Tuntaskan 529 Kasus Stunting di Surabaya, Pemkot Bareng Unair Terjunkan 506 Mahasiswa

| -
Tuntaskan 529 Kasus Stunting di Surabaya, Pemkot Bareng Unair Terjunkan 506 Mahasiswa
TUNTASKAN STUNTING: Eri Cahyadi dan Prof Nasih lepas 506 mahasiswa FK Unair KKN. | Foto: Barometerjatim.com/HPS

SURABAYA | Barometer Jatim – Kasus stunting di Kota Pahlawan dalam tiga tahun terakhir menurun drastis. Data Pemkot Surabaya mencatat, Jika pada 2021 prevalensinya masih di angka 28,9% (6.722 kasus), setahun berikutnya menurun signifikan menjadi 4,8% (923 kasus).

Tak berhenti di situ, buah jibaku jajaran Pemkot Surabaya bersama Forkopimda, perguruan tinggi, dan stakeholder, pada akhir September 2023 stunting di Kota Pahlawan terus menurun menjadi 529 kasus.

Menurut Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, angka 4,8% sekaligus mencatatkan stunting di Surabaya terendah di Indonesia berkat campur tangan dingin rektor, para guru besar, serta perguruan tinggi yang ada di Surabaya.

“Ini menunjukkan apa? Bahwa Pemerintah Kota tidak pernah sendiri," ujarnya saat bersama Rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof Mohammad Nasih melepas 506 mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Unair untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di Surabaya di Gedung Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Kampus B Unair, Kamis (5/10/2023).

| Baca juga:

KKN kali ini, bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Belajar Komunitas Tematik Kampung Emas Madani 2.0 tahun 2023. Program tersebut juga bagian dari upaya Pemkot Surabaya bersama perguruan tinggi dalam melakukan pencegahan dan penanganan stunting terpadu melalui upaya konvergensi, intervensi gizi sensitif, dan spesifik.

Dalam program tersebut, ratusan mahasiswa FK Unair tidak hanya berupaya melakukan penurunan dan pencegahan stunting, tapi juga melakukan program pengabdian masyarakat lainnya. Mulai dari edukasi soal pernikahan dini hingga pencegahan kematian ibu dan anak.

Menurut Eri, mahasiswa di setiap perguruan tinggi, khususnya di wilayah Kota Surabaya, memiliki kekuatan dan kontribusi yang luar biasa dalam pembangunan kota. Karena itu, dia mengajak para mahasiswa untuk turun bersama jajaran Pemkot menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

| Baca juga:

"Ketika perguruan tinggi itu hadir di tengah pemerintah, memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat dengan semangat mahasiswanya, maka akan selesai permasalahan itu," ucapnya.

Eri optimis, para mahasiswa yang digerakkan bersama hari ini dapat mewujudkan Surabaya zero stunting. Diharapkan pula para mahasiswa dan seluruh perguruan tinggi di Surabaya bisa berkontribusi mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menuju Generasi Emas 2045.

"Karena itu saya yakin, insyaallah dengan pelepasan Belajar Komunitas Tematik Kampung Emas Madani, maka tujuan negara untuk mengentas kemiskinan, pengangguran, stunting, mengurangi kematian ibu dan anak, meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dan meningkatkan ekonomi akan terwujud," harapnya.

Konsorsium Peduli Stunting

Sementara itu Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih berharap mahasiswa FK Unair yang mengikuti program tersebut dapat memberikan kontribusi dan hasil yang terbaik untuk masyarakat dan negara.

"Kami berkomitmen, kalau anda nanti memberikan yang terbaik untuk warga Kota Surabaya di tempat anda semua mengikuti Penmas (pendidikan masyarakat) dan bisa menuliskan laporannya dengan baik pula, maka 5 SKS kita tambah paling tidak bisa menjadi pengganti skripsi," janjinya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina menambahkan, kegiatan Belajar Bersama Komunitas Tematik Kampung Emas Madani 2.0 akan dilaksanakan mulai Oktober-Desember 2023. Para mahasiswa akan diterjunkan ke 153 kelurahan di Kota Surabaya.

| Baca juga:

Kegiatan ini kan melibatkan berbagai disiplin ilmu dari fakultas dan perguruan tinggi yang bergabung di dalam Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Stunting Jawa Timur.

Konsorsium ini terdiri dari berbagai perguruan tinggi, mulai dari Unair, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Dr Soetomo, Universitas Brawijaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Jember (Unej), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), hingga Universitas Ciputra Surabaya.

"Pelaksanaan program Kampung Emas Eliminasi Stunting ini, adalah sebagai upaya penurunan stunting di Kota Surabaya yang melibatkan mahasiswa S1 dalam program MBKM," imbuhnya.{*}

| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur