Atasi Kendala Bantuan Warga Miskin, Pemkot Surabaya Pakai Jurus Brida STEP!

Reporter : -
Atasi Kendala Bantuan Warga Miskin, Pemkot Surabaya Pakai Jurus Brida STEP!
JURUS BARU: Brida STEP, petakan bantuan yang diberikan ke gakin sesuai dengan kebutuhan. | Foto: Pemkot Surabaya

SURABAYA | Barometerjatim.com – Pemkot Surabaya, melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), terus mematangkan langkah strategis dalam menanggulangi kemiskinan secara tepat sasaran. 

Melalui inovasi program Brida STEP (Surabaya Talent Entrepreneurial Path), Pemkot kini memetakan potensi dan karakteristik warga miskin (gakin) agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kapasitas serta kebutuhan masing-masing individu.

Kepala Brida Surabaya, Agus Imam Sonhaji mengungkap selama ini banyak program pemberdayaan seperti Rumah Padat Karya (RPK), Sentra Wisata Kuliner (SWK), hingga pemberian bantuan modal menghadapi kendala operasional akibat pendekatan seragam tanpa asesmen awal.

“Selama ini kita tidak pernah mengases atau membedakan kapasitas setiap warga. Semua disamaratakan, misalnya diberi rombong atau modal, tetapi besoknya bantuan justru tidak berjalan,” kata Agus, Jumat (24/7/2026).

“Ternyata warga kurang mampu itu harus kita pisahkan, mana yang punya potensi dan semangat kerja, serta mana yang butuh pendampingan mental dan motivasi terlebih dahulu," sambungnya.

Dibagi Empat Kelompok

Agus menandaskan, berdasarkan penelitian awal bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) menggunakan metode slovin terhadap 448 responden di 30 kecamatan di Surabaya, pihaknya membagi kapasitas warga ke dalam empat kelompok.

Kelompok pertama adalah warga yang membutuhkan penumbuhan motivasi, dorongan mental, dan pembinaan sikap kerja mendasar. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari warga yang siap bekerja dengan arahan atau bersifat mengikut (follower).

“Kelompok ketiga ialah pekerja mandiri yang tangguh dan memiliki kedisiplinan tinggi. Terakhir kelompok keempat merupakan calon pemimpin yang siap diarahkan menuju jenjang wirausaha (entrepreneurship),” jelasnya.

Bagi warga yang masuk pada kelompok 3 dan 4, terang Agus, Pemkot Surabaya akan mengarahkan mereka pada program wirausaha lanjutan dengan menggandeng berbagai perguruan tinggi bisnis seperti Universitas Ciputra (UC), Universitas Surabaya (Ubaya), ITS, dan Unair.

Sedangkan bagi kelompok 1 dan 2, pendekatannya difokuskan pada aspek psikologis dan pembenahan mentalitas kerja terlebih dahulu.

Nah, untuk mengukur mentalitas dan konsep diri warga secara akurat, asesmen Brida STEP memanfaatkan tiga alat ukur psikologi, yaitu tes tipi (kepribadian), tes grit (konsep diri dan daya tahan), serta tes kewirausahaan.

Diuji di Pekerja Paving

Saat ini, kata Agus, Brida STEP sedang memasuki tahap uji coba sistem dan lapangan. Uji coba perdana telah dilakukan terhadap 77 pekerja RPK Paving di Surabaya. Dalam uji coba tersebut, ditemukan tantangan teknis seperti keterbatasan kepemilikan tenggat perangkat digital (smartphone) serta tingkat literasi warga.

“Temuan di lapangan menjadi bahan evaluasi penting. Sistem Brida STEP nantinya akan dijalankan secara hibrida, baik berbasis laman web (website) maupun lembar fisik (cetak) untuk mengakomodasi warga yang tidak memiliki gadget atau membutuhkan panduan khusus," jelasnya.

Setelah tahap uji coba sistem dan skema inkubasi berbasis psikologi selama lima minggu ini dinyatakan andal (reliable), hasil riset Brida STEP akan diintegrasikan ke dalam sistem informasi dinas terkait, seperti Si Asik milik Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) serta Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya.

“Ke depan, kami juga akan merangkul fakultas psikologi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Surabaya seperti Ubaya, UINSA, dan kampus lainnya, untuk berbagi peran dalam mengawal pembinaan mental warga di tingkat RPK maupun SWK sesuai keunggulan masing-masing akademisi,” ucap Agus.{*}

| Baca berita Pemkot Surabaya. Baca tulisan terukur Andriansyah | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.