Diserahkan Mendagri, Presiden Jokowi Beri Penghargaan Sekali Seumur Hidup ke Bupati Banyuwangi

| -
Diserahkan Mendagri, Presiden Jokowi Beri Penghargaan Sekali Seumur Hidup ke Bupati Banyuwangi
PENGHARGAAN: Bupati Ipuk Fiestiandani menerima penghargaan dari Kemendagri. | Foto: IST

SURABAYA | Barometer Jatim – Puncak peringatan Hari Otonomi Daerah (OTDA) XXVIII terasa istimewa bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. Pada acara yang diselenggarakan di Kota Surabaya, Kamis (25/4/2024), pemerintah pusat menganugerahkan dua penghargaan kepada Banyuwangi.

Pertama, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menerima tanda kehormatan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha.

Penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) satu kali seumur hidup itu diberikan atas hasil Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD) 2022, yang juga mendapatkan nilai terbaik nasional dengan status kinerja tertinggi. Penghargaan diserahkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi kembali meraih prestasi sebagai Kabupaten Berkinerja Terbaik se-Indonesia yang diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

  • ANGKA KEMISKINAN BANYUWANGI
    2020-2021: Kenaikan selama masa pandemi 0,01% atau terendah di Jatim.
    2022: 7,5% atau terendah dalam sejarah Banyuwangi sejak Indonesia merdeka.
    2023: Kembali turun menyentuh angka 7,34%.

“Selamat dan terima kasih kepada para penerima penghargaan yang telah bekerja dengan baik di berbagai bidang,” kata Tito.

Menurutnya, penilaian tersebut tidak semata hanya dilakukan Kemendagri, tapi juga melibatkan berbagai instansi terkait. Baik di kementerian atau lembaga negara lainnya. Bahkan juga melibatkan pihak eksternal seperti para akademisi maupun sejumlah organisasi nonpemerintah.

“Kita harus bangga. Ini bukan pesanan atau karena diintervensi oleh pihak lain,” tegas Tito.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan hasil EPPD 2023. Banyuwangi meraih nilai tertinggi dengan skor 3,8118 poin, mengalahkan 514 Pemkab se-Indonesia.

Penilaian dilakukan dari ratusan indikator, termasuk evaluasi dampak kinerja yang langsung dirasakan publik, seperti upaya penurunan kemiskinan dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat.

“Kami bersyukur Banyuwangi bisa mempertahankan capaian ini. Bagi kami, ini bukan sekadar prestasi, namun menjadi penyemangat untuk berkinerja lebih baik lagi untuk kemajuan Banyuwangi,” ujar Ipuk.

Dia menyampaikan, di tengah banyak tantangan dan keterbatasan, Banyuwangi terus berupaya melakukan berbagai upaya pembenahan.

Misalnya, untuk kemiskinan, berdasarkan data BPS, kenaikan kemiskinan di Banyuwangi selama masa pandemi 2020-2021 hanya 0,01 persen, merupakan kenaikan kemiskinan terendah di Jatim.

Per 2022, angka kemiskinan Banyuwangi 7,5 persen yang merupakan terendah dalam sejarah Banyuwangi sejak Indonesia merdeka. Di 2023, angka kemiskinan Banyuwangi kembali turun menyentuh angka 7,34 persen.

Stunting juga terus kita turunkan. Di antaranya lewat pemberian makanan bergizi gratis tiap hari kepada balita stunting dan ibu hamil berisiko tinggi” ucap Ipuk.{*}

| Baca berita Banyuwangi. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.