28 Hari Lagi Khofifah Lengser dari Kursi Gubernur, Jawa Timur Dihantam KLB Polio!

| -
28 Hari Lagi Khofifah Lengser dari Kursi Gubernur, Jawa Timur Dihantam KLB Polio!
JATIM KLB POLIO: Khofifah pantau pelaksanaan Sub PIN, Jatim ditetapkan sebagai KLB polio. | Foto: IST

SURABAYA | Barometer Jatim – Tak hanya problem kemiskinan (4,1 juta) dan pengangguran (1,17 juta) yang masih tinggi. 28 hari jelang Khofifah Indar Parawansa lengser dari kursi gubernur, Jawa Timur juga sedang menghadapi persoalan serius lainnya, yakni Kejadian Luar Biasa (KLB) polio menyusul 11 anak dinyatakan terjangkit.

Dari 11 anak yang terjangkit virus polio tersebut, dua di antaranya harus menjalani fisioterapi yakni satu dari Sampang dan satu lagi dari Pamekasan.

“Sudah didamping oleh teman-teman Puskesmas untuk fisioterapi," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, dr Erwin Astha Triyono di Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Jatim, Selasa (16/1/2024).

Sedangkan sembilan anak lainnya dalam kondisi sehat yang terindikasi lewat feses. “Ini hasil surveilans. Jadi anak sehat yang kita cari, kita cek fesesnya ternyata di situ ada polionya," terangnya.

| Baca juga:

Terkait polio yang menghantam Jatim, Erwin menjelaskan awalnya ada gap pada capaian imunisasi 2021 dan 2022 lantaran Covid-19. Sehingga saat itu, Pemprov Jatim fokus pada Covid-19 yang membuat capaian vaksinasi khususnya polio turun alias tidak mencapai terget.

“Apakah itu salah? Ndak, karena saat itu kita fokus pada Covid-19. Begitu ada gap yang belum diimunisasi, maka salah satu kemungkinan yang bisa timbul adalah terjadi penularan,” katanya.

Seperti diketahui, kata Erwin, sebelum ada di Jatim, penyebaran polio terjadi di Aceh dan Jawa Barat. Meskipun dirinya tidak yakin apakah penularannya dari kedua wilayah tersebut, yang jelas semua potensi memungkinkan.

“Tapi kita enggak melihat itu, yang penting sesuai dengan arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sesuai arahan dari Bu Gubernur, sudah ada penetapan KLB polio,” katanya.

| Baca juga:

Setelah ada penetapan KLB polio, lanjut Erwin, diharapkan tindaklanjutnya ada dua. Pertama, dilakukan surveilans, dicari, sehingga masyarakat yang punya anak usia di bawah 15 tahun dan merasa ada keluhan lumpuh layu mendadak (Acute Flaccid Paralysis/AFP) untuk segera berobat.

“Supaya nanti bisa diobati dan lingkungannya bisa segera diberikan imunisasi,” katanya.

Kedua, memutus penularannya dengan cara melakukan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio sebanyak dua tahap, yakni pada 15-21 Januari 2024 dan 19-25 Februari 2024. Dengan dua kali Sub PIN diharapkan rantai penularannya terputus.

“Ditambah satu, karena penularannya lewat fecal oral. Jadi lewat saluran cerna, kotoran yang masuk ke sungai dan sebagainya dan itu nanti polionya bisa nyangkut di makanan dan masuk ke dalam mulut kita, maka yang kita butuhkan adalah kebersihan sanitasi,” paparnya.

Jangan Anggap Remeh

Sementara itu terkait Sub PIN Polio putaran pertama yang dilaksanakan serentak di 38 kabupaten/kota per 15 Januari 2024, data Dinkes Jatim mencatat sebanyak 1.168.443 anak (26,3%) dilakukan imunisasi dari jumlah sasaran anak usia 0-7 tahun sebanyak 4.437.679 anak.

“Dengan ditemukannya kasus lumpuh layu akut di Jateng dan Jatim yang disebabkan virus polio tipe dua, Kemenkes RI menyerukan kepada Dinkes Jateng, Jatim, dan DI Yogyakarta untuk melaksanakan Sub PIN secara serentak mulai 15 Januari 2024,” ucap Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Karena itu, secara khusus Khofifah mengajak seluruh orang tua yang memiliki anak usia 0-7 tahun untuk peduli dan mengantarkan anaknya ke Pos Imunisasi terdekat baik Posyandu, Puskesmas, PAUD, TK, SD, MI dan sarana layanan kesehatan lain guna mendapat imunisasi tetes polio. 

Di sisi lain, KLB polio di Jatim ini mendapat perhatian serius dari Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti yang meminta Pemprov Jatim melakukan langkah komprehensif agar kasus tersebut tidak semakin menular.

| Baca juga:

"Saya tegaskan Pemprov Jatim untuk melakukan tindakan cepat, terukur, dan menyeluruh, baik dalam penanganan kasus polio yang sedang terjadi maupun langkah-langkah pencegahan untuk meminimalisir korban selanjutnya. Ini harus menjadi perhatian," tegasnya, Rabu (17/1/2024).

Menurut senator asal Jatim tersebut, kasus polio tidak boleh dianggap remeh. Selain penyebarannya cepat juga dapat menyebabkan kelumpuhan bersifat permanen.

"Meskipun jarang sekali kasus polio menyebabkan kematian, dampak penyakit ini sangat besar. Polio bisa menyebabkan kelumpuhan atau kecacatan seumur hidup. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi produktivitas hidup seseorang," tukas LaNyalla.

LaNyalla juga mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta mengikuti imunisasi. Karena polio tidak bisa diobati, menurutnya pencegahan adalah hal mutlak untuk dilakukan.{*}

| Baca berita Pemprov Jatim. Baca tulisan terukur Abdillah HR | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.