Perundungan Masih Terjadi, DPRD Surabaya Soroti Puspaga Sekadar Nama
SURABAYA | Barometer Jatim – Mereaksi kasus perundungan (bullying) anak di kawasan Tambakrejo, Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar hearing dengan BPBD, BP3APPKB, Dinas Pendidikan, Satpol PP, Bagian Hukum dan Kerja Sama, serta jajaran lurah dan camat dari Tambakrejo, Tambaksari, dan Simokerto, Rabu (18/2/2026).
Dalam hearing, Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Zuhrotul Mar’ah mempertanyakan dampak nyata transisi kelembagaan DP3P2KB menjadi BP3APPKB terhadap penanganan kasus di lapangan.
Dia menekankan, keberadaan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di level RW seharusnya menjadi ujung tombak, bukan sekadar nama.
“Pengawasan keluarga rentan harus konsisten. Jangan sampai penanganan kasus terkesan parsial atau justru diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat tanpa kehadiran pemerintah,” ucapnya.
Zuhrotul juga menyoroti fenomena gunung es dalam perundungan, banyak anak terlihat sehat secara fisik namun mengalami trauma psikologis hebat hingga enggan sekolah.
“Kami mengusulkan adanya riset komprehensif terkait latar belakang sosial-ekonomi keluarga, serta penguatan pembinaan melalui pendekatan kelas kecil agar pendampingan lebih fokus dan tidak seremonial,” katanya.
Menanggapi lontaran Zuhrotul, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Febrina Kusumawati menyampaikan bahwa pihaknya sedang memfinalisasi data beasiswa bagi sekitar 7.000 siswa PAUD dan TK dari keluarga miskin dan pramiskin dengan alokasi Rp 50 ribu per siswa.
“Data harus clear agar tidak ada kesalahan prosedur. Kami juga mengingatkan sekolah swasta penerima hibah wajib menyediakan kuota minimal 5 persen bagi siswa dari keluarga miskin sesuai Perda,” ujarnya.
Sedangkan Juru Bicara BP3APPKB, Thussy A, mengingatkan kerumitan penanganan kasus anak yang melibatkan perlindungan kedua belah pihak (korban dan pelaku).
Dia menekankan pentingnya sensitivitas terhadap kekerasan nonfisik yang seringkali tidak terdeteksi melalui visum biasa namun merusak mental anak.{*}
| Baca berita DPRD Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur