KLB Campak di Sumenep Renggut 17 Nyawa Anak, Apa Langkah Khofifah?
SUMENEP | Barometer Jatim – Wabah campak di Kabupaten Sumenep berstatus Kejadian Luas Biasa (KLB). Data Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, per 21 Agustus 2025 jumlah suspek mencapai 2.035 kasus dengan korban meninggal dunia 17 anak.
Lantas apa langkah Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa untuk menyelesaikan wabah ini?
Sabtu (23/8/2025), Khofifah turun ke Sumenep. Dia menggelar rapat teknis penanganan KLB campak di kantor Bupati Sumenep, dilanjut dengan peninjauan dan menjenguk anak-anak penderita campak yang tengah dirawat di RS Moh Anwar Sumenep.
Selain itu, Khofifah menyaksikan proses vaksinasi MR (Measles and Rubella) untuk sepuluh anak di Pendopo Kabupaten Sumenep. Turut mendampingi yakni Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim dan jajaran Dinkes baik Jatim maupun Sumenep.
Khofifah memerintahkan, penanganan KLB campak di Sumenep harus dilakukan kerja secara terpadu dan terintegrasi oleh semua elemen dan sektor, baik vertikal maupun horizontal secara cepat dan masif.
"Secara vertikal, Kemenkes RI dan Pemprov Jatim telah hadir langsung. Bahkan ada institusi internasional yaitu UNICEF dan WHO. Secara horizontal, ada bupati, wakil bupati dan berbagai institusi lain, termasuk jajaran TNI/Polri," jelasnya.
"Dari Dandim, Polres sampai dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Jadi semua harus terpadu, terintegrasi," sambung Khofifah.
Gelar Vaksinasi Massal
Kerja terpadu dan terintegrasi ini diperlukan guna percepatan penanganan KLB campak di Sumenep. Ditambah lagi akan dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) atau vaksinasi campak rubela secara masal dan masif pada 25 Agustus-14 September 2025.
Khofifah menandaskan, sosialisasi terhadap pentingnya vaksinasi campak rubela diharapkan dapat dilakukan secara masif hingga lini terbawah di masyarakat. Karena itu, kerja sama semua elemen yang bersatu padu disebutnya sebagai salah satu indikator suksesnya ORI.
"Ini bekerjanya di lini paling bawah, oleh karena itu kami mohon semua elemen bersatu padu menyampaikan pesan ini kepada masyarakat," ucapnya.
Merujuk data Dinkes Sumenep, dari 17 anak yang meninggal akibat campak 16 di antaranya terkonfirmasi tidak pernah menjalani imunisasi, sedangkan satu lainnya tidak lengkap imunisasi.
Karena itu, kejadian tersebut diharapkannya bisa menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat, tokoh masyarakat hingga ulama, akan pentingnya imunisasi campak rubela bagi anak-anak.
"Kita ingin generasi penerus nantinya semua sehat batin dan lahirnya. Oleh karena itu rencana ORI atau vaksinasi masif dan massal di tanggal 25 besok, bersama kita menyampaikan sosialisasi dan pesan kepada masyarakat supaya memaksimalkan capaian dari vaksinasi yang akan dilakukan," pesannya.
"Tempatnya bisa di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, hingga Posyandu," imbuh Khofifah.
Sebagai informasi, Pemprov Jatim telah mengirimkan 9.825 vial vaksin MR dari Kemenkes ke Dinkes Sumenep guna menyukseskan pelaksanaan ORI yang akan dimulai 25 Agustus mendatang.
Sementara itu Dokter Spesialis Anak RS Moh Anwar, dr Anita mengatakan peningkatan jumlah kasus campak di Sumenep kebanyakan diakibatkan kurangnya pengetahuan dari masyarakat tentang pentingnya pencegahan atau preventif dari campak.
Lantaran campak disebabkan virus, maka masyarakat diharapkan bisa melakukan vaksinasi di campak dasar dan campak booster.
Kaitan kondisi terkini di RS Moh Anwar Sumenep, tercatat 16 anak pasien campak dipastikan kondisinya stabil. "Alhamdulillah 16 anak pasien campak kondisinya sudah stabil, dan insyaallah hari ini akan ada dua orang yang dipulangkan," ucapnya.{*}
| Baca berita Wabah Campak. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur