Sambut Muktamar, Gus Hans: NU Butuh Rais Aam dan Ketum PBNU Bersih dari Konflik!

Reporter : -
Sambut Muktamar, Gus Hans: NU Butuh Rais Aam dan Ketum PBNU Bersih dari Konflik!
HARAPAN BARU: Gus Hans, harap nakhoda baru NU orang-orang yang bersih dari konflik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY

SURABAYA | Barometerjatim.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) digelar 1-5 Agustus 2026. Sekjen Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok, KH Zahrul Azhar Asumta berharap forum tertinggi yang puncaknya memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU tersebut menjadi penentu di abad kedua NU mau diarahkan ke mana.

“Maka kita butuh sosok yang sejuk, santun, berisi, berilmu, memiliki jiwa wira’i (menjaga diri dari dosa) yang sangat tinggi,” kata kiai muda Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang yang akrab disapa Gus Hans tersebut, Kamis (7/5/2026).

Muktamar kali ini, lanjutnya, juga menjadi momentum untuk mengubah drastis dari kepengurusan saat ini yang diwarnai konflik menjadi kepengurusan yang jauh lebih baik. Kepengurusan yang fokus pada keumatan, fokus pada kebangsaan, serta tidak fokus pada diri sendiri dan kelompok masing-masing.

Karena itu kandidat yang muncul dan dicalonkan, baik untuk posisi Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU, hendaklah bersih dari konflik di kepengurusan saat ini.

“Yang paling bagus di Muktamar ini sudah tidak lagi dimunculkan semua orang yang telah membuat konflik, sehingga kita mewujudkan NU yang baru, NU yang betul-betul mengawali di abad kedua ini,” ucap Gus Hans.

“Mudah-mudahan muktamirin, para pemilik suara di NU, menggunakan hati nurani untuk bisa memilih siapakah tokoh-tokoh tersebut,” sambungnya.

Gus Hans mengharapkan, untuk posisi Rais Aam PBNU terpilih adalah orang yang betul-betul memiliki wira'i yang sangat tinggi, keilmuan yang sangat tinggi. Setiap pidatonya, setiap ucapannya, bisa menjadi buku bagi pegangan Nahdliyin di kemudian hari.

Lalu untuk Ketua Umum PBNU, Gus Hans menginginkan yang terpilih adalah seorang organisatoris yang fokus untuk membina warga NU di mana saja.

“Tidak fokus untuk kepentingan pribadinya, dan saya yakin muktamirin bisa memilih sosok-sosok tersebut,” ujarnya.

Pun demikian dengan kepanitiaan. Diharapkan tidak melibatkan orang-orang yang sedang berkonflik, sehingga bisa meminimalisir terjadinya konflik kepentingan di antara isi dan pelaksanaan Muktamar.

“Kalau misalnya masih melibatkan orang-orang yang berkonflik, maka saya tidak begitu optimis pelaksanaan Muktamar ini bisa kembali murni seperti harapan kita. Jangan lupa mereka harus ingat dari ibu kandungnya, yaitu pesantren,” pungkasnya.{*}

| Baca berita Muktamar NU. Baca tulisan terukur Roy Hasibuan | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.