Pengamat: Surya Paloh Bukan Pengkhianat, Tapi Memainkan Seni Politik dengan Cantik!

| -
Pengamat: Surya Paloh Bukan Pengkhianat, Tapi Memainkan Seni Politik dengan Cantik!
PERMAINAN CANTIK: Surya Paloh gadengkan Anies Badwedan dengan Muhaimin Iskandar. | Foto: IST

SURABAYA, Barometer Jatim – Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh dicap sebagai pengkhianat oleh Partai Demokrat lantaran 'membuang' Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan memilih Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) untuk mendampingi Capres Anies Baswedan di Pilpres 2024.

Anies-Muhaimin pun resmi berpasangan setelah dideklarasikan koalisi Nasdem-PKB di Hotel Majapahit Surabaya, Sabtu (2/9/2023). Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu (UU Pemilu), jumlah 117 perolehan kursi Nasdem (59) dan PKB (58) di DPR RI sudah melampaui syarat presidential threshold (20%/115 kursi).

Jika Demokrat mencap Surya Paloh sebagai pengkhianat, tidak demikian dengan perspektif Pengamat Politik yang juga Peneliti Senior Surabaya Survey Canter (SSC) Ikhsan Rosidi. Surya Paloh justru dinilai sedang memainkan seni politik dengan cantik.

| Baca juga:

“Itulah seni dalam berpolitik. Artinya, balik lagi ke adagium lama, bahwa dalam dunia politik tidak ada kawan dan lawan abadi yang ada adalah kepentingan. Jadi yang abadi adalah kepentingan,” katanya, Selasa (5/9/2023).

Karena itu, sepanjang kepentingan politik terjamin dalam koalisi maka akan terus. Sebaliknya, begitu ada tanda-tanda kepentingan politik tidak terjamin, maka akan dengan mudah berubah haluan membuat koalisi baru atau bergabung dengan koalisi yang lain.

“Dalam konteks tersebut, Surya Paloh memainkan peran politiknya dalam kontestasi politik nasional menuju Pilpres 2024 dengan cantik,” tandas dosen di Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Muhaimin Representasi Nahdliyin?

Lantas, apa yang membuat langkah politik Surya Paloh begitu berani? Ikhsan menduga yang dipikirkan Surya Paloh adalah posisi geopolitik Jawa Timur dalam perpolitikan elektoral di Indonesia.

Seperti dipahami, papar Ikhsan, Jatim kerap dianggap sebagai kunci untuk memenangi pertarungan di Pilpres. Baik di era SBY maupun Jokowi, sama-sama menang di Jatim, sehingga memenangkan kontestasi secara nasional.

“Jatim adalah episentrum politik nasional. Jatim memegang peranan sangat penting bagi hitung-hitungan politik elektoral di Indonesia, sehingga dalam konteks kontestasi Pemilu baik Parpol maupun Capres-Cawapres bisa tidak bisa harus menengok, menoleh Jatim. Termasuk tokoh-tokoh yang merepresentasikan atau dianggap sebagai representasi Jatim,” terang Ikhsan.

“Dan kita tahu pemilih Jatim atau mayoritas adalah pemilih Nahdliyin atau warga NU (Nahdlatul Ulama), sehingga bisa tidak bisa Parpol atau Capres-Cawapres harus menimbang secara serius representasi tokoh dari Jatim yang merupakan representasi pemilih Jatim sekaligus representasi pemilih kaum Nahdliyin,” jabarnya.

| Baca juga:

Ikhsan juga menduga kuat, Surya Paloh melihat pada diri Muhaimin sebagai representasi dari pemilih Jatim sekaligus pemilih Nahdliyin. Sehingga dia berpikir, jika Jatim bisa diamankan, maksimum bisa dimenangkan, maka potensi untuk menang di kontestasi nasional juga besar.

Hanya saja, langkah politik Surya Paloh rela 'melepas' AHY dan memilih Cak Imin tetap dipandang Ikhsan sebagai langkah berani. Sebab kalau melihat hasil survei, elektabilitas Cak Imin di Jatim terpaut jauh di bawah AHY.

Dalam survei SSC yang digelar pada 25 Juli-3 Agustus 2023 di 38 kabupaten/kota se-Jatim, AHY memuncaki elektabilitas dengan 15,2% sedangkan Muhaimin tercecer di posisi 9 dengan elektabilitas 3,8%.

“Sehingga muncul pertanyaan besar, benarkah Cak Imin representasi dari suara pemilih Jatim dan kaum Nahdliyin? Mengingat dari hasil survei elektabilitasnya tidak terlalu menggembirakan di Jatim, sedangkan mayoritas masyarakat Jatim adalah Nahdliyin,” ucapnya.{*}

| Baca berita Pilpres 2024. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.