Opini Gus Hans: Supremasi AHWA Jaga Marwah Organisasi Melalui Keteladanan Ulama

Reporter : -
Opini Gus Hans: Supremasi AHWA Jaga Marwah Organisasi Melalui Keteladanan Ulama
KH Zahrul Azhar As'ad | Foto: Barometerjatim.com/Dok

Oleh: KH Zahrul Azhar As'ad SIP, MKes*

DALAM tata kelola organisasi keagamaan, sistem pengambilan keputusan sering kali menghadapi tantangan polarisasi dan benturan kepentingan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, konsep Supremasi AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) hadir sebagai solusi konstitusional tertinggi. 

Supremasi AHWA menempatkan sekumpulan ulama pilihan sebagai pemegang otoritas absolut dalam menentukan arah strategis dan memilih pemimpin organisasi. 

Namun, legitimasi mutlak dari Supremasi AHWA ini tidak akan berjalan efektif tanpa adanya syarat moral yang mengikat: seluruh anggota AHWA wajib diisi oleh ulama yang mampu menjadi uswatun hasanah -- figur yang santun dan steril dari konflik.

Supremasi AHWA didesain untuk mencabut akar politik transaksional dan perebutan kekuasaan yang sering merusak ukhuwah. Ketika mandat penuh diberikan kepada AHWA, maka nasib organisasi berada di tangan dewan ulama tersebut. 

Di sinilah letak urgensi mengapa karakter anggotanya menjadi sangat krusial. Jika dewan yang memiliki supremasi ini diisi oleh figur yang gemar berkonflik atau memiliki tendensi kepentingan pribadi, maka keputusan yang lahir akan cacat secara moral. 

Sebaliknya, ketika AHWA diisi oleh ulama yang dikenal santun, arif, dan sejuk, maka supremasi lembaga tersebut akan dihormati sepenuhnya oleh seluruh jajaran pengurus dan jamaah di akar rumput.

Kesantunan seorang ulama di dalam sistem Supremasi AHWA adalah pilar stabilitas organisasi. Ulama yang santun memiliki kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, dan merumuskan solusi tanpa menciptakan luka politik. 

Dalam ruang sidang AHWA, perdebatan argumen diselesaikan dengan metodologi fiqih dan akhlak yang luhur, bukan dengan otot politik atau pemaksaan kehendak.

Ketiadaan rekam jejak konflik pada anggota AHWA memastikan bahwa musyawarah yang dilakukan murni didasarkan pada prinsip kemaslahatan umat (mashlahah al-ammah), sehingga produk keputusan yang dihasilkan bersifat mengikat dan berwibawa.

Lebih jauh, Supremasi AHWA yang ditopang oleh keteladanan akhlak akan melahirkan budaya sam'an wa tha'atan (mendengar dan patuh) yang sehat. Umat akan dengan sukarela menerima dan menjalankan keputusan AHWA karena mereka percaya pada integritas pribadi para anggotanya.

Keteladanan yang ditunjukkan oleh Dewan AHWA yang damai akan menular ke tingkat wilayah hingga ranting, menciptakan iklim organisasi yang teduh dan jauh dari kegaduhan publik. Ini adalah benteng pertahanan terbaik dalam menjaga persatuan organisasi dari badai fitnah dan perpecahan internal.

Secara keseluruhan, Supremasi AHWA bukan sekadar urusan memindahkan kedaulatan organisasi ke tangan segelintir orang, melainkan upaya menjaga kesucian gerak dakwah. Supremasi ini hanya akan berdaya guna jika pilar utamanya adalah para ulama yang mampu menjadi teladan dalam kesantunan dan kedamaian. 

Dengan memastikan AHWA bersih dari anasir konflik dan ambisi pribadi, organisasi akan tetap tegak berdiri sebagai mercusuar moral yang membimbing umat menuju kemaslahatan dunia dan akhirat.{*}

*KH Zahrul Azhar Asumta SIP, MKes alias Gus Hans adalah Sekjen Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok 

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke redaksi.barometerjatim@gmail.com. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya. 

| Baca berita terkait Gus Hans. Baca OPINI terukur | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.