Klaim Stok Melimpah, Eh.. Jatim Malah Usung Sapi dari NTT

-
Klaim Stok Melimpah, Eh.. Jatim Malah Usung Sapi dari NTT
PANTAU KANDANG PENAMPUNGAN: Tim Pemprov Jatim memantau kandang penampungan sapi di NTT yang akan dikirim ke Jawa Timur. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR SURABAYA, Barometerjatim.com Dalam banyak kesempatan Gubernur Jatim, Soekarwo menyampaikan populasi sapi di provinsi yang dipimpinnya melimpah, bahkan mampu memenuhi kebutuhan sapi nasional. Pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu juga mengklaim Jatim surplus 330 ribu sapi, sampai-sampai 31 persen total sapi nasional atau 43 juta ekor sapi berasal dari Jatim. Tak hanya itu, setiap tahun target inseminasi buatan juga menghasilkan 1.000 ekor. Tapi di sisi lain ada hal yang patut dicermati. Sebab, Jawa Timur justru membuka perdagangan sapi dengan daerah lain. Salah satunya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki potensi sapi cukup banyak. NTT dipilih lantaran tidak memiliki riwayat penyakit zoonosis. Baca: Tersengat Kasus Suap, Revisi Perda Sapi Ikut Tersendat Kasi Pemasaran Dinas Peternakan (Disnak) Jatim, Triyana membenarkan jika ada sapi NTT yang masuk ke Jatim. Tak tanggung-tanggung, tiap tahun sebanyak 2.000 ekor. NTT diberi izin karena tidak memiliki riwayat penyakit hewan. Kalaupun ada sudah lama dan dilakukan langkah pencegahan, terangnya, Kamis (17/11). Bukankah populasi sapi di Jatim melimpah? Menurutnya hal ini untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Jatim. Sebab, dari jumlah populasi yang ada tidak semuanya sapi potong. Ada sapi betina, jantan, anakan, indukan serta sapi perah. Kan tidak semuanya bisa dipotong. Apalagi di Jatim berbasis peternak rakyat yang hanya memiliki 1 hingga 2 ekor sapi saja. Kepemilikan sapi mereka sebagai tabungan, sehingga tidak gampang untuk menjual, tambahnya. Khusus Sapi Jantan Di sisi lain, NTT memproklamirkan diri sebagai provinsi ternak. Ini karena perkembangan peternakan daerah itu cukup pesat, dan sapi NTT dipasok ke berbagai daerah di Indonesia termasuk Jatim. Menurut Kadis peternakan NTT, Danny Suhadi, pada 2017 pihaknya mengeluarkan sapi sebanyak 56.858 ekor dari kuota 66.300 ekor ke berbagai daerah di antaranya Surabaya, Jakarta dan kota-kota di Kalimantan. Dikatakan, di berbagai pulau yang masuk dalam wilayah NTT banyak petani yang memelihara sapi. Kebanyakan sapi yang ada di NTT seperti di Pulau Flores adalah sapi Bali dan Sumbawa. Dulu ada sapi dari Pulau Madura, tapi sekarang sudah tidak ada lagi, tuturnya. Baca: Biaya Revisi Perda Rp 100 Juta, Begini Cara Disnak Cari Duit Terkait kebijakan pengeluarkan sapi, Pemprov setempat menetapkan aturan hanya yang berjenis jantan karena betina atau indukan dipakai sendiri untuk pengembangan. Sedangkan pengirimannya sudah ada perusahaan-perusahaan yang memenuhi syarat, serta mengantongi izin seperti PT Agro Fauna di Surabaya. Malah perusahaan tersebut minta kuotanya diperbanyak karena mampu mengirim lebih dari 500 ekor sesuai perizinan. Permintaan Tambah Kuota KERJASAMA BIDANG PETERNAKAN: Pertemuan antara perwakilan Pemprov Jatim dengan Dinas Peternakan NTT membahas soal perkembangan kerjasama di bidang peternakan. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR KERJASAMA BIDANG PETERNAKAN: Pertemuan antara perwakilan Pemprov Jatim dengan Dinas Peternakan NTT membahas soal perkembangan kerjasama di bidang peternakan. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR KERJASAMA BIDANG PETERNAKAN: Pertemuan antara perwakilan Pemprov Jatim dengan Dinas Peternakan NTT membahas soal perkembangan kerjasama di bidang peternakan. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR Melalui orang kepercayaannya Buce Frans, PT Agro Fauna juga minta Pemprov Jatim dalam hal ini Disnak guna menambah kuota sapi. Di sini ada petani yang mempunyai lebih dari 1.000 ekor sapi, tuturnya. Kendati demikian, keinginan perusahaan tersebut harus ditahan dulu karena Disnak Jatim harus menunggu laporan resmi dan hasil evaluasi. Baca: Divonis 1 Tahun Penjara, Tangis Mantan Kadisnak Pecah Menurut Triyanti, pihaknya tidak serta-merta menyetujui usulan tersebut. Sesuai data kami stok Jatim untuk pengadaan sapi melebihi cukup, tandasnya. Dia menambahkan kalau imej Jatim sebagai provinsi bebas penyakit antrax juga harus dipertahankan. "Karena itu untuk menerima sapi dari daerah lain melalui seleksi ketat," tuntas Triyanti.
Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.