Guru Besar UINSA: Anwar Sadad Bisa Kalahkan Khofifah di Pilgub Jatim!

| -
Guru Besar UINSA: Anwar Sadad Bisa Kalahkan Khofifah di Pilgub Jatim!
BAKAL BERBALIK JADI RIVAL?: Anwar Sadad bersama Khofifah saat paripurna DPRD Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA | Barometer Jatim – Selain Khofifah Indar Parawansa, hingga kini belum ada satu pun sosok yang declare maju Cagub Jawa Timur 2024. Alhasil, perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU seolah tanpa lawan.

Terlebih elektabilitas Khofifah dari hasil survei sejumlah lembaga kokoh di puncak. Dalam survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) yang dilakukan pada 15-23 Maret 2024 misalnya, keterpilihan Khofifah berada di angka 39,2%. Disusul Emil Elestianto Dardak 16,7%, dan Ketua DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad 9,5%.

Berikutnya ada nama Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma 9,4%, Ketua DPD Partai Golkar Jatim sekaligus Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Sarmuji 8,2%, Bupati Sumenep Achmad Fauzi 7,8%. Sedangkan responden yang belum menjawab sebanyak 9,2%.

Akankah Khofifah tampil sebagai calon tunggal alias melawan kotak kosong? Apalagi sudah mendapatkan rekomendasi dari Gerindra (21 kursi), Golkar (15), Demokrat (11), PAN 5, dan PDIP (21) berpotensi menyusul. Praktis tinggal menunggu calon yang akan diusung PKB (27).

“Saya rasa ndak itu,” nilai Guru Besar bidang Ilmu Politik Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof Abdul Chalik pada Barometer Jatim, Jumat (3/5/2024).

Menurutnya, sinyal Khofifah bakal mendapat lawan sudah cukup kuat, ketika Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar bertemu dengan PPP, bersama dengan PKS, Nasdem, dan di beberapa momen menunjukkan gimik yang menggambarkan akan mengusung orang yang berbeda dibanding kebanyakan partai di Pilgub Jatim 2024.

SOWAN SIDOGIRI: Anwar Sadad (kanan) dampingi Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani sowan ke Ponpes Sidogiri. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

Bagaimana dengan elektabilitas? Satu dari hanya tiga guru besar bidang Politik Islam yang ada di Indonesia tersebut -- dua lainnya yakni Prof Noorhaidi Hasan (UIN Jogjakarta) dan Prof Ahmad Ali Nurdin (UIN Bandung) -- memandang elektabilitas Khofifah hingga kini masih tertinggi karena belum ada kompetitor.

“Siapa pun yang tidak punya kompetitor, itu nanti ya pasti tinggi, karena dia berada di posisi yang memang leading dari sisi opini mana pun,” katanya.

“Sementara yang lain kan belum ada satu pun yang menyatakan maju, siap, dan seterusnya. Jangankan sampai pada proses pendaftaran. Hanya ngomong di media, kemudian siap maju, itu nanti basis suaranya akan berbeda,” sambung Prof Chalik.

Jadi Khofifah sampai hari ini masih balapan sendirian di trek Cagub Jatim? “Saya rasa iya. Tapi hati-hati ketika dia balapan sendirian, biasanya risikonya cukup besar. Ketika dia tidak mampu, misalnya menyiapkan amunisi, instrumen lainnya, ya namanya kendaraan kadang-kadang urusan busi saja tidak tuntas itu bisa jeblok. Itu sangat dinamis,” paparnya.

Lantas, siapa yang bisa mengalahkan Khofifah? Prof Chalik yakin banyak. Bisa jadi orang PKB atau orang yang memang didukung PKB, tetapi memiliki hubungan dan irisan yang cukup kuat dengan PKB.

  • KURSI PARPOL JATIM HASIL PILEG 2024
    1. PKB 27 kursi (sebelumnya 25 kursi)
    2. PDIP 21 kursi (27)
    3. Gerindra 21 kursi (15)
    4. Golkar 15 kursi (13)
    5. Demokrat 11 kursi (14)
    6. Nasdem 10 kursi (9)
    7. PAN 5 kursi (6)
    8. PKS 5 kursi (4)
    9. PPP 4 kursi (5)
    10. PSI 1 kursi (0)
    Hanura 0 (1)
    PBB 0 (1)

“Ada beberapa nama yang menurut saya cukup potensial. Misalnya Mas Anwar Sadad. Perlu dipahami, bahwa Sadad itu pernah di PKB, PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama), kemudian sekarang di Gerindra,” katanya.

Selain itu, Sadad memiliki basis yang sama dengan PKB, yakni pesantren, warga NU (Nahdliyin), PMII, kemudian kalangan perdesaan.

“Tinggal nanti Pak Prabowo. Bisa jadi ini cuma enggak ada yang tahu. Jangan-jangan, Gerindra di pusat itu sudah deal dengan Cak Imin. Jangan-jangan seperti itu,” nilainya.

“Termasuk bagian dari kontrak politik, ketika Cak Imin ditarik, diminta menjadi bagian dari koalisi. Misalnya kemudian Cak Imin dengan syarat asal calon Gubernur Jatim itu diperkenankan akan diusung oleh PKB, kader PKB atau kader Gerindra. Itu kan possible semuanya, hanya nunggu waktu.”

Bukankah Gerindra sudah memberikan rekomendasinya ke Khofifah? “Rekom itu kan bukan Al Qur’an. Dalam banyak kasus, saya tidak terlalu percaya itu. Ini politik. Itu kan bukan hasil Rapim yang ditungkan dalam bentuk SK,” kata Prof Chalik.

“Seingat saya di dalam aturan Gerindra itu, calon gubernur harus melalui Rakernas. Lha itu kan cuma penugasan, siapa pun kan bisa ditugasi. Bukan atas dasar Rakernas, biasanya kan ada Rakernas, lalu ditunjuklah di masing-masing daerah, habis itu kemudian di SK-kan,” imbuhnya.{*}

| Baca berita Pilgub Jatim. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.