PKB Dinilai Tak Diam di Muktamar ke-35 NU, Siapkan 4 Figur Pengganti Gus Yahya!

Reporter : -
PKB Dinilai Tak Diam di Muktamar ke-35 NU, Siapkan 4 Figur Pengganti Gus Yahya!
TAK DIAM: Muhaimin Iskandar, dinilai siapkan 4 figur Ketum PBNU pengganti Gus Yahya. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA | Barometer Jatim – Dinamika politik internal Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat jelang Muktamar ke-35. Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung Barat, Asep Hidayatul Muttaqin mensinyalir ada 'operasi senyap' dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk memengaruhi kontestasi kepemimpinan PBNU.

Tujuannya untuk mengembalikan relasi NU-PKB ke pola yang lebih harmonis, sebagaimana khittah awal berdirinya partai tersebut. Apalagi PBNU era KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) diwarnai ketegangan dengan PKB di bawah Muhaimin Iskandar (Cak Imin), dinilai memicu upaya konsolidasi diam-diam dari kalangan kiai yang dekat dengan PKB.

“Secara politik, PKB tidak mungkin pasif. Mereka membaca bahwa kepemimpinan PBNU saat ini cenderung menjauh dari basis politik historisnya. Maka wajar jika muncul upaya menyiapkan skenario beberapa figur alternatif untuk Muktamar ke-35 NU yang sesuai dengan kepentingan politik PKB,” ujar Asep dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).

Menurut Asep, terdapat empat nama yang kerap dibicarakan dalam diskursus akar rumput NU sebagai representasi kepentingan yang lebih dekat dengan PKB. Siapa saja mereka?

1. KH Abdul Salam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pesantren Denanyar, Jombang ini dinilai memiliki legitimasi kultural kuat sebagai cucu muassis NU dan paman dari Cak Imin. Dia dikenal vokal mengkritik arah kepemimpinan PBNU saat ini.

Gus Salam mewakili suara kiai sepuh yang ingin PBNU kembali lebih akomodatif terhadap aspirasi politik warga NU,” nilai Asep.

2. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang ini disebut sebagai figur perekat yang memiliki jaringan luas. Mundurnya Gus Yusuf dari struktur DPW PKB Jawa Tengah dibaca sebagai manuver strategis menjelang Muktamar.

“Gus Yusuf punya modal sosial besar. Ia bisa diterima lintas kubu dan dianggap mampu meredakan polarisasi internal,” ucap Asep.

3. KH Imam Jazuli
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon ini dikenal sebagai orang dekat elite PKB dan ideolog partai. Dia paling vokal membela PKB saat dimarginalkan PBNU periode Gus Yahya. 

Jargon "Nahdliyin 24 Karat" adalah idenya, yang merujuk pada prinsip bahwa warga NU sejati seharusnya memilih PKB. Dia secara tegas menolak politisasi PBNU yang menggembosi PKB.

“Bagi Kiai Imam Jazuli, PBNU harus berfungsi sebagai civil society, sementara PKB menjadi rumah politik Nahdliyin. Keduanya tidak boleh saling mengooptasi, tetapi berjalan paralel secara profesional,” papar Asep.

4. KH Zulfa Mustofa
Wakil Ketua Umum PBNU ini, dinilai sebagai figur jembatan yang diterima di struktur jamiyah namun tetap memiliki simpati terhadap PKB. Kedekatannya dengan jaringan partai dan statusnya sebagai keponakan KH Ma’ruf Amin membuatnya sering disebut sebagai 'kuda hitam'.

Gus Zulfa memiliki posisi unik. Ia orang dalam PBNU tetapi tidak berjarak dengan PKB. Ini menjadikannya figur kompromi yang potensial,” kata Asep.

Lahir dari 'Rahim' NU

Asep menilai manuver ini bisa dibaca melalui pendekatan teori pertukaran sosial. PKB merasa kontribusinya terhadap NU tidak mendapat balasan proporsional, sehingga misi mengubah konfigurasi kepemimpinan PBNU ke depan secara sistemik mulai dilakukan.

Dia juga mengingatkan bahwa PKB lahir dari rahim PBNU pada 1998 melalui surat tugas resmi organisasi. “Secara historis, PKB adalah anak kandung NU. Karena itu, relasi keduanya semestinya bersifat simbiotik, bukan antagonistik,” tegasnya.

Menurut Asep, konflik internal PBNU yang melahirkan dikotomi “Kelompok Sultan” dan “Kelompok Kramat” semakin menguatkan narasi, bahwa Muktamar ke-35 bukan sekadar pemilihan ketua umum melainkan penentuan arah politik NU ke depan.

“Muktamar ini akan menentukan apakah PBNU kembali menjadi pengayom seluruh warga Nahdliyin, termasuk PKB, atau justru menjaga jarak yang semakin lebar,” ujarnya.

Asep menilai kombinasi kekuatan empat figur tersebut, yakni legitimasi nasab, jaringan kultural, basis ideologis, dan posisi struktural, menjadikan skenario 'operasi senyap' ini masuk akal secara politik.

Ditambah juga memunculkan paket Rais Aam yang sesuai dengan aspirasi PKB, KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siraj dan KH Kafabihi Mahrus.

“Bukan tidak mungkin, menjelang injury time Muktamar, keempatnya mengerucut pada satu nama kompromi, skema bergerak dari semua penjuru, bermuara pada satu titik. Di situlah pertarungan sesungguhnya akan terjadi,” ujarnya.{*}

| Baca berita PKB. Baca tulisan terukur Roy Hasibuan | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.