Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Sinyalemen kuat tentang Ipong menjadi bayang-bayang menggantikan posisi Emil. Sentimen analisis yang g dilakukan IPOL Indonesia melalui Teknopol ini menggunakan metode news analytic dengan pendekatan konten berdasakan parameter kecenderungan pemberitaan. Baca: 10 Menteri Berprestasi: Mensos Nomor 2 di Atas Menkeu Nah, melihat itu semua, beranikah Emil meninggalkan PDIP jika dipilih untuk mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim 2018? Lagi pula, pembangkangan Syahri empat tahun lalu ternyata berujung ampunan dari PDIP. Bahkan Megawati mengeluarkan rekomendasi PDIP untuk petahana Syahri Mulyo-Maryoto Birowo maju di Pilbup Tulungangung 2018, meski kali ini giliran grass-root lebih menghendaki Supriyono.
Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.