Kok Mau-maunya Surya Paloh Pilih Cak Imin yang Elektabilitasnya Rendah! Simak Analisis Pengamat

| -
Kok Mau-maunya Surya Paloh Pilih Cak Imin yang Elektabilitasnya Rendah! Simak Analisis Pengamat
SENYUM 2024: Surya Paloh bersama Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar jelang deklarasi. | Foto: IST

SURABAYA, Barometer Jatim – Elektabilitas Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di bursa Cawapres terbilang rendah -- baik dalam survei nasional maupun regional Jatim.

Dari hasil survei periodik Litbang Kompas selama Januari hingga Agustus 2023, elektabilitas Cak Imin bahkan belum pernah menyentuh 1%, selalu nol koma.

Pun dalam hasil survei terbaru Surabaya Survey Center (SSC) yang digelar pada 25 Juli-3 Agustus 2023 di 38 kabupaten/kota se-Jatim, elektabilitas Cak Imin hanya di angka 3,8%. Bandingkan dengan keterpilihan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang memuncaki elektabilitas dengan capaian 15,2%. Jauh!

Tapi mengapa Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh mau-maunya memilih Cak Imin jadi pendamping Anies Baswedan? Sementara keterpilihan Anies di trek Capres juga masih tertinggal jauh dari Prabowo Subianto maupun Ganjar Pranowo?

| Baca juga:

Pengamat Politik yang juga Peneliti Senior SSC, Ikhsan Rosidi menduga keputusan Surya Paloh memilih Cak Imin karena sampai pada satu titik, bahwa dalam posisi seperti ini Nasdem bersama koalisinya (Demokrat dan PKS) sangat sulit untuk memenangkan Pilpres 2024.

“Tetapi karena sudah kadung (terlanjur) terjun menyatakan diri ingin berkontestasi pada Pilpres mendatang, tidak mugkin bagi Nasdem atau Surya Paloh menarik mundur atau membatalkan pencalonan Anies sebagai Capres,” katanya, Selasa (5/9/2023).

Sehingga, lanjut Ikhsan, Surya Paloh mulai berhitung ulang. Mungkin saja Nasdem dan Anies berat untuk memenangkan Pilpres, tapi harus mendapatkan benefit atau keuntungan lain dari majunya Anies dan Nasdem dalam Pilpres.

“Taruhlah nanti kalah, Surya Paloh berpikir harus ada benefit bagi Nasdem. Dengan kata lain, langkah mengejutkan ini diambil Surya Paloh demi kepentigan Nasdem,” katanya.

Tak Dapat Coattail Effect

Bagaimana itu bisa terjadi? Dalam analisis Ikhsan, jika masih bertahan pada gerbong koalisi bersama Demokrat dan PKS, Nasdem dalam posisi sulit. Artinya, kalau Anies betul-betul maju Capres, Nasdem tidak akan merasakan coattail effect atau efek ekor jas dan lebih banyak ke Demokrat dan PKS.

“Karena Nasdem dan Demokrat memiliki kostituen yang mirip atau boleh dikatakan sama. Jadi dengan mengusung Anies, tidak terlalu membawa dampak signifikan bagi perolehan suara Nasdem,” katanya.

Bahkan menurut survei berbagai lembaga, kata Ikhsan, menunjukkan tren perolehan suara Nasdem justru turun pasca mencalonkan Anies sebagai Capres.

Lantas, posisi PKS? Menurut Ikhsan, selama ini PKS dipahami publik sebagai partai yang mewadahi kelompok Islam kanan, bahkan dulu mentahbiskan diri sebagai partai dakwah.

| Baca juga:

“Ini juga sulit bagi Nasdem, karena PKS sudah terbatas dan tidak mugkin membawa coattail effect bagi Nasdem. Sehingga dengan komposisi koalisi Nasdem-Demokrat-PKS, potesi untuk mendapat coattail effect dari pencaloan Anies itu rendah bagi Nasdem,” katanya.

Maka, lanjut Ikhsan, Surya Paloh berpikir ulang. Salah satunya yakni mengganti Cawapres dari partai yang memiliki konstituen berbeda dan pilihann jatuh pada Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar.

Diketahui, PKB adalah kanal suara dari Nahdliyin alias warga Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan kelompok Islam moderat dan berpotesi besar membawa coattail effect bagi Nasdem.

“Sehingga mungkin ini yang dipikirkan oleh Surya Paloh saat akhirya memilih Cak Imin. Jadi lebih memilih berpikir menjadi suara partai di 2024,” pungkas Ikhsan.{*}

| Baca berita Pilpres 2024. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.